Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh Riri Satria
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir bergerak sangat cepat dan mengubah banyak aspek kehidupan manusia. Dunia pendidikan, ekonomi, bisnis, media, sastra, hingga kebudayaan mulai bersentuhan secara intens dengan teknologi ini.
Kehadiran AI generatif membuat banyak pekerjaan menjadi lebih mudah, cepat, dan praktis. Seseorang kini dapat menulis artikel, membuat puisi, menyusun laporan, menerjemahkan bahasa, bahkan menghasilkan gambar hanya melalui beberapa perintah singkat.
Kehadiran teknologi tersebut memang menakjubkan. Dunia seolah memasuki fase baru peradaban digital ketika mesin tidak lagi sekadar menghitung, melainkan juga mampu “berbicara” dan “berkreasi”. Banyak orang terkagum-kagum melihat kemampuan AI menjawab pertanyaan dengan cepat dan terstruktur. Jawaban yang dihasilkan sering tampak meyakinkan, runtut, dan terasa seperti ditulis oleh manusia.
Di balik semua kemudahan itu, terdapat satu persoalan penting yang mulai banyak dibicarakan, yaitu AI hallucination atau halusinasi kecerdasan buatan.
Istilah ini merujuk pada kondisi ketika AI menghasilkan informasi yang tampak benar, padahal sebenarnya keliru, tidak akurat, atau bahkan sepenuhnya fiktif.
Fenomena tersebut menjadi menarik sekaligus mengkhawatirkan. Sebuah sistem AI dapat menyebut nama buku yang tidak pernah ada, mengutip tokoh terkenal secara keliru, menciptakan data penelitian palsu, atau memberikan penjelasan sejarah yang salah.
Seluruh informasi itu disampaikan dengan gaya bahasa yang sangat meyakinkan sehingga banyak pengguna tidak menyadari bahwa mereka sedang menerima kekeliruan.
AI pada dasarnya bekerja dengan membaca pola dari data yang sangat besar. Sistem itu tidak “memahami” dunia seperti manusia memahami pengalaman hidup. AI juga tidak memiliki kesadaran, intuisi, ataupun kemampuan membedakan benar dan salah secara moral. Teknologi tersebut hanya memprediksi kata demi kata berdasarkan kemungkinan statistik dari data yang pernah dipelajari.
Kondisi itulah yang membuat AI terkadang “mengisi kekosongan” ketika tidak memiliki informasi yang cukup. Mesin tetap berusaha memberikan jawaban karena dirancang untuk merespons permintaan pengguna. Akibatnya, lahirlah informasi yang terdengar logis, tetapi sebenarnya tidak memiliki dasar fakta yang kuat.
Situasi tersebut dapat menjadi persoalan serius ketika masyarakat mulai terlalu bergantung pada AI tanpa melakukan verifikasi ulang. Dunia hari ini sudah dipenuhi oleh banjir informasi digital, media sosial, manipulasi visual, dan deepfake. Kehadiran AI hallucination membuat batas antara fakta dan ilusi menjadi semakin kabur.
Seorang mahasiswa yang sedang menulis skripsi, misalnya, dapat saja menggunakan referensi akademik palsu yang diberikan AI. Seorang penulis dapat mengutip ucapan tokoh yang ternyata tidak pernah diucapkan. Bahkan dalam konteks yang lebih berbahaya, informasi kesehatan, hukum, atau politik yang salah dapat memengaruhi keputusan banyak orang.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa kecanggihan teknologi tidak selalu identik dengan kebenaran. Mesin dapat terlihat pintar tanpa benar-benar memahami makna dari informasi yang dihasilkannya.
Dunia digital modern akhirnya menghadirkan paradoks baru: semakin mudah memperoleh jawaban, semakin penting pula kemampuan manusia untuk bersikap kritis.
Kemampuan literasi digital pada akhirnya tidak lagi cukup hanya sebatas mampu menggunakan teknologi. Masyarakat juga harus memiliki kemampuan memeriksa fakta, membaca sumber, membandingkan informasi, dan memahami kemungkinan manipulasi dalam ruang digital. Sikap kritis menjadi sangat penting agar manusia tidak terjebak pada ilusi yang diproduksi mesin.
Beberapa langkah sederhana sebenarnya dapat dilakukan untuk mengurangi risiko AI hallucination. Informasi penting perlu diverifikasi melalui sumber terpercaya seperti jurnal ilmiah, buku, media kredibel, atau situs resmi lembaga tertentu. Pertanyaan yang diajukan kepada AI juga sebaiknya dibuat lebih spesifik agar jawaban yang muncul tidak terlalu liar dan spekulatif.
Kebiasaan membandingkan jawaban AI dengan sumber lain juga menjadi penting. Pengguna tidak seharusnya langsung percaya hanya karena sebuah jawaban terdengar cerdas dan meyakinkan. Bahasa yang rapi tidak selalu berarti fakta yang benar. Kehati-hatian justru menjadi bagian penting dalam budaya digital masa kini.
AI sesungguhnya tetap merupakan alat yang sangat berguna. Teknologi ini dapat membantu manusia berpikir, bekerja, belajar, dan berkarya dengan lebih efisien. Persoalan utama bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara manusia memanfaatkannya. Ketika AI digunakan dengan kesadaran kritis, teknologi tersebut dapat menjadi mitra yang produktif.
Sebaliknya, ketika digunakan secara serampangan tanpa verifikasi, AI justru dapat melahirkan kesalahan baru yang sulit dibedakan dari kenyataan.
Peradaban digital saat ini sedang bergerak menuju masa depan yang semakin kompleks. Manusia bukan hanya berhadapan dengan informasi, tetapi juga simulasi, rekayasa visual, algoritma, dan kecerdasan buatan yang mampu meniru bahasa manusia secara sangat halus. Dalam situasi seperti itu, kemampuan berpikir jernih menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Masa depan tampaknya bukan lagi sekadar pertarungan antara manusia dan mesin. Masa depan justru akan sangat ditentukan oleh kemampuan manusia mempertahankan nalar kritis di tengah limpahan informasi artifisial yang terus membanjiri kehidupan sehari-hari.
(Jakarta, Mei 2026)
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]