Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • DARI CATATAN HARIAN, SEJARAH PERADABAN, HINGGA KECERDASAN BUATAN

    01 Aug 2026 | Dilihat: 11 kali

    Oleh:Ā  Riri Satria

    Di atas meja di depan saya ini, tiga buku itu tampak bertumpuk dengan tenang. Ketiganya berasal dari dunia yang berbeda, tetapi menyampaikan percakapan yang saling menyambung.

    "The Journals of Sylvia Plath" mengajak kita menyelami ruang batin seorang penyair yang merekam kegelisahan, harapan, dan pergulatan kreatifnya secara jujur.

    "Sapiens" membawa kita melintasi puluhan ribu tahun sejarah manusia untuk memahami bagaimana imajinasi, bahasa, dan kemampuan bekerja sama membentuk peradaban.

    "Nexus" kemudian mengajak kita menatap masa depan ketika jaringan informasi dan kecerdasan buatan mulai mengubah cara manusia berpikir, berkomunikasi, bahkan mengambil keputusan.

    Ketiga buku itu seolah menyusun sebuah perjalanan yang utuh, yaitu perjalanan dari diri manusia, menuju masyarakat manusia, hingga menuju masa depan manusia.

    Sylvia Plath adalah menunjukkan bahwa setiap karya besar selalu berawal dari keberanian seseorang untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Catatan hariannya memperlihatkan bahwa proses kreatif bukan sekadar melahirkan puisi, melainkan juga usaha memahami kegelisahan, kegagalan, cinta, dan harapan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.

    Yuval Noah Harari kemudian memperluas cakrawala tersebut melalui Sapiens dengan menjelaskan bahwa manusia mampu membangun peradaban bukan semata-mata karena kekuatan fisik atau kecerdasan biologis, melainkan karena kemampuan menciptakan cerita, simbol, dan kepercayaan yang diyakini bersama.

    Harari melanjutkan pemikirannya dalam Nexus dengan menjelaskan bahwa cerita dan informasi kini tidak lagi hanya diproduksi oleh manusia, tetapi juga mulai dihasilkan oleh sistem kecerdasan buatan yang terus berkembang. Perubahan tersebut menandai lahirnya babak baru dalam sejarah peradaban.

    Benang merah ketiga buku itu terletak pada satu gagasan yang sangat mendasar, yaitu bahwa kehidupan manusia selalu dibentuk oleh narasi.

    Sylvia Plath membangun narasi tentang dirinya melalui catatan harian dan puisi. Peradaban manusia membangun narasi bersama melalui agama, negara, uang, ilmu pengetahuan, dan berbagai kesepakatan sosial sebagaimana dijelaskan dalam Sapiens.

    Dunia modern kini memasuki fase ketika narasi juga diproduksi oleh algoritma dan mesin cerdas atau AI sebagaimana dipaparkan dalam Nexus.

    Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis, menjaga integritas, serta mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan menjadi semakin penting agar manusia tetap menjadi subjek yang mengendalikan teknologi, bukan sekadar objek yang mengikuti arus informasi tanpa kendali.

    Ketiga buku tersebut pada akhirnya mengingatkan bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kedalaman refleksi manusia terhadap dirinya sendiri.

    Manusia memerlukan kepekaan batin sebagaimana dicontohkan Sylvia Plath, memerlukan pemahaman sejarah sebagaimana dipaparkan Harari dalam Sapiens, serta memerlukan kebijaksanaan untuk menghadapi era kecerdasan buatan sebagaimana diuraikan dalam Nexus.

    Ketika ketiga perspektif tersebut bertemu, lahirlah sebuah pemahaman yang utuh bahwa kemajuan peradaban tidak cukup diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi juga dari kemampuan manusia menjaga nurani, memelihara akal sehat, serta menggunakan pengetahuan untuk menghadirkan kehidupan yang lebih adil, lebih bermartabat, dan lebih bermakna bagi sesama.

    (1 Agustus 2026)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku ā€œApa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: ā€œJendelaā€ (2016), ā€œWinter in Parisā€ (2017), ā€œSiluet, Senja, dan Jinggaā€ (2019), ā€œMetaverseā€ (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul ā€œAlgoritma Kesunyianā€ (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: ā€œUntuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnisā€ (2003), trilogi ā€œProposisi Teman Ngopiā€ (2021) yang terdiri tiga buku ā€œEkonomi, Bisnis, dan Era Digitalā€, ā€œPendidikan dan Pengembangan Diriā€, dan ā€œSastra dan Masa Depan Puisiā€ (2021), serta ā€œJelajahā€ (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ā  Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa AlaaĀ atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Ā  oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    RECENT: KULIAH UMUM DEEPFAKE - 01 JULI 2026

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture