Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Ada buku yang sesekali kembali dibicarakan setiap kali dunia menghadapi ketegangan geopolitik atau ketika sebuah negara terjebak dalam persoalan utang luar negeri. Buku itu adalah "Confessions of an Economic Hit Man" karya John Perkins. Ketika pertama kali terbit pada 2004, buku ini segera menarik perhatian dunia karena menawarkan sudut pandang yang berbeda tentang pembangunan, investasi, dan hubungan internasional.
John Perkins yang mengaku pernah bekerja sebagai konsultan ekonomi untuk proyek-proyek berskala besar, menceritakan pengalamannya dengan gaya bertutur yang menyerupai novel politik. Ia mengajak pembaca melihat bahwa di balik angka-angka pertumbuhan ekonomi, proyek infrastruktur, dan pinjaman internasional, mungkin tersimpan kepentingan-kepentingan yang jauh lebih besar daripada sekadar pembangunan.
Saya memiliki pengalaman yang cukup berkesan terkait buku ini. Beberapa tahun lalu, saya pernah diundang oleh Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Komisariat Jakarta sebagai narasumber untuk membahas buku "Confessions of an Economic Hit Man". Diskusi tersebut dipandu oleh sahabat saya, Dr. Aviliani, seorang ekonom dan pengamat ekonomi yang telah lama dikenal publik.
Dalam forum itu, perhatian kami tidak hanya tertuju pada isi buku atau sosok John Perkins, melainkan pada gagasan yang lebih luas tentang bagaimana ekonomi dapat menjadi instrumen strategis dalam mengintevensi sebuah negara.
Saya mengemukakan bahwa di era modern, pengaruh terhadap suatu negara tidak selalu diwujudkan melalui kekuatan militer atau ancaman senjata, melainkan dapat dijalankan melalui kekuatan pemikiran ekonomi, kebijakan ekonomi, investasi, pembiayaan, perdagangan, hingga arsitektur utang. Inilah yang dalam berbagai kajian sering dikaitkan dengan konsep economic intelligence atau intelijen ekonomi, yaitu penggunaan instrumen ekonomi untuk membangun pengaruh, membaca arah kebijakan negara lain, sekaligus membentuk lingkungan strategis yang menguntungkan kepentingan nasional.
Melalui bukunya ini, Perkins memperkenalkan istilah "economic hit man", yaitu sebutan bagi para profesional yang, menurut pengakuannya, bertugas meyakinkan negara-negara berkembang untuk menerima pinjaman dalam jumlah besar demi membiayai berbagai proyek pembangunan. Di atas kertas, proyek-proyek itu menjanjikan kemajuan, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Namun Perkins berpendapat bahwa apabila proyeksi tersebut meleset dan negara penerima tidak mampu melunasi utangnya, maka utang itu dapat berubah menjadi instrumen untuk memengaruhi kebijakan politik maupun ekonomi negara tersebut. Terlepas dari apakah seluruh pengakuannya dapat dibuktikan atau tidak, gagasan tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi dapat menjadi medium untuk membangun pengaruh tanpa harus mengerahkan kekuatan militer. Persaingan antarnegara pun bergeser dari medan tempur menuju meja perundingan, ruang rapat korporasi, lembaga keuangan, dan pasar global.
Di sisi lain, buku ini juga menuai banyak kritik. Sejumlah akademisi dan ekonom mempertanyakan sebagian klaim Perkins karena dinilai tidak selalu didukung bukti yang dapat diverifikasi secara independen. Ada pula yang menganggap pengalamannya terlalu digeneralisasi sehingga seolah-olah semua proyek pembangunan internasional memiliki motif yang sama.
Kritik-kritik tersebut patut diperhatikan, sebab sebuah memoar pada hakikatnya adalah kesaksian personal, bukan laporan penelitian akademik. Namun justru di situlah letak nilai buku ini. Ia tidak menawarkan kebenaran yang harus diterima tanpa pertanyaan, melainkan mengundang pembaca untuk berpikir lebih kritis terhadap hubungan yang sering kali tidak kasatmata antara uang, pembangunan, diplomasi, dan kekuasaan.
Ketika membaca ulang buku ini di tengah dinamika ekonomi Indonesia saat ini, saya tidak dapat menghindari sejumlah pertanyaan reflektif. Nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah mengalami kenaikan pada berbagai periode, pasar keuangan menghadapi gejolak, arus modal bergerak sangat cepat melintasi batas negara, sementara persaingan ekonomi global semakin kompleks. Dalam situasi seperti ini, patutkah kita bertanya apakah mungkin terdapat berbagai aktor, baik negara, korporasi, lembaga, maupun jaringan kepentingan, yang berupaya memengaruhi arah dan ketahanan ekonomi Indonesia melalui instrumen-instrumen ekonomi yang sah secara formal?
Pertanyaan ini bukanlah tuduhan bahwa Indonesia sedang menjadi sasaran economic hit man sebagaimana digambarkan John Perkins, karena hal tersebut memerlukan bukti yang kuat dan tidak dapat disimpulkan hanya dari dinamika ekonomi yang terjadi. Namun, sebagai sebuah latihan berpikir strategis, pertanyaan semacam ini justru penting diajukan agar bangsa ini semakin waspada terhadap berbagai bentuk persaingan ekonomi yang berlangsung di balik layar.
Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi kekuatan ekonomi baru di kawasan Asia Pasifik. Bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, letak geografis yang strategis, besarnya pasar domestik, serta potensi ekonomi digital merupakan keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara. Justru karena potensi itulah, kita dituntut untuk membangun ketahanan ekonomi nasional yang semakin kuat, meningkatkan daya saing industri, memperkuat inovasi dan penguasaan teknologi, serta menjaga kemandirian dalam setiap keputusan strategis.
Pada akhirnya, mungkin pelajaran paling penting dari Confessions of an Economic Hit Man bukanlah apakah semua kisah John Perkins benar atau tidak, melainkan bahwa di abad ke-21, persaingan antarbangsa semakin banyak berlangsung melalui gagasan, kebijakan, investasi, perdagangan, teknologi, dan aktivitas ekonomi.
Jika dahulu senjata menjadi simbol utama kekuatan sebuah negara, kini pemikiran ekonomi dapat menjadi instrumen yang tidak kalah menentukan dalam membentuk arah masa depan sebuah bangsa.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]