Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Jadi begini Emi ... akhir-akhir ini saya sering memikirkan sesuatu yang ruwet bin mumet, namun dengan rasa ingn tahu, bagaimana jika puisi yang selama ini kita anggap sebagai suara paling intim dari jiwa manusia, ternyata bisa memiliki bayangan yang begitu mirip dengan dirinya sendiri? Bayangan itu bukan tubuh, bukan penyair, serta bukan pengalaman hidup yang […]
gadang sarawa tagak di lapangan nan indak bapangka tarang tapi andingin rami tapi kosong inyo lah ado sabalun paham ado dilempar ka hari-hari nan datang indak jo alas an pagi batanyo ka mano? siang manjawab indak tau sore mangulang tanyo nan samo malam inyo tutuik jo haniang gadang sarawa tapi langkahnyo ketek bak […]
manyalinok diam-diam bukan di tanah bukan di daun tapi di celah nan indak basuaro antara niek jo ragu inyo alah ado sabalun pikiran jadi kato sabalun hati mangaku salah inyo lah lahia dari haniang nan panjang nan indak ka tanyo asal-usulnyo kulik licin jo basisiak bukan untuak diliek tapi untuak diraso bak bayang nan […]
oleh: Riri Satria Ada satu hal yang menarik ketika membaca buku "Science and Poetry" karya Mary Midgley*. Buku ini tidak hadir sebagai manifesto yang dahsyat, juga tidak sebagai perdebatan yang meledak-ledak. Ia bergerak pelan, seperti seseorang yang sedang menyusun ulang isi sebuah ruangan yang selama ini kita kira sudah rapi, tetapi ternyata penuh dengan asumsi […]
oleh: Riri Satria Sore menurunkan dirinya seperti tirai tipis yang enggan menutup panggung sepenuhnya. Gerimis jatuh bukan sebagai peristiwa, melainkan sebagai bahasa yang lupa bagaimana harus bersuara. Ia tidak mengetuk, tidak meminta dikenali, hanya menyusup ke dalam celah-celah waktu yang retak, melunakkan tepi-tepi hari yang terlalu keras. Di sana kita duduk, membiarkan pikiran larut seperti […]
BETWEEN TWILIGHT, THE COSMOS, AND A SILENCE THAT NEVER ENDS: A NOTE FOR "SILUET, SENJA, DAN JINGGA" 2019 POETRY BOOK BY RIRI SATRIA by: Selena Fortuna Lie This time, I choose to write this reflection a little differently, in a descriptive-reflective tone, tracing the familiar rhythm of how Riri Satria writes his poems, unhurried, unforced, […]
Puisi, aku menulismu seperti menulis napas di dunia yang makin pandai menghitung segalanya ketika sains tumbuh seperti hutan logika dan teknologi berlari tanpa ingin menoleh kau tetap berjalan pelan di dalam dada menjaga sesuatu yang tak bisa diukur. Kau bukan algoritma yang rapi bukan rumus yang selesai dalam satu jawaban kau adalah getar yang […]
Aku bermimpi Depok tahun 2050 Depok tumbuh bukan sekadar kota yang penuh asap knalpot kendaraan bising dan manusia lalu-lalang dalam mimpiku Depok adalah taman gagasan tempat ide-ide muda berakar lalu bermekaran dan menjulang jadi menara cahaya. Aku membaca Depok dari kemarin, sekarang, dan akan datang dari kaboratoriu kampus ke kampus yang tak pernah tidur […]
PULANG KE CAHAYA YANG TERSISA Tanpa terasa langkah-langkah kecil kita tiba di ujung Ramadan bulan yang selalu lebih jujur daripada hari-hari lainnya, dan selalu meninggalkan ruang kosong yang tak sempat kita isi sepenuhnya. Di ambang ini aku menitipkan harap pada yang tak terlihat: semoga yang tersembunyi lebih dahulu sampai kepada-Nya daripada yang kita tampakkan. Aku […]
"Membaca Bom Waktu karya Bang Riri Satria seperti berdiri di tengah zaman yang bergerak terlalu cepat, lalu seseorang menepuk bahu kita dan berkata: “lihatlah lebih pelan.” Puisi-puisi dalam buku ini tidak sekadar berbicara tentang teknologi, ekonomi, atau kota yang tumbuh menjulang, tetapi tentang kegelisahan manusia yang hidup di dalamnya. Di antara grafik kemajuan dan cahaya […]
PAMIT DI ANTARA DUA KEABADIAN: untuk alm Papi Chaidir Anwar (1938-2012) dan alm Adinda Robby Permata (1980-2025) Aku pamit, Papi aku pamit, Robby di antara nisan yang sunyi dan daun-daun yang jatuh perlahan aku berdiri membawa sisa-sisa rindu yang tak sempat seluruhnya kuucapkan. Waktu telah mengajarkan bahwa kehilangan bukan sekadar jeda melainkan lorong panjang yang […]
Kita berjalan di jalan yang berliku menanjak, menukik tidak pernah menurut peta yang kubuat di kepala. Kenangan berpendar seperti senja yang retak di celah-celah waktu yang rapuh selalu indah, meski tak sempurna memanggilku untuk menatapnya lagi membaca ulang detik yang pernah kita lalui. Kadang langkah kita terpisah jarak memanjang tanpa permisi belokan-belokan mengejutkan seolah dunia […]
Kelihatannya buku pertama saya yang rampung tahun 2026 ini adalah buku kumpulan puisi berjudul "Bom Waktu: Kumpulan Puisi tentang Perkembangan Peradaban dan Ketimpangannya" Insya Allah akan menyusul setelahnya (sekarang masih dalam pesiapan), dua buku yang rada mumet, tentang analisis reflektif industri 5.0, ekonomi, bisnis, serta buku analisis reflektif tentang perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan. […]
Di suatu titik perjalanan berhentilah sejenak di pinggir hari menatap langit yang seperti halaman buku yang belum sempat dibaca sampai habis Kita sadar, hidup ini bukan peta yang lengkap bukan pula cerita yang sudah diberi akhir ia hanya jalan panjang yang ditaburi serpihan kata potongan kalimat kadang-kadang sebaris puisi yang tiba-tiba jatuh dari langit kesadaran […]
Masa lalu itu seperti bayangan senja ia selalu berjalan di belakang tubuhmu tetapi tidak pernah benar-benar bisa menarik langkahmu kembali Biarkan ia menjadi cerita yang selesai dibaca bukan rantai yang mengikat kaki Hari ini adalah halaman yang masih kosong dan esok adalah kertas yang belum disentuh tinta setiap pagi, dunia menaruh sepotong cahaya di telapak […]
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]