Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • MENATAP JALAN YANG PERNAH KITA MIMPIKAN: Refleksi 30 tahun buku “The Road Ahead” karya Bill Gates

    17 Feb 2026 | Dilihat: 17 kali

    oleh: Riri Satria

    Ada buku-buku yang bukan sekadar dibaca, tetapi meninggalkan jejak, membentuk cara kita memandang dunia, bahkan menentukan arah langkah hidup kita. Bagi saya, salah satunya adalah buku "The Road Ahead" karya Bill Gates, CEO Microsoft, yang pertama kali terbit pada tahun 1995 dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul "Masa Depan Kita".

    Saya masih ingat betul kesan pertama melihat buku itu 30 tahun yang lalu atau tahun 1995. Sampulnya menampilkan potret Bill Gates muda, penuh keyakinan, dengan sebuah jalan panjang yang terbentang ke depan. Sebuah metafora visual yang kuat tentang optimisme, harapan, dan semangat untuk melangkah menuju masa depan yang belum sepenuhnya kita pahami, tetapi terasa begitu menjanjikan.

    Bagi generasi muda kala itu, terutama yang menekuni bidang ilmu komputer atau informatika seperti saya, yang baru dua tahun lulus kuliah, buku ini seolah menjadi kompas. Ia memberi bahasa bagi kegelisahan, sekaligus keberanian untuk percaya bahwa teknologi akan menjadi poros perubahan peradaban ke depannya.

    Dalam buku "The Road Ahead", Bill Gates menjelaskan bagaimana teknologi informasi yang pada masa itu ia sebut sebagai information highway atau jalur informasi akan mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Bukan hanya cara kita bekerja, tetapi juga cara kita belajar, berkomunikasi, berbelanja, dan berinteraksi sebagai masyarakat.

    Pada pertengahan 1990-an, gagasan ini terasa sangat maju, bahkan bagi sebagian orang terdengar terlalu optimistis. Namun justru di situlah daya tariknya, Gates mengajak pembacanya melampaui batas zamannya.

    Buku ini juga menawarkan pandangan tentang teknologi yang saat itu masih berupa tunas dan belum seperti saat ini, komputer yang saling terhubung secara global, perangkat pintar, video on demand, hingga sistem digital yang kelak menyatu secara nyaris tak terpisahkan dengan kehidupan sehari-hari. Buat sayam nembaca buku ini  sekarang terasa seperti membuka kapsul waktu. Banyak ide yang kala itu masih berupa sketsa imajinasi, hari ini telah menjelma menjadi realitas yang kita gunakan tanpa berpikir panjang.

    Menariknya Gates tidak hanya berbicara tentang peluang. Ia juga dengan cukup jujur mengangkat tantangan yang akan muncul bersamaan dengan kemajuan tersebut, yaitu perubahan struktur industri, transformasi pendidikan dan bisnis, serta persoalan keamanan dan privasi di dunia digital. Ia menyadari sejak awal bahwa teknologi bukan sekadar alat netral, melainkan kekuatan sosial yang membawa konsekuensi besar, baik maupun buruk sangat tergantung bagaimana manusia mengelolanya.

    Salah satu gagasan paling visioner dalam buku ini adalah prediksi bahwa teknologi akan bergeser dari sekadar alat bantu menjadi bagian integral dari kehidupan sosial dan ekonomi. Gates bahkan membayangkan adanya agen perangkat lunak yang dapat membantu pengguna secara personal, sebuah ide yang, hari ini, terasa sangat dekat dengan kecerdasan buatan (AI) dan asisten digital yang kita kenal.

    Jika dirangkum, tema utama buku "The Road Ahead" terasa sangat jelas: perkembangan teknologi digital akan menjadi kekuatan perubahan terbesar di dunia, setara dengan revolusi industri. Perangkat lunak dan informasi akan menjadi pusat gravitasi baru dalam ekonomi dan masyarakat. Teknologi akan merombak cara kita bekerja, belajar, menikmati hiburan, dan membangun relasi.

    Satu hal yang tak kalah penting, sejak 30 tahun yang lalu Gates menekankan bahwa kita wajib memikirkan implikasi sosial serta kebijakan publik dari teknologi baru, bukan hanya terpesona oleh inovasinya.

    Dua tahun setelah buku ini terbit, pada 1997 gagasan tersebut seperti menemukan resonansi yang lebih konkret. Don Tapscott menerbitkan buku "Digital Economy", buku yang untuk pertama kalinya memperkenalkan istilah ekonomi digital. Jika "The Road Ahead" memetakan jalan masa depan, maka "Digital Economy" menjelaskan dampak ekonominya secara global.

    Bagi saya, kedua buku ini saling melengkapi dan sama-sama membentuk cara berpikir saya tentang teknologi, bisnis, dan masyarakat.

    Kini setelah 30 tahun berselang, kita dapat melihat dengan lebih jernih. Banyak prediksi Gates dalam The Road Ahead seperti  video conference, media digital, hingga perangkat kecil yang sangat kuat menyerupai smartphone, telah menjadi kenyataan, meskipun tidak selalu persis seperti yang ia bayangkan. Namun esensinya tepat di mana komputasi dan jaringan teknologi digital benar-benar membentuk dunia dalam beberapa dekade terakhir.

    Salah satu pernyataan Bill Gates dalam buku ini yang terus membekas bagi saya adalah bahwa "jalan masa depan itu sebenarnya terbentang dengan jelas, tetapi tidak semua orang mampu melihatnya, apalagi memahaminya. Para pemenang adalah para petarung sejati, yaitu mereka yang bersedia menyiapkan diri, mengasah kapasitas, dan berani menempuh jalan yang belum ramai dilalui".

    Hari ini kalimat itu terasa semakin relevan. Di tengah percepatan teknologi yang kian dahsyat, tantangannya bukan lagi soal akses, melainkan kesiapan berpikir, kedewasaan etis, dan keberanian mengambil tanggung jawab. Jalan masa depan memang semakin terang, tetapi juga semakin kompleks.

    Bagi saya, buku "The Road Ahead" bukan sekadar buku tentang teknologi. Ia adalah pengingat personal bahwa masa depan tidak datang dengan sendirinya. Ia dibayangkan, disiapkan, dan diperjuangkan oleh mereka yang berani melihat lebih jauh dari zamannya sendiri, lalu melangkah dengan kesadaran penuh.

    -- Riri Satria --

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture