Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • KOK, KEJU SAYA HILANG?

    30 Oct 2026 | Dilihat: 14 kali

    oleh: Riri Satria

    Ada sebuah buku bisnis dan manajemen yang judulnya sangat menarik, yaitu "Who Moved My Cheese?", karya Spencer Johnson, yang diterbitkan pada tahun 1998. Buku dengan subjudul "An Amazing Way to Deal with Change in Your Work and in Your Life" ini relatif tipis, hanya sekitar 96 halaman, tetapi menyimpan pesan yang cukup mendalam tentang bagaimana manusia menghadapi perubahan.

    Menariknya, Spencer Johnson tidak menyampaikan gagasannya melalui teori manajemen yang rumit, model matematis, atau berbagai kerangka konseptual bisnis, melainkan melalui sebuah cerita perumpamaan atau business fable. Ceritanya berkisah tentang empat tokoh, dua ekor tikus bernama Sniff dan Scurry serta dua manusia kecil bernama Hem dan Haw, yang hidup di dalam sebuah labirin dan berusaha menemukan keju sebagai sumber kebutuhan dan kebahagiaan mereka.

    Suatu ketika, keju yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka tiba-tiba menghilang. Peristiwa sederhana inilah yang kemudian menjadi titik awal untuk menggambarkan bagaimana setiap individu bereaksi ketika menghadapi perubahan keadaan.

    Keju dalam cerita tersebut sesungguhnya merupakan metafora bagi segala sesuatu yang kita inginkan dan perjuangkan dalam kehidupan, seperti pekerjaan, jabatan, penghasilan, kesuksesan, pelanggan, pangsa pasar, bahkan kebahagiaan. Sementara itu, labirin menggambarkan lingkungan tempat kita menjalani kehidupan, baik dalam organisasi, perusahaan, maupun masyarakat.

    Ketika keju menghilang, Sniff dan Scurry segera bergerak mencari sumber keju yang baru. Mereka tidak terlalu lama mempersoalkan mengapa keju itu hilang. Sebaliknya, Hem justru sulit menerima kenyataan dan terus berharap keadaan akan kembali seperti semula. Haw pada awalnya juga mengalami ketakutan, tetapi kemudian menyadari bahwa bertahan dalam keadaan lama tidak akan menyelesaikan persoalan. Ia akhirnya memberanikan diri keluar dari zona nyaman dan mencari keju yang baru.

    Perbedaan reaksi keempat tokoh ini sesungguhnya menggambarkan karakter manusia ketika berhadapan dengan perubahan, ada yang mampu mendeteksi perubahan sejak dini, ada yang cepat bertindak, ada yang menyangkal kenyataan, dan ada pula yang akhirnya belajar menerima serta beradaptasi.

    Pesan utama buku ini bukan sekadar mengajarkan manusia agar mau berubah, melainkan mengajak kita memahami bahwa perubahan sering kali berlangsung tanpa menunggu kesiapan kita. Dalam dunia bisnis, misalnya, perusahaan yang pernah berjaya tidak boleh beranggapan bahwa keberhasilannya akan berlangsung selamanya. Perubahan teknologi, perilaku konsumen, munculnya kompetitor baru, dan pergeseran kebutuhan pasar dapat membuat produk yang dahulu sangat diminati tiba-tiba kehilangan relevansinya.

    Perusahaan yang terlalu nyaman dengan keberhasilan masa lalu berisiko mengalami kemunduran karena terlambat membaca perubahan. Dalam konteks ini, kemampuan mendeteksi perubahan, keberanian meninggalkan pendekatan yang tidak lagi relevan, serta kecepatan menemukan peluang baru merupakan bagian penting dari keunggulan kompetitif. Kita dapat menghubungkannya dengan konsep change management, organizational agility, dan dynamic capabilities dalam manajemen strategis.

    Namun, ada satu hal yang juga perlu dipahami, beradaptasi bukan berarti mengikuti semua perubahan secara membabi buta. Organisasi tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis untuk menentukan perubahan mana yang perlu direspons, mana yang perlu diantisipasi, dan mana yang justru harus diabaikan.

    Bagi saya, kekuatan buku ini terletak pada pertanyaan sederhana yang terkandung dalam judulnya:, Who Moved My Cheese? Ketika sesuatu yang selama ini kita nikmati tiba-tiba tidak lagi tersedia, kita sering kali sibuk bertanya siapa yang memindahkannya, mengapa keadaan berubah, atau siapa yang harus disalahkan. Padahal, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apa yang akan kita lakukan setelah keju itu tidak ada lagi.

    Kita boleh saja mengenang keberhasilan masa lalu, tetapi tidak boleh terperangkap di dalamnya. Kita boleh mempertahankan nilai-nilai yang kita yakini, tetapi harus tetap terbuka terhadap cara-cara baru untuk mencapai tujuan. Dalam kehidupan pribadi maupun organisasi, keberanian menghadapi kenyataan sering kali lebih penting daripada kenyamanan mempertahankan kebiasaan.

    Keju yang dahulu kita miliki belum tentu masih tersedia hari ini, sementara labirin kehidupan terus berubah. Jangan terlalu sibuk mencari siapa yang memindahkan keju kita. Lebih baik segera menyadari perubahan, belajar dari keadaan, dan mulai mencari keju yang baru. Itulah refleksi sederhana, tetapi sangat relevan, yang ingin disampaikan Spencer Johnson melalui bukunya.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    Hari ini pas Hari Pelindo 1 Oktober, Paltform Digital Adhara resmi dipergunakan

    HAPPY 14 ANNIVERSARY Pelindo Solusi Digital - PSD

    Next Event: Cultural Resilience Conference 2026

    Recent Event: The 3rd Annual OSH Asia’s Summit 2026

    Riri Satria On Big Thinkers Podcast

    video
    play-sharp-fill

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture