Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • REBORN MOVE ON: CATATAN PERJALANAN TRANSFORMASI DIRI YOEVITA SUKOTJO

    30 Sep 2026 | Dilihat: 7 kali

    oleh: Riri Satria

    Menjelang peringatan ulang tahun Jagat Sastra Milenia (JSM) yang ke-6 pada 10 Oktober 2026, saya ingin menulis tentang sosok salah seorang pendiri komunitas ini, Yoevita Sukotjo, yang telah meninggal dunia pada tahun 2021, tak sampai satu tahun setelah JSM didirikan. Kepergiannya tentu meninggalkan kenangan tersendiri bagi kami yang pernah berjalan bersama dalam komunitas ini.

    Salah satu jejak yang ditinggalkan Yoevita adalah sebuah buku berjudul “Reborn Move On”. Buku ini terbit pada penghujung 2017, menjelang 2018. Ini bukan buku sastra, bukan kumpulan puisi, bukan pula kumpulan cerpen. Buku ini lebih tepat dipahami sebagai kumpulan catatan harian dan kliping pemberitaan media massa yang dikumpulkan Yoevita sendiri untuk merekam perjalanan transformasi dirinya.

    Ada buku yang lahir dari imajinasi, ada buku yang lahir dari penelitian, ada pula buku yang lahir dari perjalanan hidup. “Reborn Move On” adalah buku yang lahir dari perjalanan hidup seorang manusia dalam menemukan dirinya sendiri.

    Membaca “Reborn Move On” pada akhirnya seperti mengikuti seseorang yang sedang mencari jalan keluar dari sebuah ruang yang semula terasa gelap dan tanpa arah. Yoevita merekam berbagai fase kehidupannya, termasuk kegelisahan, keraguan, usaha membangun kepercayaan diri, keberanian mencoba berbagai hal, sampai akhirnya menemukan sesuatu yang kemudian menjadi identitas dirinya.

    Ada satu ungkapan Yoevita yang menurut saya menjadi semacam benang merah buku ini yaitu “from nothing to something”. Dari sesuatu yang semula dianggapnya tidak memiliki arah, perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang mempunyai bentuk, makna, dan tujuan. Transformasi itu tentu tidak berlangsung secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari proses panjang, jatuh bangun, mencoba berbagai kemungkinan, berhadapan dengan keterbatasan diri, kemudian terus bergerak untuk menemukan siapa dirinya.

    Di situlah buku “Reborn Move On” menjadi menarik. Buku ini bukan sekadar menceritakan keberhasilan Yoevita setelah menjadi penyair. Justru yang lebih penting adalah memperlihatkan proses sebelum seseorang sampai pada identitas yang kemudian dikenal publik. Kita sering melihat seseorang ketika ia sudah menjadi “sesuatu”, tetapi jarang mengetahui bagaimana perjalanan panjang yang harus ditempuhnya sebelum sampai ke sana.

    Yoevita kemudian dikenal sebagai salah seorang penyair perempuan Indonesia. Puisi menjadi salah satu ruang penting bagi dirinya untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, pengalaman, sekaligus keberadaannya. Ia tidak sekadar menulis puisi, tetapi menemukan dirinya melalui dunia kepenyairan. Identitas itu kemudian tumbuh semakin kuat, hingga akhirnya Yoevita berada pada sebuah fase ketika namanya mulai dikenal dalam dunia sastra Indonesia.

    Namun perjalanan menuju ke sana bukan perjalanan yang ringan.

    Yoevita harus berhadapan dengan persoalan kesehatan yang berat. Berbagai komplikasi penyakit membuatnya harus menjalani cuci darah. Mobilitasnya pun kemudian banyak dibantu kursi roda. Dalam situasi seperti itu, seseorang bisa saja memilih berhenti, menarik diri, atau menyerah kepada keadaan.

    Tetapi Yoevita justru memperlihatkan karakter yang berbeda. Keterbatasan fisik tidak serta-merta membuatnya kehilangan kemauan untuk terus bergerak.

    Barangkali inilah makna terdalam dari kata “move on” dalam judul buku tersebut. Move on bukan sekadar meninggalkan masa lalu. Ia adalah kemampuan untuk terus melangkah meskipun kehidupan tidak selalu menyediakan jalan yang mudah. Ada luka yang harus diterima, ada keterbatasan yang harus dijalani, ada kenyataan yang tidak bisa diubah, tetapi manusia tetap mempunyai pilihan untuk menentukan bagaimana ia merespons semuanya.

    Karena itu, Reborn Move On sesungguhnya bukan hanya buku tentang Yoevita. Ia adalah buku tentang kemungkinan manusia untuk dilahirkan kembali melalui kesadaran terhadap dirinya sendiri.

    Transformasi tidak selalu berarti berubah menjadi orang lain. Transformasi justru bisa berarti menemukan diri sendiri yang selama ini tersembunyi. Yoevita menemukan identitasnya melalui perjalanan yang panjang. Dari seseorang yang merasa belum mempunyai arah, ia kemudian menemukan dunia kepenyairan sebagai ruang hidupnya. Dari sana lahir karya, pergaulan, pengakuan, dan sebuah nama yang kemudian dikenal dalam dunia puisi Indonesia.

    Sayangnya, ketika perjalanan kepenyairan itu sedang berada dalam fase yang sangat berarti, takdir berkata lain. Pandemi COVID-19 datang dan Yoevita akhirnya berpulang menghadap Sang Khalik pada tahun 2021. Sebelumnya, ia telah menjalani perjuangan panjang menghadapi berbagai persoalan kesehatan.

    Namun, sebagaimana yang tercermin dalam perjalanan hidupnya, ia bukan sosok yang mudah menyerah.

    Ketika membaca kembali “Reborn Move On” hari ini, buku tersebut terasa memiliki lapisan makna yang berbeda. Ia bukan lagi sekadar dokumentasi perjalanan seorang perempuan dalam menemukan identitas dirinya. Ia berubah menjadi semacam jejak kehidupan. Catatan-catatan yang dahulu mungkin ditulis untuk mengingat perjalanan, kini menjadi peninggalan bagi orang-orang yang mengenal dan mencintainya.

    Yoevita memang telah pergi. Tetapi perjalanan transformasi yang ia dokumentasikan dalam buku ini tetap tinggal. Ia meninggalkan pesan bahwa kehidupan tidak selalu dimulai dari tempat yang ideal.

    Kadang seseorang harus memulai dari keraguan, keterbatasan, kegagalan, bahkan dari perasaan nothing. Tetapi selama masih ada kemauan untuk bergerak, selalu ada kemungkinan untuk menjadi something.

    Banyak pula catatan-catatan kecil yang menarik dalam buku ini, yang sekaligus menjadi bagian dari proses perjalanan transformasi diri seorang Yoevita. Salah satunya adalah tulisan ringan tentang pengalamannya ketika berada di dalam mikrolet atau angkot. Dalam perjalanan itu, Yovita bertemu dengan seorang pengemis. Terjadi percakapan sederhana di antara mereka, tetapi dari percakapan yang tampak sepele itu Yoevita justru menemukan sebuah pelajaran kehidupan yang mendalam.

    Orang yang secara material hidup dalam keterbatasan ternyata memiliki rasa syukur yang begitu besar terhadap apa pun yang diperolehnya. Ia tidak banyak mengeluh, tetapi justru menerima kehidupannya dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan. Bagi Yoevita, perjumpaan tersebut seperti sebuah cermin. Kadang-kadang seseorang yang secara lahiriah memiliki begitu sedikit justru menyimpan kekayaan batin yang luar biasa.

    Di sinilah menariknya catatan-catatan kecil dalam buku “Reborn Move On”. Perubahan diri ternyata tidak selalu lahir dari peristiwa besar, seminar, buku-buku motivasi, atau pengalaman yang spektakuler. Ia bisa tumbuh dari sebuah perjalanan naik angkot, percakapan singkat dengan orang asing, atau perjumpaan sederhana yang kemudian direnungkan. Dari hal-hal kecil itulah Yovita belajar membaca kembali kehidupan, mensyukuri apa yang dimiliki, dan perlahan-lahan membangun cara pandang baru terhadap dirinya sendiri maupun dunia di sekitarnya.

    Pada akhirnya, mungkin itulah Reborn Move On, sebuah kesaksian bahwa manusia dapat menemukan dirinya sendiri melalui keberanian untuk terus berjalan.

    Enam tahun Jagat Sastra Milenia juga merupakan enam tahun perjalanan sebuah rumah bersama yang salah seorang pendirinya telah lebih dahulu pergi. Yoevita tidak lagi hadir secara fisik dalam setiap percakapan, pertemuan, pembacaan puisi, atau kegiatan komunitas. Tetapi nama, karya, persahabatan, dan jejak yang ditinggalkannya tetap menjadi bagian dari sejarah perjalanan Jagat Sastra Milenia.

    Menjelang 10 Oktober 2026, ketika kami kembali menghitung usia ini, saya ingin mengenang Yoevita bukan semata-mata melalui tanggal kepergiannya, melainkan melalui perjalanan hidup yang pernah ia perjuangkan.

    Al-Fatihah untuk Yoevita Sukotjo. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala kekhilafannya, melapangkan jalannya menuju keabadian, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

    Puisinya mungkin telah selesai ditulis, tetapi perjalanan hidupnya akan terus menjadi bagian dari ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya 🌷 🍁 ⭐️

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    Hari ini pas Hari Pelindo 1 Oktober, Paltform Digital Adhara resmi dipergunakan

    HAPPY 14 ANNIVERSARY Pelindo Solusi Digital - PSD

    Next Event: Cultural Resilience Conference 2026

    Recent Event: The 3rd Annual OSH Asia’s Summit 2026

    Riri Satria On Big Thinkers Podcast

    video
    play-sharp-fill

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture