Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • Selat Hormuz Lumpuh, Ketika Asuransi, Bukan Meriam, Menghentikan Aliran Energi Dunia

    02 Mar 2026 | Dilihat: 12 kali

    RILISID, nasional — Oleh Riri Satria

    Ada momen ketika berita geopolitik tak lagi terasa jauh, tak lagi sekadar peta dan angka. Pagi tadi, 1 Maret 2026, saya membaca kabar tentang Selat Hormuz dan merasakan sensasi yang ganjil, campuran cemas, marah, dan pasrah. Bukan karena ledakan besar yang terlihat di layar, bukan pula karena gambar kapal tanker terbakar. Justru karena tidak ada apa-apa yang bergerak, dan di balik kesunyian itu, ekonomi dunia mulai tersedak.

    Selat Hormuz selalu disebut sebagai jalur vital, di mana sekitar seperlima minyak dunia dan seperlima LNG global melintas di sana. Tapi hari ini, makna “vital” itu terasa sangat personal. Bukan karena Iran yang menanam ranjau. Bukan kapal yang diserang. Jalur itu lumpuh karena satu kata yang jarang mendapat sorotan emosi, yaitu asuransi. Premi risiko perang melonjak brutal, polis dibatalkan, kapal tak bisa berlayar, minyak tak mengalir, dunia menahan napas bahkan tersedak. Itu dia kekhawatiran kita!

    Harga minyak memang masih tercatat “rasional” di layar, di mana Brent di kisaran USD 72,25–72,52 per barel dan WTI di sekitar USD 66,2–66,56. Tapi angka-angka itu terasa seperti ketenangan palsu. Para analis sudah memperingatkan lonjakan instan USD 10–20 per barel jika penutupan total berlanjut. Dalam skenario terburuk, harga bisa menembus USD 100 bahkan USD 110 per barel. Ini bukan spekulasi liar, melainkan kalkulasi dingin dari risiko yang mengerikan.

    Satu hal yang membuat saya tercekat adalah detail-detail kecil yang jarang masuk headline media. Risiko perang dasar 0,25 persen dari nilai kapal. Untuk tanker senilai USD 100 juta, itu berarti USD 250.000 atau sekitar 4,2 miliar rupiah untuk sekali lewat. Dalam eskalasi tinggi, polis bisa tembus USD 1 juta per pelayaran. Kapal yang terkait Amerika Serikat atau Israel bahkan tak bisa diasuransikan sama sekali. Tanpa asuransi, tak ada pelayaran. Tanpa pelayaran, minyak berhenti. Sejak 28 Februari, kapal-kapal berputar balik, berhenti, menunda, atau mengalihkan rute. Bukan karena takut ditembak, tetapi karena takut bangkrut.

    Di sinilah saya menyadari sesuatu yang getir, dalam perang modern, bukan hanya rudal dan kapal induk yang menentukan hasil. Angkatan laut bisa berjaga, rudal bisa siaga, tetapi tidak ada senjata yang mampu memaksa perusahaan asuransi menurunkan premi. Tidak ada armada yang bisa memaksa pasar untuk “merasa aman”. Lloyd’s dan jejaring asuransi global menimbang risiko dengan bahasa yang tak emosional, probabilitas, eksposur, kerugian maksimum. Dan bahasa itu lebih menentukan dan menggigit daripada dentuman Meriam atau ledakan bom.

    Ada pipa alternatif dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, tetapi kapasitasnya hanya sekitar 3 juta barel per hari, hanya setetes kecil dibandingkan arus normal sekitar 20 juta barel. Ketika pasokan global tercekik, pasar Asia pun mulai gelisah, mencari sumber di luar Timur Tengah. Ketidakpastian memaksa semua orang berpikir ulang, bahkan sebelum satu peluru ditembakkan.

    Dampaknya bagi Indonesia terasa nyata dan sangat mengkhawatirkan. Tekanan pada APBN membesar. Risiko kenaikan harga BBM non-subsidi mengintai. Biaya logistik merangkak naik, lalu menular ke harga pangan dan barang konsumsi. Inflasi yang sempat mereda bisa kembali mengetuk pintu, dan kita tahu siapa yang paling dulu merasakannya, yaitu rumah tangga, pelaku UMKM, dan kelas menengah yang napasnya sudah pendek.

    Ketika bank-bank besar mulai mengeluarkan proyeksi seperti Goldman Sachs memperkirakan USD 110 per barel, JP Morgan bahkan USD 120–130, saya tak melihatnya sebagai ramalan pasar semata. Saya melihat potensi efek domino ekooi makro yag sistmik. Maskapai merugi, ongkos perjalanan naik, inflasi global kembali menghantui, bank sentral tertekan untuk memilih antara stabilitas harga dan pertumbuhan.

    Ironisnya, Iran tak perlu menutup Selat Hormuz secara fisik. Cukup membuatnya terlalu berisiko untuk diasuransikan. Dunia modern ternyata rapuh bukan karena kekurangan senjata, melainkan karena ketergantungan pada mekanisme kepercayaan finansial. Ketika kepercayaan itu runtuh, aliran energi berhenti, dan bersama itu, denyut ekonomi global melemah.

    Membaca semua ini, saya merasa kecil, tapi juga tersadar. Barangkali pelajaran terpenting dari krisis ini adalah bahwa kekuasaan hari ini tak hanya berada di tangan negara atau militer, melainkan juga di tangan pasar, algoritma risiko, dan meja-meja rapat perusahaan asuransi. Di sanalah yang jauh dari medan tempur, perang yang paling menentukan sedang berlangsung.

    Jakarta, 1 Maret 2026

    Riri Satria adalah seorang pengamat teknologi digital dan ekonomi; dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia; Komisaris Utama sebuah BUMN di bidang Teknologi Digital; serta seorang aktivis sastra dan kebudayaan.

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture