Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • Membaca Ulang Manusia di Tengah Mesin: Tafsir atas Gagasan Riri Satria tentang Rutinitas yang Diam-Diam Berubah

    25 Apr 2026 | Dilihat: 15 kali

    oleh: Emi Suy

    Pagi hari kita membuka mata, tetapi bukan lagi jendela yang pertama kali kita lihat melainkan layar ponsel atau smartphone. Notifikasi menjadi suara yang membangunkan kesadaran, algoritma menentukan apa yang kita baca, dan mesin perlahan menyusun ritme hari kita tanpa kita sadari. Kita bekerja dengan bantuan teknologi, berkomunikasi melalui perangkat, bahkan mulai berpikir dalam pola yang dibentuk oleh algoritma dan sistem digital.

    Rutinitas ini tampak biasa, nyaris tak terasa sebagai perubahan besar. Namun sesungguhnya, di balik kebiasaan itu, sedang berlangsung pergeseran mandala, jangan-jangan manusia tidak lagi sepenuhnya menjadi pengendali hidupnya, melainkan berbagi kendali dengan mesin.

    Dalam konteks inilah gagasan Riri Satria menemukan relevansinya. Apa yang ia uraikan tentang intelligent economy dan creative economy bukan sesuatu yang jauh atau abstrak ia sudah hidup di dalam keseharian kita. Setiap keputusan kecil yang kita ambil, setiap ide yang kita cari melalui mesin, setiap karya yang kita bantu ciptakan dengan teknologi semuanya adalah bagian dari perubahan besar itu.

    Saya menerima kiriman makalah beliau yang berjudul “Kapasitas Organisasi dan Kompetensi SDM pada Era Intelligent Economy serta Creative Economy” yang dibawakan pada sebuah konferens di Jakata pada akhir April 2026. Lalu tulisan saya ini merupakan hasil refleksi serta tanggapan saya terhadap makalah tersebut. Selalu menarik untuk menyimak pemikian Bang Riri, demikian saya biasa memanggil beliau, karena menempatan pembahasan teknologi dari perspektif kebudayaan, kemanusiaan, serta peradaban. Tiga bidang terakhir tersebut sangat menarik minat saya sebagai pencinta sastra dan kebudayaan, serta aktvis kemanusiaan.

    Perubahan zaman tidak pernah sekadar soal teknologi. Ia selalu menyelinap lebih dalam mengubah cara manusia berpikir, merasa, dan memaknai dirinya sendiri. Dalam gagasan yang disampaikan Riri Satria, kita tidak hanya diajak memahami pergeseran menuju intelligent economy dan creative economy, tetapi juga dihadapkan pada pertanyaan yang lebih sunyi: di mana posisi manusia ketika mesin mulai belajar menjadi “manusia”?

    Sejarah kecerdasan buatan yang disinggung dari mesin catur hingga kemenangan Deep Blue atas Kasparov, bukan sekadar narasi kemajuan teknologi. Ia adalah metafora tentang runtuhnya batas yang dulu kita yakini sacral bahwa ada wilayah kecerdasan yang hanya dimiliki manusia. Ketika mesin mampu berpikir, kita mulai kehilangan keistimewaan itu. Namun justru di titik kehilangan itulah, manusia dipaksa menemukan ulang dirinya.

    Riri Satria tidak berhenti pada nostalgia sejarah. Ia menunjukkan bahwa kecerdasan buatan kini telah melampaui fungsi analitik. Kehadiran generative AI menggeser teknologi dari alat menjadi mitra kreatif. Di sini persoalan menjadi lebih kompleks. Jika mesin dapat menulis puisi, melukis, bahkan membangun narasi emosional, maka apa yang tersisa sebagai “milik manusia”? Jawaban yang ditawarkan tidak eksplisit, tetapi dapat dibaca di antara lapisan gagasannya bahwa manusia tidak lagi menjadi produsen tunggal karya, melainkan kurator makna.

    Dalam skema prompting  - generating  -  finalizing, terlihat jelas bahwa proses kreatif telah berubah struktur. Mesin menghasilkan kemungkinan; manusia memilih, menafsir, dan memberi jiwa. Ini adalah pergeseran radikal. Kreativitas tidak lagi diukur dari kemampuan mencipta dari nol, tetapi dari kemampuan memberi makna pada yang sudah diciptakan bersama mesin.

    Di sinilah letak paradoksnya,semakin canggih mesin, semakin manusia dituntut menjadi lebih manusiawi, karena mesin tidak memiliki pengalaman eksistensial seperti luka, kehilangan, ingatan tubuh, dan kesadaran akan kematian. Maka kreativitas masa depan bukan sekadar soal ide, tetapi soal kedalaman pengalaman yang tidak bisa sepenuhnya ditiru algoritma.

    Perjalanan dari agriculture economy hingga intelligent economy menunjukkan bahwa nilai selalu berpindah dari tanah, ke mesin, ke jaringan, ke pengetahuan, hingga kini ke kecerdasan. Namun dalam creative economy, nilai kembali ke sesuatu yang sangat manusiawi, yaitu imajinasi.

    Ini menarik, karena di satu sisi teknologi menjadi semakin dominan, tetapi di sisi lain justru imajinasi manusia menjadi sumber nilai utama. Seolah-olah, setelah berkeliling jauh melalui mesin dan data, ekonomi akhirnya kembali ke ruang batin manusia.

    Namun ini bukan romantisme. Ini adalah tuntutan. Manusia harus memiliki kompetensi yang jauh lebih kompleks, yaitu digital, kognitif, sosial, hingga reflektif. Ia tidak cukup hanya bekerja, ia harus terus belajar, beradaptasi, dan membangun kesadaran diri. Dalam konteks organisasi, ssaat ini organisasi tidak lagi cukup stabil, ia harus lentur, bahkan cair yang disebut dalam makalah Riri Satria ebagai dynamic apabilties, berupa kemampuan menemukan bebagai solusi menjadi cara baru untuk bertahan di tengah perubahan. Menariknya, struktur ini menyerupai cara manusia menghadapi kehidupan. Artinya, organisasi modern sedang meniru manusia. Namun ironisnya, manusia sendiri sering belum cukup luwes untuk berubah.

    Perkembangan teknologi juga membawa ancaman. Deepfake menciptakan realitas yang tampak nyata tetapi palsu. Batas antara fakta dan rekayasa menjadi kabur. Di sini, kita tidak hanya menghadapi tantangan teknologi, tetapi krisis kebenaran. Tanpa kesadaran kritis, manusia dapat dengan mudah terjebak dalam realitas yang ia sendiri tidak pahami.

    Transformasi museum yang disampaikan Riri Satria menunjukkan bahwa masa depan bukan tentang mengganti masa lalu, tetapi menghidupkannya kembali dengan cara baru. Museum menjadi ruang interaktif, digital, dan imersif. Ia tidak lagi hanya menyimpan sejarah, tetapi menciptakan pengalaman.

    Dari seluruh gagasan ini, ada beberapa hal yang bisa kita petik bukan sebagai kesimpulan final, tetapi sebagai bekal hidup di masa kini dan yang akan datang.

    - Pertama, kita perlu merawat kesadaran. Di tengah dunia yang semakin otomatis, kemampuan untuk berhenti sejenak, berpikir kritis, dan mempertanyakan apa yang kita lihat menjadi sangat penting. Tidak semua yang tampak nyata adalah kebenaran.

    - Kedua, kita perlu merawat kemanusiaan kita sendiri. Ketika mesin menjadi semakin cerdas, yang membuat kita tetap relevan bukanlah kecepatan atau efisiensi, tetapi empati, pengalaman, dan kemampuan memberi makna.

    - Ketiga, kita perlu belajar terus-menerus. Dunia tidak lagi memberi ruang bagi mereka yang statis. Belajar bukan lagi fase, tetapi cara hidup.

    - Keempat, kita perlu membangun relasi dengan manusia lain, dengan teknologi, dan dengan diri sendiri. Karena masa depan tidak akan dibangun oleh individu yang terisolasi, tetapi oleh ekosistem yang saling terhubung.

    - Kelima, kita perlu menerima bahwa perubahan adalah keniscayaan. Bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dipahami.

    Menurut saya, mungkin pada akhirnya, masa depan bukan tentang manusia melawan mesin. Melainkan tentang bagaimana manusia tetap menjadi manusia di tengah dunia yang semakin menyerupai mesin.

    Jakarta, 23 April 2026

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    RECENT EVENT: 25 APRIL 2026

    NEXT EVENT: 2 JUNI 2026


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture