Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • PANTAI, TEMPAT PULANG YANG TAK PERNAH PERGI

    30 Dec 2025 | Dilihat: 14 kali

    Ada tempat-tempat tertentu yang tidak sekadar kita kunjungi, tetapi diam-diam membentuk siapa diri kita. Bagi saya, tempat itu adalah pantai. Ia bukan hanya bentang alam dengan pasir dan ombak, melainkan ruang kenangan, ruang jeda, dan ruang perenungan yang selalu setia menunggu.

    Saya tumbuh di Padang, sebuah kota di pantai Barat pulau Sumatera, di sebuah tempat yang letaknya tak jauh dari pantai. Sejak kecil, laut sudah menjadi bagian dari bahasa keseharian hidup saya. Orang tua sering mengajak kami ke pantai, bukan untuk tujuan yang rumit, kadang hanya berjalan sore, mendengar debur ombak, atau duduk menatap horizon. Saat itu saya belum mengerti, tetapi kini saya paham, mereka sedang mengenalkan saya pada kesederhanaan kebahagiaan.

    Kecintaan saya pada pantai rupanya tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh pelan-pelan, bahkan sejak saya masih duduk di bangku SMA. Pada masa itu, saya pernah melakukan penelitian kecil tentang pantai di Kota Padang untuk mengikuti Lomba Penelitian Ilmiah Remaja tahun 1987. Dengan semangat remaja dan rasa ingin tahu yang besar, saya menelusuri garis pantai dari Bungus Teluk Kabung di selatan, menyusuri Pantai Padang di tengah kota, hingga mencapai Pasir Jambak dan Muaro Penjalinan di utara.

    Perjalanan itu bukan sekadar tugas sekolah. Ia adalah pengalaman belajar yang membentuk cara saya memandang alam. Saya belajar mengamati, mencatat, dan mendengarkan, bukan hanya data, tetapi juga suara ombak, denyut kehidupan pesisir, dan perubahan lanskap yang pelan namun nyata. Tanpa saya sadari, pantai sedang mengajarkan saya tentang ketekunan, keluasan pandang, dan kesabaran.

    Hari-hari berlalu. Waktu membawa saya ke berbagai peran, kesibukan, dan tanggung jawab yang semakin padat sampai saat ini. Namun anehnya, ketika hidup terasa terlalu bising, kaki ini selalu ingin kembali melangkah ke arah pantai. Kini pantai menjadi tempat saya berhenti sejenak dari hiruk-pikuk hari yang melelahkan. Kadang saya datang sendiri sambil menikmati secangkir kopi atau kelapa muda. Kadang saya menulis puisi atau berbagai hikmah kehidupan, memotret cahaya senja, atau hanya duduk diam tanpa agenda apa pun selain bernapas lebih pelan.

    Pantai selalu menawarkan pemandangan yang sama, tetapi tidak pernah terasa membosankan. Di sana, saya menyaksikan pertemuan dua dunia, laut dan daratan. Mereka bertemu setiap saat, bersentuhan tanpa pernah benar-benar menyatu. Menariknya, mereka tidak pernah bertanya mengapa harus dipertemukan. Seolah mereka menerima takdir perjumpaan itu dengan tenang. Dari situ saya belajar bahwa tidak semua pertemuan harus berujung kepemilikan. Ada perjumpaan yang cukup dijalani sebagai harmoni.

    Tidak ada yang lebih indah daripada kegigihan laut yang menolak berhenti mencumbui bibir pantai. Ombak datang berulang kali, meski berkali-kali pula harus menjauh, terseret arus, atau pecah sebelum sampai. Namun laut tidak menyerah. Ia kembali lagi, dengan cara yang sama, dengan kesetiaan yang nyaris sunyi. Di sana saya melihat cermin kehidupan bahwa kegagalan bukan alasan untuk berhenti mencintai tujuan.

    Masalah hidup pun serupa ombak di tepi pantai. Ia datang tanpa diundang, kadang besar, kadang kecil, kadang membuat kita basah kuyup. Tetapi ombak selalu punya satu kepastian, ia akan pergi. Tak ada gelombang yang tinggal selamanya. Nah, yang sering membuat kita lelah bukanlah masalah itu sendiri, melainkan ketakutan bahwa ia tak akan berakhir.

    Laut juga mengajarkan saya tentang konsistensi nilai. Airnya pasang dan surut, wajahnya kadang tenang, kadang murka. Namun rasanya tetap asin. Ia tidak berubah. Begitu pula hidup. Dinamika boleh datang silih berganti, tetapi ada nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya tetap abadi: kejujuran, empati, cinta, dan harapan.

    Saya sadar, tidak semua orang mencintai pantai seperti saya. Ada yang lebih memilih gunung, dengan dingin dan sunyinya. Namun pada akhirnya, baik pantai maupun gunung memiliki tujuan yang sama yaitu menanti senja, menyambut indahnya matahari terbenam. Barangkali memang begitu hidup, kita berjalan di jalur yang berbeda, tetapi diam-diam menuju cahaya yang sama.

    Saya belajar satu hal penting, menyukai laut tidak harus selalu menyelam ke dalamnya. Kadang, cukup duduk di tepi pantai, membiarkan angin menyapa wajah, mendengar ombak berbicara, dan membiarkan hati perlahan-lahan pulang.

    Di situlah saya menemukan diri saya kembali, utuh, sederhana, dan damai.

    --- RS - Des 2025 ---

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • DOWNLOAD DOKUMEN

      May 17, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    RECENT EVENT

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture