Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • DIALOG BERSAMA RIRI SATRIA

    08 Jun 2026 | Dilihat: 14 kali

    Oleh Yayuk Ema Istikomah

    Karena tinggal di kota yang berbeda, kesempatan saya untuk bertemu langsung dengan Riri Satria memang sangat terbatas. Beliau menetap di Bogor, Jawa Barat, sementara saya berada di Semarang, Jawa Tengah. Dalam setahun, pertemuan kami mungkin hanya terjadi satu kali, paling banyak dua kali. Selebihnya, komunikasi terjalin melalui media sosial dan WhatsApp.

    Jarak geografis yang cukup jauh itu ternyata tidak menjadi penghalang bagi terbangunnya komunikasi yang akrab dan hangat. Percakapan yang berlangsung melalui layar telepon sering kali terasa lebih dekat daripada jarak yang sesungguhnya memisahkan kami.

    Sebagai seorang aktivis sosial yang banyak berkecimpung dalam bidang ekonomi kerakyatan, saya kerap berhadapan dengan berbagai persoalan yang tidak sederhana. Dalam situasi seperti itu, saya sering meminta pandangan atau nasihat dari Riri Satria.

    Saya memahami bahwa bidang yang saya geluti bukanlah dunia yang sehari-hari menjadi ruang aktivitasnya. Namun keluasan perspektif dan cara berpikir intelektual yang dimilikinya selalu memperkaya wawasan saya serta membantu melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.

    Kesan pertama saya ketika berdialog dengannya adalah keramahan dan kehangatan yang dimilikinya. Di balik berbagai label yang melekat pada dirinya sebagai akademisi, mantan birokrat, petinggi BUMN, serta pecinta sastra dan filsafat, saya justru menemukan sosok yang sangat mudah diajak berbincang.

    Beliau dengan senang hati menjadi pendengar yang baik bagi setiap kegelisahan maupun persoalan yang saya sampaikan. Saya sering merasa seperti sedang berkonsultasi dengan seorang konsultan yang sabar dan penuh perhatian. Belum pernah saya melihat raut wajah kesal atau tanda-tanda kebosanan ketika beliau mendengarkan berbagai cerita dan persoalan yang saya utarakan. Sikap seperti itu membuat saya merasa dihargai dan nyaman untuk berdiskusi secara terbuka.

    Kesan kedua yang sangat kuat adalah kecerdasannya. Keluasan pengetahuan, pemahaman terhadap konsep dan teori, wawasan yang beragam, serta kemampuan menghubungkan berbagai contoh nyata menjadi sebuah paket yang sangat menyenangkan bagi saya setiap kali berdialog dengannya. Hampir setiap persoalan yang saya sampaikan selalu mendapatkan tanggapan yang membuka perspektif baru.

    Saya tidak tahu persis bagaimana ia melakukannya. Mungkin ia menggabungkan pengalaman, bacaan, pemikiran filosofis, dan kemampuan analisis yang dimilikinya. Berbagai pandangannya sering kali membantu saya menemukan jalan keluar atau setidaknya cara baru dalam memahami suatu masalah. Banyak percakapan kami yang berakhir dengan lahirnya ide-ide baru yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan.

    Kesan berikutnya adalah kerendahan hati yang dimilikinya. Dengan segala pencapaian, pengalaman, dan posisi yang pernah diembannya, ia tetap menjadi pribadi yang sederhana dalam bergaul. Ia dapat berbicara dengan siapa saja tanpa memandang latar belakang sosial maupun pendidikan. Hampir tidak pernah ia memotong pembicaraan orang lain. Ia selalu berusaha mendengarkan terlebih dahulu sebelum memberikan tanggapan.

    Kemampuan mendengarkan itu menurut saya merupakan salah satu bentuk penghargaan yang tulus kepada lawan bicara. Sikap rendah hati seperti ini justru membuat ilmu dan pengetahuannya terasa semakin bernilai karena disampaikan tanpa kesan menggurui.

    Satu hal lain yang saya kagumi adalah keteguhan pendiriannya. Riri Satria merupakan pribadi yang persisten terhadap nilai, pandangan, dan prinsip yang diyakininya. Jika ia mengatakan A, maka ia akan berusaha menjalankan A. Ia bukan tipe orang yang berbicara tentang satu prinsip tetapi melakukan hal yang bertentangan dengan prinsip tersebut. Tanggung jawab terhadap ucapan dan sikapnya sangat terlihat dalam kesehariannya.

    Keteguhan itu tidak berarti keras kepala. Ia tetap terbuka terhadap berbagai pendapat dan masukan dari orang lain. Perbedaan pandangan dapat diterimanya dengan baik selama didukung oleh argumentasi yang kuat, logis, dan masuk akal. Sikap seperti itu menunjukkan keseimbangan antara keteguhan prinsip dan keterbukaan berpikir.

    Percakapan yang serius dengannya juga tidak pernah terasa membosankan karena ia memiliki selera humor yang baik. Di tengah pembahasan yang rumit dan kadang-kadang menegangkan, selalu ada saja lelucon atau komentar ringan yang mampu mencairkan suasana. Kehadiran humor tersebut tidak mengurangi kualitas diskusi. Sebaliknya, suasana menjadi lebih santai, segar, dan menyenangkan.

    Saya sering merasa bahwa kemampuan menyisipkan humor pada saat yang tepat merupakan bentuk kecerdasan sosial yang tidak dimiliki semua orang. Dialog menjadi lebih hidup dan hubungan antarmanusia menjadi lebih hangat.

    Hal terakhir yang paling berkesan bagi saya adalah kemurahan hatinya dalam berbagi ilmu dan pengetahuan. Berdialog dengan Riri Satria terkadang dapat berlangsung berjam-jam lamanya. Rasanya seperti mengikuti kuliah selama satu semester atau membaca puluhan tulisan yang tersebar di media sosial, blog pribadi, maupun berbagai media daring tempat ia menulis.

    Banyak gagasan dan pandangannya yang membuka cakrawala baru dalam cara saya memahami berbagai persoalan. Ia tidak pernah terlihat pelit dalam membagikan apa yang diketahuinya, apa yang dibacanya, maupun apa yang dipikirkannya. Semua itu dilakukan dengan tujuan agar orang lain juga dapat belajar dan berkembang.

    Kalimat yang sering saya dengar darinya adalah, “Yuk, mari kita tumbuh kembang bersama.” Kalimat sederhana itu menggambarkan semangat berbagi yang selalu ia tunjukkan.

    Selamat berulang tahun ke-56, sahabat yang baik, Riri Satria. Semoga senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan. Semoga segala cita-cita dan tujuan yang diperjuangkan dapat tercapai dengan baik. Semoga keberkahan, rahmat, dan perlindungan Allah SWT senantiasa menyertai setiap langkah yang ditempuh.

    Terima kasih atas ilmu, inspirasi, persahabatan, dan ketulusan yang selama ini telah diberikan. Semoga semangat untuk berbagi dan bertumbuh bersama terus menyala dan membawa manfaat bagi semakin banyak orang.

    (Yayuk Ema Istikomah)

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture