Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • Refleksi Ekonomi Digital Indonesia 2026, Ketika Angka, Algoritma, dan Manusia Saling Menatap

    23 Jan 2026 | Dilihat: 79 kali

    RILISID, nasional — Oleh Riri Satria

    Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang terbesar di Asia Tenggara. Angka ini sering dirayakan sebagai tonggak kemajuan. Namun bagi saya, ia juga memantik pertanyaan, kemajuan bagi siapa, dan sejauh mana ia menyentuh kehidupan sehari-hari?

    Indonesia hari ini adalah negeri yang nyaris selalu terhubung. DataReportal mencatat lebih dari 230 juta pengguna internet dengan penetrasi di atas 80 persen populasi, serta lebih dari 330 juta koneksi seluler aktif, mencengangkan karena angka yang melebihi jumlah penduduknya sendiri. Ternyata kita hidup dalam lapisan-lapisan konektivitas. Ponsel bukan lagi alat bantu semata melainkan ruang hidup kedua. Di titik ini saya sering merasa bahwa kita bukan hanya menggunakan teknologi, melainkan juga sedang dibentuk olehnya.

    Perubahan paling terasa mungkin terdapat pada cara kita bertransaksi. Bank Indonesia mencatat lebih dari 4,6 miliar transaksi digital dalam setahun dan memproyeksikan pertumbuhannya hampir 30 persen pada 2026. Ini didorong oleh QRIS, mobile banking, dan dompet digital. Pembayaran digital kini hadir di warung kopi pinggir jalan hingga pasar tradisional. Ada rasa haru melihat inklusi keuangan meluas. Namun ada juga kegelisahan kecil, yaitu banyak orang masuk ke sistem digital lebih cepat daripada kesempatan mereka untuk benar-benar memahaminya.

    E-commerce tetap menjadi tulang punggung. Laporan yang sama dari Bain & Company menunjukkan nilai transaksi e-commerce Indonesia diprediksi mendekati dan bahkan melampaui USD 100 miliar pada 2026 sebagai bagian dari nilai ekonomi digital Indonesia yang dipediksi akan melampaui USD 130 miliar. Pemerintah mencatat puluhan juta UMKM telah masuk ke ekosistem digital. Tetapi di balik narasi sukses itu, ada cerita yang jarang terdengar, di mana pedagang kecil yang kini harus berhadapan dengan algoritma, rating, dan ongkos promosi. Mereka tak hanya menjual produk, tetapi juga belajar bahasa baru yaitu bahasa platform digital.

    Teknologi kecerdasan buatan atau AI memberi lapisan baru dalam cerita ini. Laporan Business Indonesia dan berbagai analisis industri menunjukkan bahwa pendapatan aplikasi berbasis AI di Indonesia tumbuh lebih dari 100 persen per tahun dan ini menjadikannya salah satu yang tercepat di kawasan. AI hadir dalam rekomendasi belanja, layanan pelanggan, penilaian kredit, hingga kurasi konten media sosial. Kita hidup berdampingan dengan sistem yang belajar dari perilaku kita. Di sini refleksi menjadi penting, apakah kita masih sepenuhnya subjek, atau perlahan berubah menjadi sekumpulan data yang dipetakan?

    Namun pertumbuhan ini tidak datang tanpa bayangan. World Bank dan Bank Indonesia sama-sama menyoroti kesenjangan kualitas internet antarwilayah, kekurangan talenta digital, serta meningkatnya risiko keamanan siber. Laporan OJK bahkan mencatat peningkatan ancaman siber seiring digitalisasi sektor keuangan. Ternyata ekonomi digital bukan hanya soal ekspansi, tetapi juga soal ketahanan sistem, institusi, dan manusia yang ada di dalamnya.

    Pemerintah berupaya menyiapkan fondasi jangka panjang dengan pembangunan pusat data nasional, perluasan 5G, strategi nasional AI, hingga kesepakatan ASEAN Digital Economy Framework Agreement yang ditargetkan efektif mulai 2026. Semua ini penting dan strategis. Namun pengalaman mengajarkan saya bawa transformasi sejati tidak hanya lahir dari kebijakan dan investasi, melainkan dari kesiapan batin kolektif, yaitu kesediaan belajar ulang, keberanian mengakui ketertinggalan, dan empati kepada mereka yang tertinggal lebih dulu.

    Ketika kita berbicara tentang ekonomi digital Indonesia 2026, maka sesungguhnya kita tidak hanya sedang menimbang laju pertumbuhan, valuasi, atau posisi di peta ekonomi global. Kita sedang berhadapan dengan pilihan nilai, yaitu pilihan tentang arah, tentang siapa yang diikutsertakan, dan siapa yang mungkin ditinggalkan. Apakah ekonomi digital hanya akan menjadi panggung bagi mereka yang sudah punya akses, modal, dan literasi tinggi, atau justru menjadi jembatan bagi mereka yang selama ini berada di pinggiran? Sekejam apakah hukum survival of the fittest akan terjadi pada ranah ini?

    Pilihan nilai itu tampak dalam hal-hal yang sering kita anggap sepele, seperti cara platform memperlakukan mitranya, apakah sekadar angka performa, atau manusia dengan batas lelah dan ruang hidup. Demikian pula cara teknologi digunakan, apakah untuk mempercepat pelayanan publik dan memperluas akses pendidikan, atau hanya untuk memeras perhatian dan waktu. Lalu dalam cara negara menyusun kebijakan, apakah keberpihakan pada pertumbuhan semata, atau keberanian memastikan keadilan dan perlindungan bagi yang paling rentan di tengah arus digitalisasi.

    Jika ekonomi digital hanya berhenti sebagai statistic seperti jumlah transaksi, nilai GMV, serta tingkat adopsi, maka kita berisiko menciptakan kemajuan yang dingin. Pertumbuhan yang impresif di atas kertas, tetapi tidak selalu terasa di meja makan, di ruang kelas, atau di desa-desa yang sinyalnya masih tertatih. Di titik ini teknologi justru menjadi tembok baru, bukan jembatan, dan terus memperlebar jarak antara yang cepat beradaptasi dan yang tertinggal tanpa sempat bernapas.

    Sebaliknya ketika ekonomi digital dimaknai sebagai kualitas hidup, maka ukuran keberhasilannya menjadi berbeda. Bukan hanya seberapa besar nilainya, tetapi seberapa luas manfaatnya. Apakah petani bisa mengakses pasar dengan lebih adil? Apakah pelaku UMKM tidak sekadar “masuk platform”, tetapi benar-benar tumbuh? Apakah pekerja digital memiliki perlindungan, kepastian, dan martabat? Apakah anak-anak di daerah terpencil mendapat akses belajar yang sama dengan mereka yang tinggal di kota?

    Angka boleh terus naik, algoritma boleh makin canggih, namun algoritma selalu membawa nilai dari siapa yang merancangnya. Ia bisa dirancang untuk efisiensi semata, atau untuk keberlanjutan, untuk eksploitasi atensi, atau untuk pemberdayaan. Di sinilah peran manusia menjadi krusial, bukan sebagai objek yang dikejar datanya, melainkan sebagai subjek yang menentukan arah.

    Pada akhirnya masa depan ekonomi digital Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa mutakhir teknologinya, melainkan oleh keputusan-keputusan kecil yang konsisten, apakah kita memilih inklusi daripada eksklusivitas, keberlanjutan daripada kecepatan, dan empati daripada sekadar optimasi. Pertanyaan terpentingnya tetap sederhana, bahkan terasa kuno, yaitu apakah di tengah kemajuan yang kian digital, kita masih cukup manusiawi untuk saling mengingatkan bahwa teknologi seharusnya melayani kehidupan dan bukan sebaliknya.

    Mungkin di situlah ukuran kemajuan yang sesungguhnya bermula, karena sejauh apa pun ekonomi menjadi digital, ia tetap berpulang pada satu pertanyaan funddamenal soal ekonomi, yaitu tentang rasa, tentang makna, dan tentang siapa yang benar-benar kita ajak maju bersama.

    Riri Satria adalah seorang pengamat teknologi digital dan ekonomi; dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia; Komisaris Utama sebuah BUMN di bidang Teknologi Digital; serta seorang aktivis sastra dan kebudayaan.

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture