Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • PUISI MENJADI DOA

    19 Apr 2026 | Dilihat: 49 kali

    oleh: Riri Satria

    Ada satu momen yang sulit dijelaskan dengan bahasa biasa yaitu ketika kata-kata tidak lagi sekadar rangkaian huruf, tetapi berubah menjadi getaran batin yang hidup. Momen itu saya temukan saat menelusuri halaman demi halaman buku "Tadarus Cahaya Jiwa", sebuah antologi puisi religi setebal 560 halaman yang memuat puisi doa dari puluhan penyair di seluruh Indonesia.

    Buku itu bukan sekadar kumpulan puisi. Ia terasa seperti ruang hening yang penuh gema, tempat manusia berbicara dengan Tuhannya melalui bahasa yang paling jujur: bahasa hati.

    Dalam keheningan membaca, saya menyadari sesuatu yang sederhana namun dalam, di mana doa ternyata dapat hadir dalam bentuk puisi. Ia mengalir melalui diksi-diksi yang lembut, metafora yang halus, dan irama yang menenangkan. Justru dalam keindahan itulah, doa menemukan kedalamannya. Kata-kata yang dipilih dengan penuh kesadaran bukan hanya memperindah, tetapi juga mempertegas rasa kerinduan, ketakutan, harapan, dan kepasrahan.

    Ada satu hal yang membuat pengalaman membaca buku ini menjadi sangat personal bagi saya. Di antara puluhan suara yang hadir, terdapat 5 puisi saya sendiri yang dimuat di dalamnya. Kelima puisi itu lahir bukan dari ruang biasa, melainkan dari sebuah perjalanan spiritual yang sangat mendalam ketika saya sedang menjalankan ibadah haji di Tanah Suci pada tahun 2025 yang lalu.

    Dalam suasana yang sarat makna itu, setiap kata terasa berbeda, lebih jernih, lebih jujur, dan lebih dekat dengan sumbernya. Saya tidak sekadar menulis puisi; saya sedang berdoa melalui kata-kata.

    Puisi, dalam pengertian yang paling dalam adalah dialog batin. Ia bukan sekadar ungkapan estetika, melainkan percakapan yang berlangsung antara manusia dan sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya. Ketika seorang penyair menulis tentang cahaya, tentang luka, tentang rindu yang tak selesai, sesungguhnya ia sedang mengetuk pintu langit dengan cara yang paling personal.

    Dalam konteks ini, puisi menjadi jembatan yang menghubungkan dunia fana dengan yang abadi, yang terbatas dengan yang tak terhingga.

    Kehidupan sehari-hari sering kali terasa seperti lingkaran yang berulang, persoalan datang dan pergi, rutinitas berjalan tanpa jeda, dan manusia kerap terjebak dalam kelelahan yang tak kasatmata. Dalam situasi seperti itu, dialog dengan Tuhan menjadi kebutuhan yang tak tergantikan.

    Bukan sekadar pelarian, tetapi sebuah bentuk pengakuan bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang mengatur arah perjalanan ini. Dalam puisi, dialog itu menemukan bentuknya yang paling dalam, tanpa topeng, tanpa basa-basi.

    Saya teringat satu pemahaman klasik bahwa puisi adalah luapan spontan dari perasaan yang kuat, yang kemudian dikumpulkan kembali dalam ketenangan. Dalam ketenangan itulah, emosi yang semula liar menjadi jernih, dan kata-kata yang lahir darinya menjadi lebih bermakna.

    Ketika perasaan itu begitu pekat dan mengkristal, ia tidak lagi sekadar menjadi puisi, ia berubah menjadi doa. Sebuah percakapan yang tidak selalu membutuhkan suara, tetapi cukup dengan kesadaran yang dalam.

    Puisi adalah ciptaan ritmis dari keindahan dalam kata-kata. Ia memiliki denyut, memiliki napas, memiliki ruang jeda yang justru berbicara lebih banyak daripada kata itu sendiri. Ketika doa dibingkai dalam keindahan seperti ini, ia tidak hanya sampai, ia juga meresap. Ia tidak hanya diucapkan, juga dirasakan. Di situlah letak kekuatannya yaitu pada kemampuannya untuk menjangkau yang tak terlihat, untuk menyentuh yang tak terkatakan.

    Saya sampai pada satu kesimpulan yang sederhana namun menggetarkan bahwa bena tidak semua kata adalah doa, tetapi setiap kata memiliki kemungkinan untuk menjadi doa. Semuanya bergantung pada niat, pada kedalaman rasa, dan pada kejujuran batin yang melahirkannya.

    Ketika kata-kata itu lahir dari kesadaran akan keterbatasan diri dan harapan kepada Yang Maha Tinggi, maka ia tidak lagi sekadar bahasa, ia sudah menjadi penghambaan manusia epada Tuhannya.

    Tanpa kita sadari, kita semua adalah penyair dalam diam, yaitu menyusun kata-kata di dalam hati, merangkai harapan dalam kehenngan, dan mengirimkan doa-doa kepada Langit.

    ---- Riri Satria ----

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    NEXT EVENT: 25 APRIL 2026

    NEXT EVENT: 2 JUNI 2026


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture