Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • KUCING YANG HIDUP DAN MATI SEKALIGUS: SEBUAH CERITA TENTANG BATAS REALITAS

    23 Apr 2026 | Dilihat: 16 kali

    oleh Riri Satria

    Kira-kira tadi pagi saya ditanya oleh beberapa teman kerja dalam sebuah diskusi mengenai apa sebenarnya yang dimaksud dengan kucing Schrödinger. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan rasa ingin tahu yang cukup dalam tentang sesuatu yang sering disebut, namun tidak selalu dipahami.

    Tulisan ini saya coba hadirkan sebagai upaya untuk menjelaskan, bukan hanya secara ilmiah, tetapi juga secara naratif dan reflektif, agar gagasan ini bisa terasa lebih dekat dan membumi.

    Ada sebuah kisah yang sering terdengar ganjil dalam dunia sains, sebuah kisah tentang seekor kucing yang pada saat yang sama bisa hidup dan mati. Kisah ini bukan dongeng, bukan pula cerita fiksi ilmiah dalam arti populer, melainkan sebuah eksperimen pikiran yang diperkenalkan oleh ilmuwan Erwin Schrödinger.

    Dalam bayangan yang ia bangun, seekor kucing ditempatkan di dalam sebuah kotak tertutup bersama sebuah mekanisme yang sangat sensitif terhadap peristiwa kecil di tingkat atom. Jika sebuah partikel meluruh, racun dilepaskan dan kucing mati. Jika tidak, kucing tetap hidup. Namun, sebelum kotak itu dibuka, tidak ada cara untuk mengetahui apa yang benar-benar terjadi di dalamnya.

    Di sinilah keanehan itu muncul. Dalam dunia Mekanika Kuantum, sebuah partikel dapat berada dalam lebih dari satu keadaan sekaligus, sebuah kondisi yang dikenal sebagai Superposisi Kuantum.

    Jika prinsip ini diterapkan secara konsisten, maka kucing di dalam kotak itu pun harus dianggap berada dalam dua keadaan sekaligus: hidup dan mati. Bukan karena kita tidak tahu, tetapi karena menurut logika kuantum, kedua kemungkinan itu benar-benar “ada” sebelum diamati. Barulah ketika kotak dibuka, kenyataan seperti memilih salah satu jalannya sendiri.

    Cerita ini sering kali membuat orang terdiam, bukan karena sulit dipahami, melainkan karena terasa melawan intuisi paling dasar tentang realitas. Dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu selalu dianggap pasti, hidup atau mati, ada atau tidak ada. Tidak ada ruang bagi “keduanya sekaligus”.

    Namun, eksperimen pikiran ini seakan menggoyahkan keyakinan tersebut. Ia menunjukkan bahwa pada tingkat tertentu, realitas tidak tunduk pada logika yang kita kenal. Apa yang kita anggap pasti ternyata bisa saja hanya merupakan hasil dari cara kita mengamati.

    Menariknya, Erwin Schrödinger sendiri tidak benar-benar ingin meyakinkan dunia bahwa kucing bisa hidup dan mati sekaligus. Ia justru sedang menyampaikan kritik, bahkan semacam kegelisahan intelektual, terhadap cara mekanika kuantum ditafsirkan pada zamannya.

    Dengan membawa konsep yang sangat abstrak ke dalam gambaran yang konkret dan mudah dibayangkan, ia memperlihatkan betapa anehnya jika teori tersebut diterapkan begitu saja ke dunia nyata yang kita kenal.

    Namun di luar konteks fisika, kucing Schrödinger seolah menemukan kehidupannya sendiri sebagai metafora. Ia menjadi simbol dari ketidakpastian yang kita alami setiap hari. Banyak hal dalam hidup berada dalam keadaan “belum pasti” sebelum kita benar-benar menghadapinya.

    Keputusan yang belum diambil, peluang yang belum dicoba, bahkan masa depan yang belum terjadi, semuanya seperti kucing dalam kotak itu. Ia bisa menjadi apa saja, tergantung pada momen ketika “kotak” itu akhirnya dibuka.

    Pada akhirnya, kisah ini bukan tentang kucing, bukan pula semata tentang fisika, melainkan tentang cara manusia memahami dunia. Ia mengajak kita untuk menyadari bahwa realitas mungkin lebih luas, lebih kompleks, dan lebih misterius daripada yang selama ini kita bayangkan.

    Dalam ruang di antara kepastian dan kemungkinan, antara yang terlihat dan yang tersembunyi, kita menemukan bahwa kebenaran tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang tunggal. Kadang, ia menunggu, diam di dalam “kotak”, sampai kita berani untuk membukanya.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    NEXT EVENT: 25 APRIL 2026

    NEXT EVENT: 2 JUNI 2026


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture