Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • TEKNOLOGI BUKAN MUSUH

    28 Jul 2026 | Dilihat: 13 kali

    oleh Riri Satria

    Teknologi pada hakikatnya selalu ibarat pisau bermata dua. Bahkan pisau dapur, sebuah teknologi yang sangat sederhana, dapat digunakan untuk memotong dan mengolah bahan makanan demi membantu kehidupan manusia. Namun jika disalahgunakan, pisau yang sama juga dapat melukai bahkan menghilangkan nyawa seseorang.

    Karena itu, agar teknologi dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi umat manusia, ada dua hal yang harus menyertainya, yaitu kompetensi dan etika. Teknologi yang berada di tangan orang-orang yang kompeten dan beretika akan menjadi alat yang sangat berguna untuk meningkatkan kualitas hidup, memperluas pengetahuan, dan mendorong kemajuan peradaban.

    Sebaliknya, teknologi yang berada di tangan orang-orang yang tidak kompeten dan tidak beretika berpotensi menjadi sumber masalah, ancaman, bahkan bencana bagi kehidupan sosial dan kemanusiaan.

    Contoh yang sangat jelas dapat kita lihat pada teknologi nuklir. Teknologi ini mampu memberikan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Energi nuklir dapat digunakan untuk pembangkit tenaga listrik, menjadi sumber energi bagi berbagai kebutuhan industri, serta dimanfaatkan dalam dunia kesehatan melalui teknologi pencitraan dan radiologi, termasuk berbagai perangkat yang memanfaatkan radiasi untuk diagnosis dan pengobatan penyakit. Berkat teknologi nuklir, jutaan manusia dapat memperoleh manfaat yang besar bagi kesejahteraan dan kualitas hidup mereka.

    Namun di sisi lain, teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk menciptakan senjata pemusnah massal yang mampu menghancurkan kota, merenggut jutaan nyawa, dan meninggalkan penderitaan berkepanjangan bagi umat manusia. Sejarah dunia telah menunjukkan bagaimana teknologi yang pada dasarnya netral dapat berubah menjadi alat penghancur ketika berada di tangan yang salah.

    Karena itu, sekali lagi, teknologi sesungguhnya ibarat pisau bermata dua. Persoalannya bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada manusia yang menciptakan, menguasai, dan menggunakannya. Teknologi tidak memiliki niat, tidak memiliki moral, dan tidak memiliki tujuan. Manusialah yang menentukan ke mana teknologi itu akan diarahkan: menjadi alat untuk membangun atau alat untuk menghancurkan.

    Itulah sebabnya pembangunan teknologi harus selalu disertai dengan pembangunan kompetensi dan etika. Kompetensi memastikan bahwa teknologi digunakan secara benar dan efektif, sedangkan etika memastikan bahwa teknologi digunakan untuk tujuan yang baik dan bermanfaat bagi sesama. Tanpa kompetensi, teknologi dapat menimbulkan kesalahan dan kerusakan. Tanpa etika, teknologi dapat berubah menjadi ancaman bagi kemanusiaan.

    Hal yang sama berlaku pada teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan atau AI. Di tangan mereka yang memahami cara menggunakannya secara bertanggung jawab, AI dapat menjadi sarana yang luar biasa untuk membantu manusia menyelesaikan berbagai persoalan.

    Namun, jika digunakan tanpa kompetensi dan tanpa landasan etika, AI dapat menghadirkan risiko yang merusak tatanan sosial, mengikis nilai-nilai kemanusiaan, dan mengganggu kehidupan bersama.

    Itulah sebabnya saya percaya bahwa teknologi bukanlah musuh. Teknologi adalah sahabat manusia selama berada di tangan orang-orang yang kompeten dan beretika.

    Buku ini merupakan kumpulan esai yang saya tulis sejak tahun 2023 dan telah tersebar di berbagai media massa dan media sosial. Esai-esai ini membahas transformasi digital, kecerdasan buatan, serta berbagai persoalan sosial dan ekonomi yang menyertainya.

    Melalui tulisan-tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa pembangunan teknologi saja tidaklah cukup. Kita juga harus membangun kompetensi manusia yang menggunakannya dan memperkuat etika yang menjadi penuntunnya.

    Dengan kata lain, ada tiga hal yang harus berjalan beriringan, yaitu membangun teknologi, membangun kompetensi, dan membangun etika. Ketiganya tidak dapat dipisahkan jika kita ingin menjadikan teknologi sebagai sarana untuk mencapai kemaslahatan bersama.

    Maka jawaban atas tantangan zaman bukanlah menolak teknologi, melainkan memastikan bahwa teknologi berada di tangan orang-orang yang kompeten dan beretika. Ketika teknologi, kompetensi, dan etika berjalan beriringan, maka teknologi akan menjadi sahabat umat manusia dan pendorong kemajuan peradaban. Sebaliknya, jika kompetensi dan etika ditinggalkan, teknologi secanggih apa pun berpotensi menjadi sumber malapetaka.

    Karena itu saya tetap percaya, sekarang dan di masa depan, bahwa teknologi bukanlah musuh. Teknologi adalah sahabat manusia yang harus kita arahkan bersama untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik, lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih manusiawi.

    Lalu, apa yang dimaksud dengan kompetensi dan etika?

    Kompetensi berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam memahami dan menggunakan suatu teknologi secara benar. Orang yang kompeten tahu cara kerja teknologi tersebut, memahami prosedurnya, menguasai teknik penggunaannya, mengetahui manfaat dan keterbatasannya, serta memahami risiko-risiko yang mungkin muncul.

    Dengan kata lain, kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang memungkinkan seseorang menggunakan teknologi secara efektif dan bertanggung jawab.

    Sementara itu, etika berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang patut dilakukan dan mana yang seharusnya dihindari, mana yang membawa manfaat dan mana yang mendatangkan mudarat. Etika adalah kompas moral yang membantu manusia mengendalikan dirinya sendiri ketika mengambil keputusan.

    Etika menjadi mekanisme penyaring yang membuat seseorang tidak hanya bertanya, "Apakah saya mampu melakukannya?", tetapi juga, "Apakah saya seharusnya melakukannya?"

    Kedua hal ini harus berjalan beriringan. Kompetensi tanpa etika dapat melahirkan orang-orang yang sangat cerdas dan sangat terampil, tetapi menggunakan kemampuannya untuk tujuan yang merugikan orang lain. Sebaliknya, etika tanpa kompetensi dapat melahirkan niat yang baik, tetapi tidak cukup untuk menghasilkan tindakan yang efektif dan tepat. Karena itu, keduanya tidak dapat dipisahkan.

    Dalam konteks teknologi modern, termasuk kecerdasan buatan atau AI, kompetensi membuat seseorang mampu memahami dan memanfaatkan teknologi dengan baik. Etika memastikan bahwa pemanfaatan tersebut tetap berada dalam koridor kemanusiaan, keadilan, tanggung jawab, dan kemaslahatan bersama.

    Maka sesungguhnya tantangan kita pada abad ke-21 bukan hanya menciptakan teknologi yang semakin canggih. Tantangan yang tidak kalah penting adalah membangun manusia yang semakin kompeten dan semakin beretika. Sebab pada akhirnya, masa depan tidak ditentukan oleh teknologi semata, melainkan oleh manusia yang menggunakannya.

    Karena itu, pembangunan teknologi, pembangunan kompetensi, dan pembangunan etika harus berjalan bersama. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika salah satunya tertinggal, maka keseimbangan akan terganggu. Namun apabila ketiganya tumbuh secara bersamaan, teknologi akan menjadi sahabat manusia, memperkuat peradaban, dan menghadirkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan bersama.

    Sekali lagi, teknologi bukanlah musuh kita. Ia adalah sahabat yang kita ciptakan dan kembangkan bersama untuk membantu kehidupan manusia, memperkuat peradaban, dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik. 🥰😎🍂⭐️🇮🇩

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    RECENT: KULIAH UMUM DEEPFAKE - 01 JULI 2026

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture