Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • Ancaman Nyata Deepfake yang Perlu Diwaspadai

    30 May 2026 | Dilihat: 20 kali

    Yon Bayu Wahyono

    PojokTIM – Perkembangan teknologi akal imitasi atau kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa tantangan baru yang mengerikan bagi tatanan sosial, hukum, dan politik di Indonesia. Salah satu produk AI yang kini kian meresahkan adalah teknologi deepfake, sebuah metode manipulasi digital yang mampu menduplikasi wajah, suara, teks, hingga gestur seseorang agar tampak sangat nyata, padahal sepenuhnya palsu.

    Dalam kuliah hukum yang mengupas tuntas digitalisasi dan hukum, Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) Riri Satria menekankan bahwa deepfake bukan lagi sekadar eksperimen ilmiah grafika komputer seperti era 1990-an, melainkan telah bertransformasi menjadi alat kejahatan siber yang masif.

    Deepfake berasal dari gabungan kata deep learning atau metode belajar mandiri mesin AI, dan fake atau palsu,” ujar Riri yang juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI), di ruang diskusi Akademi Jakarta, Lt 14 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, Sabtu (30/5/2026). .

    Kuliah umum tersebut merupakan rangkaian kegiatan peluncuran empat buku terbaru karya Riri Satria. Selain anggota JSM, kegiatan itu juga dihadiri sastrawan dan anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

    Ditambahkan Riri, teknologi deepfake bekerja dengan cara pengumpulan data massal, di mana sistem AI dilatih menggunakan ribuan data berupa foto, video, rekaman suara, ekspresi wajah, hingga pola bahasa target. Setelah mempelajari pola tersebut, AI dapat memproduksi simulasi visual atau audio baru dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi.

    “Pengguna media sosial yang sering mengunggah foto atau suara di platform seperti Instagram dan Facebook menjadi target yang paling rentan dimanipulasi,” tegas Riri.

    Komisaris Utama PT Integrasi Logistik Cipta Solusi itu memaparkan lima dampak deepfake bagi masyarakat, baik yang sudah maupun yang akan terjadi.

    Pertama, penipuan finansial dan ekonomiDeepfake audio (peniruan suara) kini digunakan untuk membobol sistem keamanan korporasi. Narasumber membagikan kisah nyata rekan sejawatnya yang kehilangan uang hingga Rp129 juta akibat kiriman suara palsu yang meniru instruksi direktur perusahaan untuk mentransfer sejumlah dana.

    Kedua, eksploitasi seksual dan kebocoran data anak. Salah satu penyalahgunaan deepfake terbesar di dunia digital saat ini adalah pornografi palsu (non-consensual deepfake pornography). Wajah seseorang, termasuk anak-anak atau remaja, bisa ditempelkan pada video asusila oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Dalam beberapa kasus, teknologi ini juga digunakan sebagai alat balas dendam mantan kekasih atau pemerasan.

    Ketiga, krisis kepercayaan sosial dan hukum. Teknologi deepfake mengaburkan batas antara fakta dan simulasi. Akibatnya, masyarakat mengalami krisis kepercayaan. Sisi bahayanya pun berlipat.

    “Saking banyaknya deepfake, nantinya kejadian nyata yang benar-benar terjadi justru dianggap rekayasa atau palsu oleh masyarakat. Hal ini juga mempersulit pembuktian alat bukti video dan audio di ranah hukum,” terang Riri.

    Keempat, ancaman polarisasi politik menuju Pemilu 2029. Indonesia diprediksi akan menghadapi puncak serangan hoaks deepfake pada 2028–2029, bertepatan dengan momentum pemilu serentak, mulai dari pilkada hingga pilpres. Teknologi ini sangat rawan digunakan oleh aktor politik untuk memalsukan pidato pejabat, menyebarkan sentimen negatif, hingga merekayasa isu konflik antarsuku demi memecah belah opini publik.

    “Saya berharap teman-teman seniman tidak ikut-ikutan menyebarkan video hasil deepfake,” pesan Riri.

    Kelima, disrupsi industri seni. Bintang film diprediksi akan hilang, digantikan oleh teknologi deepfake. Meskipun ada dampak positif, seperti visualisasi konser tribute band Queen yang menghidupkan kembali mendiang Freddie Mercury, teknologi aktor virtual diproyeksikan akan mengancam industri seni peran. Profesi bintang film diperkirakan secara perlahan akan hilang dalam kurun waktu 15 tahun ke depan, digantikan oleh avatar digital komersial.

    Untuk mengantisipasi ledakan deepfake, Riri mengimbau masyarakat agar berpikir kritis dan selalu mencari rujukan untuk memastikan keaslian suatu informasi. Masyarakat juga diminta tidak langsung percaya pada bukti foto atau video yang beredar di media sosial, terutama yang menyangkut tokoh publik atau transaksi keuangan, tanpa melakukan klarifikasi dan verifikasi ketat dari sumber yang tepercaya.

    Sebab, jika terjadi kasus, penyelesaiannya secara hukum masih menghadapi berbagai kendala. Saat ini perangkat hukum yang tersedia belum menjangkau wilayah deepfake, baik dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik maupun KUHP yang baru.

    “Hukum sering kali tertinggal di belakang pesatnya laju teknologi. Karena mendeteksi deepfake membutuhkan sistem AI detektor yang juga rumit, benteng pertahanan terbaik saat ini ada pada pengguna internet itu sendiri,” tegas Riri.

    Riri Satria didampingi Ketua Panitia Nunung El Niel. Foto: PojokTIM

    Ancaman bagi Sastra

    Deepfake juga menjadi ancaman serius terhadap karya sastra. Salah satunya adalah dengan hadirnya karya-karya baru yang seolah-olah dibuat oleh penyair besar yang sudah meninggal dunia.

    “Bayangkan jika tiba-tiba muncul puisi baru yang diklaim sebagai karya Chairil Anwar yang baru ditemukan. Itu baru contoh sederhana,” kata Riri.

    Terlebih saat ini sedang terjadi apa yang sebut sebagai  co-creation di mana manusia menciptakan ide, AI mengekseskusi dan finalsiasinya oleh manusia lagi.

    “Saat ini UI memperbolehkan karya ilmiah dibantu dengan AI dengan catatan harus ada diclaimer yang menyebutkan bagian tertentu dibantu AI sekian persen. Nah, apakah hal itu juga akan berlaku di dunia sastra? Biar nanti lembaga seperti DKJ yang merumuskan,” tutup Riri.

    Acara yang dipandu Rissa Churria juga dimeriahkan pembacaan puisi oleh Nyapu, Abimanyu dan Diana Prima Resmana, Shantined, Emy Suy, Irzi serta Aquino Hayunta.

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    NEXT EVENT: 2 JUNI 2026


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture