Riri Satria
KATEGORI
  • Terkini
  • Dokumen
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • DUA MUSEUM, DUA CARA MEMANDANG SATU LAUT INDONESIA

    15 Feb 2026 | Dilihat: 21 kali

    oleh: Riri Satria

    Jakarta sebagai kota pelabuhan menyimpan dua museum bertema kemaritiman yang kerap dianggap serupa, padahal sejatinya menawarkan cara pandang yang berbeda tentang laut dan sejarahnya. Museum Bahari Jakarta dan Museum Maritim Indonesia sama-sama berbicara tentang laut, punya semangat yang sama, tetapi lahir dari pengelola, dan tujuan yang tidak sama. Perbedaan itulah yang membuat keduanya justru saling melengkapi dalam bercerita tentang Indonesia sebagai bangsa maritim atau bangsa bahari.

    Museum Bahari Jakarta berdiri di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, menempati bangunan gudang peninggalan VOC yang sudah berusia ratusan tahun. Sejak melangkah masuk, pengunjung langsung diajak mundur ke masa lalu, ke zaman ketika laut menjadi ruang hidup, jalur pertemuan budaya, dan nadi perdagangan Nusantara.

    Koleksi yang dipamerkan didominasi oleh artefak sejarah dan budaya maritim atau bahari, model kapal tradisional dari berbagai daerah, alat navigasi kuno, senjata laut, hingga benda-benda yang merekam kehidupan masyarakat pesisir dan nelayan.

    Museum ini dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sehingga pendekatannya kental dengan misi pelestarian sejarah dan kebudayaan. Laut dalam Museum Bahari tampil sebagai ruang simbolik, tempat ingatan kolektif bangsa dibangun dari cerita pelayaran, rempah-rempah, kolonialisme, dan kearifan lokal masyarakat bahari atau maritim.

    Menariknya, walaupun Museum Bahari berada di kawasan pelabuhan bersejarah Sunda Kelapa dan pengelola museumnya adalah pemerintah daerah, hingga hari ini kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa sendiri tetap dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia atau Pelindo, sebuah fakta yang memperlihatkan persinggungan unik antara ruang budaya dan ruang operasional pelabuhan.

    Sementara itu, Museum Maritim Indonesia hadir dengan wajah yang jauh lebih modern. Museum ini dikelola oleh Pelindo dan berlokasi di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, jantung logistik nasional. Sejak awal museum ini memang tidak dimaksudkan sebagai museum sejarah tradisional, melainkan sebagai ruang edukasi tentang dunia kepelabuhanan dan kemaritiman dalam konteks industri dan teknologi.

    Di dalamnya pengunjung tidak hanya menemukan kisah masa lalu, tetapi juga narasi tentang transformasi pelabuhan, perkembangan teknologi bongkar muat, sistem logistik, serta peran pelabuhan dalam perekonomian Indonesia. Maket, diorama modern, dan tampilan audio visual digunakan untuk menjelaskan bagaimana laut hari ini menjadi bagian dari jaringan global yang kompleks dan sangat strategis.

    Melihat karakter dan fokus yang berbeda tersebut, sinergi antara kedua museum ini menjadi sesuatu yang mutlak. Keduanya sama-sama membahas Indonesia sebagai negara maritim, dengan laut sebagai halaman depan sekaligus penghubung ribuan pulau yang membentang dari barat ke timur.

    Museum Bahari Jakarta menyajikan akar sejarah dan kebudayaan maritim, sementara Museum Maritim Indonesia memperlihatkan wajah kontemporer dan masa depan pengelolaan laut dan pelabuhan. Tanpa sinergi, narasi tentang kemaritiman Indonesia akan terasa terpotong: kaya akan sejarah namun miskin konteks kekinian, atau maju secara teknologi tetapi tercerabut dari akar budayanya.

    Karena itu sudah saatnya dipikirkan sebuah paket wisata terpadu yang menghubungkan kedua museum ini dalam satu pengalaman kunjungan. Dengan mengunjungi Museum Bahari Jakarta dan Museum Maritim Indonesia secara berurutan, pengunjung dapat memperoleh perspektif laut dan ekosistem maritim Indonesia secara holistik dan komprehensif, dari perahu layar tradisional hingga derek kontainer modern, dari kisah pelaut Nusantara hingga sistem logistik global.

    Paket semacam ini bukan sekadar agenda pariwisata, melainkan juga ruang edukasi publik yang kuat untuk menegaskan kembali identitas Indonesia sebagai bangsa maritim, bangsa yang hidup, tumbuh, dan terhubung oleh laut.

    -- Riri Satria --

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture