Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • MERDEKA ADALAH MEDAN PERJUANGAN

    17 Aug 2026 | Dilihat: 33 kali

    oleh Riri Satria

    Indonesia sudah merdeka. Kita telah memiliki kedaulatan untuk menentukan sendiri arah negara, arah pembangunan, visi kebangsaan, dasar negara, konstitusi, sistem hukum, serta berbagai regulasi yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Tidak ada lagi bangsa asing yang secara sah menentukan ke mana Indonesia harus berjalan. Karena itu, bagi saya, tidak ada alasan untuk terus mempertanyakan apakah Indonesia sudah merdeka atau belum. Secara historis, konstitusional, dan sebagai sebuah negara berdaulat, kemerdekaan itu adalah kenyataan yang telah kita miliki dan harus kita syukuri.

    Namun, kemerdekaan bukanlah garis akhir. Justru setelah kemerdekaan diraih, perjuangan memasuki babak yang jauh lebih panjang dan kompleks: mengisi kemerdekaan. Ketika merebut kemerdekaan, musuh terlihat jelas yaitu penjajah, kekuatan asing, dan kekuasaan yang ingin menguasai negeri ini.

    Tetapi ketika mengisi kemerdekaan, ancamannya bisa datang dari mana saja, termasuk dari dalam diri kita sendiri. Ada insider threat, korupsi, ketidakadilan, kesenjangan, kebodohan, intoleransi, penyalahgunaan kekuasaan, hingga berbagai kepentingan yang perlahan-lahan dapat menggerogoti kedaulatan dari dalam. Karena itu, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan sering kali justru membutuhkan kewaspadaan, keberanian, dan kecerdasan yang lebih besar.

    Kemerdekaan bukan jalan tol yang selalu mulus dan lurus. Di sepanjang perjalanan akan ada lubang, tikungan, jalan becek, jebakan, bahkan mungkin ular dan serigala yang menunggu di balik semak. Tetapi semua itu tidak berarti kita belum merdeka.

    Kita sudah merdeka, tetapi perjuangan belum selesai. Tugas generasi kita bukan lagi merebut Indonesia dari tangan penjajah, melainkan memastikan Indonesia yang telah merdeka ini menjadi negara yang berdaulat, adil, sejahtera, bermartabat, dan mampu berdiri tegak di tengah perubahan zaman.

    Sebab kemerdekaan bukan sekadar sesuatu yang diwariskan; kemerdekaan adalah amanah yang harus terus diisi, dijaga, dan diperjuangkan.

    Merdeka bukan berarti kita boleh berleha-leha. Kemerdekaan justru menuntut kita untuk berdiri lebih tegak, bekerja lebih keras, dan menjadi bangsa yang kompeten. Kita harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, membangun kemandirian ekonomi, menjaga kemandirian pangan, serta memiliki kemandirian teknologi agar tidak terus-menerus bergantung kepada bangsa lain.

    Kemerdekaan juga berarti memiliki kedaulatan hukum, pendidikan yang berkualitas, layanan kesehatan yang bermartabat, serta sistem sosial dan ekonomi yang berkeadilan. Sebab apa arti kemerdekaan jika sebagian rakyat masih tertinggal, kesempatan belum terbuka secara adil, dan kekayaan negeri belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan?

    Merdeka bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi kemampuan untuk membangun kehidupan yang lebih baik dengan kekuatan sendiri.

    Kemerdekaan juga berarti kemerdekaan berdemokrasi. Rakyat berhak menyampaikan pendapat, memberikan kritik kepada pemerintah, mengingatkan ketika kebijakan dianggap keliru, bahkan berbeda pandangan tanpa harus dianggap sebagai musuh negara. Kritik bukan pengkhianatan dan perbedaan pendapat bukan ancaman terhadap kemerdekaan. Justru demokrasi yang sehat membutuhkan suara-suara kritis agar kekuasaan tidak berjalan tanpa kontrol.

    Pemerintah yang kuat bukanlah pemerintah yang hanya mendengar pujian, melainkan pemerintah yang cukup percaya diri untuk menerima kritik, mengoreksi kesalahan, dan mempertanggungjawabkan setiap kebijakannya kepada rakyat. Kemerdekaan memberi kita ruang untuk berbicara; kedewasaan demokrasi menuntut kita menggunakan ruang itu dengan bertanggung jawab, berdasarkan fakta, etika, dan kepentingan bangsa.

    Karena itu, bagi saya, kemerdekaan tetap merupakan sebuah perjuangan, dan mungkin perjuangan itu tidak akan pernah benar-benar selesai. Kita sudah merdeka. Kita tidak perlu mempertanyakan lagi kemerdekaan itu.

    Nah, yang harus terus kita pertanyakan adalah apakah kita sudah mampu mengisi kemerdekaan dengan kompetensi, kesejahteraan, keadilan, kedaulatan, dan demokrasi yang sehat. Seperti semangat yang ditegaskan Bung Karno dalam "Di Bawah Bendera Revolusi", kemerdekaan bukanlah tanda bahwa perjuangan telah berakhir.

    Kemerdekaan justru menjadi titik awal bagi perjuangan berikutnya. Maka setiap 17 Agustus, pertanyaan kita seharusnya bukan lagi, “Apakah Indonesia sudah merdeka?”, melainkan: “Apa yang sudah kita lakukan agar kemerdekaan ini semakin berarti bagi seluruh rakyat Indonesia?”

    MERDEKA!! 🇮🇩 🇮🇩 🇮🇩

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    Next Event: The 3rd Annual OSH Asia’s Summit 2026

    Riri Satria On Big Thinkers Podcast

    video
    play-sharp-fill

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture