Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • DISERTASI, PUISI, MAULIDA LALILY, DAN EMI SUY

    28 Feb 2026 | Dilihat: 30 kali

    Oleh: Riri Satria

    Beberapa hari yang lalu sahabat saya penyair Emi Suy menyampaikan kabar bahwa karya-karya puisinya dibahas secara mendalam dan dijadikan objek penelitian oleh Maulida Lalily Kusuma Waty dalam disertasi Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang

    Disertasi Doktornya berjudul "Strategi Masyarakat Agraris dalam Melestarikan Ideologi Agraris, Budaya Agraris dan Wujud Simbolisme Budaya: Studi pada Kumpulan Buku Puisi Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami, Alarm Sunyi, Api Sunyi, dan Ayat Sunyi Karya Emi Suy".

    Sidang promosi Doktor telah dilaksanakan beberapa hari sebelumnya, dan promovendus dinyatakan lulus dengan predika Cumlaude. Selamat untuk keduanya, Maulida Lalily dan Emi Suy.

    Dari apa yang saya baca, penelitian ini sangat spesifik menggabungkan sosiologi sastra dengan ekokritik. Maulida Lalily  membedah bagaimana puisi-puisi Emi Suy menjadi alat "perlawanan" atau cara bertahan masyarakat petani dalam menjaga nilai-nilai luhur mereka di tengah modernisasi.

    Ia meneliti strategi masyarakat agraris dalam melestarikan tiga elemen penting, yaitu ideologi agraris, budaya agraris, dan wujud simbolisme budaya. Bagaimana nilai-nilai agraris seperti hubungan manusia dengan tanah, pertanian, dan tradisi pedesaan, direpresentasikan dan dijaga keberlangsungannya di tengah perubahan zaman melalui simbol-simbol dalam puisi iEmi Suy tersebut.

    Saya tidak mengenal Maulida Lalily, namun saya mengenal Emi sejak 2011 dan baru mengenal lebih dekat sejak 2015. Sejak itulah saya menyaksikan dengan lebih jernih bagaimana puisinya tumbuh melalui kesetiaan yang jarang yaitu setia pada tema-tema yang tampak sederhana, setia pada bahasa yang tidak tergesa, dan terutama setia pada sunyi. Dalam dunia yang semakin bising oleh tuntutan aktualitas dan sensasi, pilihan itu bukan sikap yang mudah. Ia menuntut ketekunan dan keberanian untuk berjalan perlahan ketika banyak orang berlari.

    Sebelumnya puisi karya Emi juga pernah menjadi obyek penelitian untuk tesis S2 di Universitas Negeri Malang (2022), serta Universitas Muria Kudus (2022).

    Puisi-puisi karya Emi sering memuat tema sosial, sunyi, identitas perempuan, relasi dengan ruang budaya agraris, yang bersinggungan dengan kajian ideologi, simbolisme, dan kontekstual sejarah sosial. Mungkin hal ini membuatnya relevan sebagai objek penelitian ilmiah tingkat tinggi, seperti disertasi doktor.

    Dalam disiplin ilmu humaniora, kematangan karya dan kehadiran karya dalam ruang publik dan diskursus sastra adalah alasan yang sah untuk menjadikannya fokus penelitian doktor.

    Emi Suy, meskipun belum “ikon kanonik”, namun memiliki karya banyak dan konsisten, publikasi luas, penghargaan tingkat nasional, srta keterlibatan aktif di komunitas sastra. Ini mungkin yang membuat buku-bukunya valid dan bernilai untuk kajian akademik serius. Buku puisinya berjudul “Ayat Sunyi” mendapatkan penghargaan Anugerah Pustaka dari Perpustakaan Nasional RI pada tahun 2019 sebagai Juara Harapan III untuk kriteria buku puisi di Indonesia.

    Dalam disertasi tersebut, ada empat buku kumpulan puisi karya Emi Suy yang dijadikan objek penelitian sesuai dengen judul disertasi, yakni “Alarm Sunyi” yang terbit pada 2017 dan mengalami cetak ulang pada 2018 serta 2023, “Ayat Sunyi” (2019), “Api Sunyi” (2020), serta “Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami” (2022). Kajian pada disrtasi itu mengatakan bahwa keempat buku ini membentuk satu garis tematik yang kuat yaitu tentang agraria sebagai cara berpikir, tentang simbol-simbol domestik yang bekerja sunyi, dan tentang kesadaran manusia yang tumbuh melalui perawatan, bukan ledakan.

    Saya membaca semua buku puisi karya Emi Suy. Bahkan pada dua buku terakhir, saya berkesempatan menuliskan pengantar. Di luar itu, kami juga memiliki satu buku puisi bersama berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Kedekatan membaca dan menulis bersama ini membuat saya merasakan langsung bahwa puisi-puisi Emi bukan proyek sesaat, melainkan kerja panjang yang dibangun dengan kesadaran penuh. Setiap buku seperti satu lapisan waktu, saling menyapa dan saling menguatkan. Ibarat atletik, ini bukanlah lari ngebut atau sprint, melainkan maraton dalam berkarya.

    Disertasi itu juga menyebut ideologi agraris, simbolisme budaya, dan strategi masyarakat. Bagi saya, istilah-istilah itu menemukan bentuk nyatanya dalam puisi Emi. Agraris di sana bukan sekadar latar pedesaan atau nostalgia kampung halaman. Ia adalah cara memandang hidup. Tanah bukan objek ekonomi, melainkan ruang kesetiaan. Nasi bukan sekadar makanan, melainkan hasil dari kesabaran dan perawatan. Ibu bukan figur sentimental, melainkan pusat etika yang menopang keberlanjutan hidup.

    Waktu tidak dipercepat atau diperas, melainkan dibiarkan matang, sebagaimana nasi di dalam dandang. Di tengah dunia yang mengagungkan kecepatan dan hasil instan, puisi-puisi ini mengingatkan bahwa makna sering lahir dari proses yang lama dan nyaris tak terlihat.

    Sunyi menjadi kata kunci yang terus berulang, namun sunyi dalam puisi Emi bukan kesepian atau loneliness. Ia adalah silence, kejernihan batin yang memungkinkan seseorang mendengar suara yang tak terdengar. Dalam tradisi pemikiran yang bisa ditelusuri dari Emily Dickinson, Thomas Carlyle, hingga "The Voice of the Silence" karya Blavatsky, sunyi adalah jalan menuju pencerahan, bukan pelarian dari dunia. Bagi Emi, sunyi adalah ruang pulang. Di sanalah puisi lahir. Sunyi yang berbunyi.

    Api yang menyala dalam puisinya pun bukan api industri yang rakus dan membakar habis, melainkan api dapur yang dijaga. Api kecil, hangat, dan menentukan. Ia melambangkan energi yang dirawat, bukan dieksploitasi.

    Dalam konteks ini, puisi bekerja sebagai strategi kultural yaitu cara masyarakat agraris mempertahankan nilai, ingatan, dan kebijaksanaan di tengah arus modernitas yang kerap melupakan akar.

    Ketika puisi-puisi seperti ini dibaca dan dianalisis dalam sebuah disertasi doktor, yang terjadi bukanlah pengagungan personal terhadap penyair. Dalam dunia akademik, skripsi pada jenjang sarjana umumnya bertujuan menunjukkan kemampuan dasar mahasiswa dalam memahami dan menerapkan metode penelitian. Tesis pada jenjang magister menuntut kedalaman analisis serta posisi keilmuan yang lebih jelas.

    Sementara itu, disertasi pada jenjang doktor menuntut kebaruan dan sumbangan pengetahuan yang signifikan bagi pengembangan ilmu. Karena itulah, disertasi memperlakukan sastra bukan sekadar sebagai objek baca, melainkan sebagai sumber pengetahuan yang sah, sebagai teks budaya yang mampu menjelaskan cara manusia memahami dunia.

    Dunia sastra adalah dunia intelektual yang menuntut keseriusan, ketekunan, dan keberanian untuk terus belajar. Emi Suy telah menapaki jalan itu dengan konsisten. Sepuluh buku yang telah ia hasilkan sejauh ini bukanlah titik akhir, melainkan penanda bahwa perjalanan masih berlangsung. Saya percaya, selama Emi setia pada sunyinya, ia akan terus menemukan suara yang jujur, tajam, dan perlu didengar.

    Jika seseorang memilih puisi-puisi karya Emi Suy sebagai objek disertasi doktor, itu berarti penelitian itu berniat membawa karya sastra kontemporer ke dalam ranah studi budaya, ideologi, dan sosial; memperlihatkan kekuatan simbolik dan makna budaya di balik puisi; serta mengukuhkan puisi sebagai pengetahuan yang layak dianalisis secara mendalam dan sistematis.

    Selamat, dan teruslah berkarya untuk Emi Suy.

    -- Riri Satria ---

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture