Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Yayuk Ema
seperti yang dikisahkannya kepada penulis Dwi Anisa
Saya mengenal Riri Satria bukan hanya sebagai sosok dengan deretan gelar, jabatan, dan karya, tetapi sebagai manusia yang utuh, yang pikirannya tajam, namun hatinya tetap hangat. Menurut saya, Riri adalah pertemuan yang langka antara dunia yang sangat rasional dan dunia yang sangat perasa.
Riri Satria yang asli dari Padang, Suatera Barat adalah seorang aktivis dunia sastra di Jakarta, sebuah ruang yang mempertemukan kata, gagasan, dan jiwa-jiwa yang mencintai sastra. Puisinya telah terbit dalam beberapa buku puisi tunggal yaitu Jendela (2016), Winter in Paris (2017), Siluet, Senja, dan Jingga (2019), Metaverse (2022), serta Login Haramain (2024), dan berkontribusi dalam lebih dari 60 buku antologi puisi bersama penyair lain ddi Indonesia. Produktivitas itu bukan sekadar angka, melainkan jejak batin.
Namun Riri Satria tidak hanya hidup di dunia kata-kata. Ia juga menulis esai dengan spektrum topik yang luas, yaitu sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan, hingga penelitian. Pemikirannya terdokumentasi dalam berbagai buku kumpulan tulian esai. Ia menulis seperti orang yang benar-benar hidup di dalam gagasan-gagasan itu.
Dalam kesehariannya, Riri berada di dunia yang sangat serius. Ia adalah Komisaris Utama sebuah BUMN, dosen di Universitas Indonesia, serta penasihat ahli teknologi dan transformasi digital di berbagai kementerian, lembaga negara, BUMN, dan perusahaan swasta. Ia lulusan Ilmu Komputer Universitas Indonesia dan menempuh program doktoral di Paris School of Business, Prancis. Lingkungannya adalah data, sistem, strategi, angka, model, dan proyeksi.
Tapi justru di situlah keunikan Riri. Ia hidup di dua semesta sekaligus, yaitu semesta logika dan semesta rasa, tanpa pernah tampak terbelah. Bagi Riri, puisi adalah cara menyeimbangkan diri. Ketika hari-harinya dipenuhi analisis, rumus, grafik, dan prediksi, puisi menjadi ruang hening tempat ia mendengar suara-suara yang tak terdengar dan melihat hal-hal yang tak kasat mata. Dari obrolan kami, saya memahami bahwa puisi baginya adalah dialog batin, jalan untuk membiarkan imajinasi berjalan bebas, dan cara lain untuk memahami Semesta.
Satu hal yang membuat saya sangat menghargainya bukan hanya kepintarannya, yang memang jelas, tetapi kerendahhatiannya atau humble. Riri Satria adalah sosok yang jenius, cerdas, dan berwawasan luas, namun sama sekali tidak memancarkan kesan angkuh. Ia jauh dari sikap merasa paling tahu. Justru sebaliknya, ia sangat terbuka berdiskusi.
Saya sering bertukar pikiran dengannya tentang ekonomi kerakyatan, ekonomi mikro, UMKM, pemanfaatan internet untuk usaha kecil, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat. Setiap diskusi terasa hidup, hangat, dan setara. Ia tidak menggurui, tidak memaksakan pendapat, tetapi mengajak berpikir bersama.
Dari Riri saya belajar bahwa ekonomi bukan sekadar angka dan grafik. Ia menyentuh dapur rumah tangga, harapan orang tua, kecemasan pencari kerja, dan martabat manusia. Kebudayaan baginya bukan hiasan, melainkan cara kita memaknai hidup. Filsafat memberinya bahasa untuk bertanya, sementara puisi memberinya keberanian untuk merasakan hal-hal yang tak selalu bisa dijelaskan oleh logika.
Satu hal lagi, saya menekuni dunia piritualitas Jawa, dan inilah yang membentuk cara pandang saya terhadap kehidupan. Saya belajar menerima paradoks, memahami bahwa manusia hidup dalam lapisan-lapisan kompleks yang tidak selalu hitam-putih. Saya berani mengakui satu kenyataan yang sering disangkal banyak orang, yaitu adanya dominasi manusia atas manusia lain. Saya sama sekali tidak menutup mata terhadap relasi kuasa, baik antar manusia secara personal, maupun dalam keluarga, masyarakat, maupun negara. Ternyata, Riri sangat sependapat dengan saya. Dia mengatakan bawa disadari atau tidak, disangkal atau tidak, hal itu memang ada.
Sama dengan saya, ia meyakini kesetaraan manusia, tetapi secara jujur mengakui adanya relasi kuasa manusia atas manusia lain. Bagi sebagian orang, semua ini mungkin tampak bertentangan. Namun jika dilihat lebih dalam, justru di situlah keutuhan kesadarannya berada. Itulah awalya muncul kesenjangan sosial atar manusia. Ini kareena memang ada manusia yang memiliki lebih banyak akses, pengaruh, dan kendali dibanding yang lain.
Saya memahami betul bahwa tidak semua orang bisa memiliki usaha besar atau penghasilan tinggi. Namun kemandirian bukan soal besar kecilnya angka, melainkan tentang kemampuan berdiri di atas kaki sendiri. Dalam konteks ini, keberpihakan saya sebagai perempuan kepada perempuan, terutama single parent, dan lansia menjadi sangat jelas da didukung ole Riri Satria. Mereka bukan objek belas kasihan, melainkan subjek yang layak diberdayakan dan dihormati. Kata Riri, haru ada yag bergerak memperbaiki soal ini grassroot atau lapangan.
Sungguh, bagi saya Riri Satria adalah sahabat yang baik, pintar, rendah hati, dan lapang pikiran. Sosok yang membuktikan bahwa kecerdasan tidak harus keras, bahwa pengetahuan bisa dibagikan tanpa pamer, dan bahwa di tengah dunia yang serba cepat dan teknis, masih ada ruang untuk rasa, makna, dan kemanusiaan.
Saya kutip sebuah puisi Riri Satria di sini:
hidup itu adalah perjalanan
berteman semangat dan gairah
istirahat sejenak adalah perenungan
berteman tafakur dan keheningan
kehidupan itu merangkai kisah
yang tak pernah putusada hangat dan bahagia
ada air mata dan nestapa
ada hitam dan putih
ada siang dan malam
ada terik dan hujanhidup ibarat menulis bait puisi
yang panjang tak pernah selesai(Menulis Puisi Kehidupan, ~Riri Satria)
Terima kasih sahabatku, Riri Satria. Semoga senantiasa sehat dan bahagia di bawah payung Semesta.
- Yayuk Ema
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera