Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Ada tulisan yang selesai kita baca, lalu hilang begitu saja dari ingatan. Kalimat-kalimatnya mungkin benar, strukturnya rapi, tata bahasanya baik, bahkan datanya lengkap, tetapi setelah halaman terakhir ditutup, tidak ada apa-apa yang tertinggal. Ada pula tulisan yang sederhana, bahkan tidak menggunakan kata-kata yang rumit, tetapi mampu membuat kita berhenti sejenak, merenung, atau tiba-tiba melihat sesuatu dari sudut yang berbeda.
Di situlah kita sering mengatakan bahwa sebuah tulisan mempunyai ruh. Ruh bukan sekadar keindahan bahasa, bukan pula permainan diksi yang memukau. Ruh adalah sesuatu yang membuat tulisan terasa hidup karena di dalamnya ada pikiran, pengalaman, kegelisahan, keyakinan, dan suara personal penulis.
Kata-kata hanyalah tubuhnya, ruh adalah sesuatu yang membuat tubuh itu bergerak dan berbicara kepada pembacanya. Dalam perjalanan saya menulis, saya sendiri berada di dua dunia yang saling berdekatan sekaligus memiliki karakter berbeda, yaitu dunia tulisan sastra dan dunia tulisan ilmiah. Di antara keduanya, saya juga terbiasa menulis esai reflektif dan kontemplatif. Karena itu, semakin lama saya semakin percaya bahwa apa pun bentuk tulisannya, ia tetap membutuhkan ruh.
Dalam tulisan sastra, baik berupa karya sastra maupun esai yang menggunakan pendekatan dan bahasa sastrawi, ruh sering lahir dari kedekatan penulis dengan apa yang sedang ditulisnya. Penulis tidak sekadar mengetahui sebuah peristiwa, tetapi menghayatinya. Ia mungkin pernah berada di tempat itu, merasakan kehilangan, mengalami kegembiraan, menyimpan kegelisahan, atau terlalu lama memikirkan sebuah persoalan sampai akhirnya merasa perlu menuliskannya.
Karena itu, tulisan sastra yang mempunyai ruh tidak terasa seperti kumpulan kata yang sengaja dibuat indah. Ada kehidupan di dalamnya. Ketika seseorang menulis tentang hujan, misalnya, yang sampai kepada pembaca bukan hanya gambaran tentang air yang jatuh dari langit, melainkan mungkin juga kenangan tentang rumah, seseorang yang pernah hadir, sebuah perjalanan, atau kesunyian yang tiba-tiba terasa akrab.
Demikian pula sebuah esai populer dapat membawa gagasan yang serius, tetapi disampaikan melalui narasi, deskripsi, metafora, dan refleksi sehingga gagasan itu tidak hanya dipahami oleh akal, tetapi juga disentuh oleh perasaan. Di sinilah bahasa sastrawi menemukan tempatnya, bukan untuk memperindah tulisan semata, melainkan untuk memberikan kehidupan kepada gagasan.
Hal yang sama sesungguhnya berlaku pada tulisan ilmiah, meskipun ruhnya hadir dalam bentuk yang berbeda. Tulisan ilmiah tidak perlu menjadi emosional atau puitis untuk memiliki ruh. Ruhnya terletak pada kekuatan pertanyaan, ketajaman argumentasi, kedalaman analisis, kekuatan evidensi, serta kontribusi pengetahuan yang dihasilkannya. Pengalaman saya bergerak di wilayah akademik membuat saya melihat bahwa tulisan ilmiah pun tidak boleh berhenti sebagai tumpukan data, tabel, kutipan, dan metodologi.
Di balik semua itu harus ada pikiran yang bekerja. Sebuah penelitian tentang transformasi digital, misalnya, akan terasa berbeda ketika penulis tidak berhenti pada pernyataan bahwa teknologi digital meningkatkan efisiensi organisasi, tetapi berani bertanya mengapa begitu banyak organisasi yang telah mengeluarkan investasi besar untuk teknologi justru gagal melakukan transformasi. Dari pertanyaan itulah penelitian bergerak, data dikumpulkan, teori diuji, fakta dianalisis, lalu lahirlah pemahaman baru.
Di sini ruh ilmiah bukan terletak pada indahnya kalimat, melainkan pada daya pikir yang bekerja di balik kalimat. Tulisan ilmiah yang kuat bahkan sering kali terasa tenang dan objektif, tetapi setelah membacanya kita tiba-tiba berpikir, “Jangan-jangan selama ini saya melihat persoalan ini dengan cara yang keliru.”
Pada akhirnya, pengalaman berada di dua dunia tersebut justru membuat saya melihat bahwa sastra dan ilmu pengetahuan tidak harus dipertentangkan. Keduanya memang mempunyai disiplin, tujuan, dan cara kerja yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama membutuhkan sesuatu yang membuat tulisan menjadi hidup.
Dalam karya sastra, ruh dapat hadir melalui pengalaman manusia, imajinasi, emosi, bahasa, dan kepekaan terhadap kehidupan. Dalam esai, ruh dapat tumbuh dari gagasan, kegelisahan, refleksi, serta cara penulis memandang dunia.
Dalam tulisan ilmiah, ruh hadir melalui pertanyaan yang tajam, argumentasi yang kokoh, evidensi yang dapat dipertanggungjawabkan, dan temuan yang memberi makna. Bahkan ketika sebuah tulisan ilmiah ditulis dengan bahasa yang jernih dan enak dibaca, ia tidak kehilangan sifat ilmiahnya.
Sebaliknya, ketika sebuah esai membawa gagasan yang kuat, ia tidak kehilangan sifat reflektif dan artistiknya. Jadi, mungkin yang paling penting bukan apakah kita sedang menulis sastra atau ilmu, melainkan apakah yang kita tulis benar-benar hidup. Tulisan yang memiliki ruh tidak sekadar membuat pembaca selesai membaca.
Ia membuat pembaca membawa sesuatu setelah membaca: sebuah perasaan, sebuah pertanyaan, sebuah pemikiran, atau bahkan sebuah perubahan cara memandang kehidupan. Di situlah kekuatan dahsyat sebuah tulisan sesungguhnya berada.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]