Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Oleh Riri Satria
Dalam dunia yang semakin dipenuhi oleh gambar, suara, dan potongan-potongan informasi yang beredar begitu cepat, batas antara yang nyata dan yang tidak nyata menjadi semakin kabur.
Dahulu manusia mengandalkan pengalaman langsung atau kesaksian yang relatif terbatas untuk memahami kebenaran. Kini, kita hidup dalam lanskap digital di mana sesuatu dapat terlihat begitu meyakinkan, padahal sesungguhnya tidak pernah terjadi.
Di sinilah deepfake hadir sebagai fenomena yang mengguncang cara kita memaknai realitas.
Deepfake pada dasarnya adalah rekayasa. Ia bukan sekadar manipulasi sederhana, melainkan penciptaan ulang sebuah “peristiwa” yang sebenarnya tidak pernah ada, tetapi dibungkus dengan bukti yang tampak meyakinkan. Sebuah wajah dapat digerakkan seolah berbicara, suara dapat ditiru dengan presisi yang mengejutkan, dan sebuah adegan dapat disusun sedemikian rupa hingga tampak autentik.
Padahal di balik semua itu, tidak ada kejadian nyata yang melandasinya. Semua hanyalah konstruksi digital atau artefak yang sengaja diciptakan untuk meniru kenyataan. Rekayasa ini semakin canggih karena didukung oleh perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang sedang marak saat ini. Dalam konteks ini, bukti tidak lagi menjadi jaminan kebenaran, karena bukti itu sendiri bisa direkayasa.
Bahkan deepfake berpotensi melahirkan bentuk kriminalitas baru, yaitu kriminal yang kreatif, halus, dan sulit dideteksi oleh cara-cara konvensional.
Di sisi lain, terdapat dimensi yang lebih reflektif dan ambigu. Deepfake juga dapat dilihat sebagai sebuah kemungkinan estetika baru. Ia mampu mempertajam imajinasi, mengolah bayangan-bayangan kreatif, dan menghadirkan sesuatu yang semula hanya ada dalam pikiran menjadi tampak nyata di hadapan indera.
Dalam bentuk tertentu, ia bisa menjadi karya visual, naratif, atau audiovisual yang memikat. Namun, di titik inilah muncul pergeseran makna, di mana karya tersebut tidak sepenuhnya lahir dari tangan seniman dalam pengertian tradisional. Ia bukan hasil dari kontemplasi yang panjang dan pengalaman batin manusia, melainkan produk dari algoritma, dari proses engineering yang terstruktur.
Maka kita berhadapan dengan bentuk seni yang baru, yaitu sebuah seni yang lahir dari mesin, yang memantik pertanyaan tentang otentisitas, kreativitas, dan makna penciptaan itu sendiri.
Jika kita menengok lebih dalam, persoalan ini sebenarnya dapat dipetakan secara sederhana namun mendasar. Ketika sebuah kejadian benar-benar terjadi dan didukung oleh bukti yang sahih, maka di situlah kita menemukan kebenaran. Realitas dan evidensi berjalan beriringan, saling menguatkan.
Namun tidak semua kejadian yang nyata memiliki bukti yang dapat diakses. Ada peristiwa-peristiwa yang sungguh terjadi, tetapi tersembunyi, tidak terdokumentasikan, atau sengaja disembunyikan. Wilayah ini kita kenal sebagai rahasia atau sesuatu yang nyata, tetapi tidak tampak.
Di sisi lain, terdapat pula kondisi yang sepenuhnya kosong, tidak ada kejadian, tidak ada bukti. Situasi ini tidak menimbulkan persoalan berarti, karena ketiadaan bukti sejalan dengan ketiadaan peristiwa. Ia wajar, bahkan netral.
Akan tetapi, deepfake mengisi ruang yang paling problematik, di mana tidak ada kejadian, tetapi ada “bukti”. Di sinilah terjadi distorsi paling serius, karena pikiran manusia secara alami cenderung mempercayai apa yang dapat dilihat dan didengar. Ketika bukti hadir tanpa realitas, maka persepsi dapat dengan mudah disesatkan.
Fenomena ini membawa implikasi yang jauh melampaui teknologi itu sendiri. Ia menyentuh fondasi kepercayaan dalam masyarakat. Selama berabad-abad, manusia membangun peradaban di atas asumsi bahwa bukti adalah representasi dari kenyataan. Foto dianggap menangkap momen, rekaman suara dianggap merekam fakta, dan video dianggap sebagai saksi bisu yang tidak dapat berbohong.
Deepfake menggugat asumsi tersebut. Ia memaksa kita untuk menyadari bahwa apa yang tampak nyata belum tentu benar adanya.
Refleksi yang muncul dari sini bukan sekadar kewaspadaan teknis, melainkan perubahan cara berpikir. Kita tidak lagi cukup hanya melihat dan mendengar; kita harus memahami konteks, memeriksa sumber, dan mempertanyakan keaslian. Dunia digital menuntut literasi baru, yaitu literasi yang tidak hanya membaca informasi, tetapi juga membaca realitas di balik informasi tersebut. Kebenaran tidak lagi bisa diterima secara instan, melainkan harus diolah melalui kesadaran kritis.
Pada akhirnya, deepfake bukan hanya tentang teknologi manipulasi, melainkan tentang ujian terhadap nalar manusia. Ia menguji sejauh mana kita mampu membedakan antara yang nyata dan yang tampak nyata, antara fakta dan rekayasa.
Dalam dunia seperti ini, kebenaran tidak hilang, tetapi ia menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
Nah, justru di tengah kaburnya batas realitas, manusia dituntut untuk kembali pada satu hal yang paling mendasar: kemampuan untuk berpikir jernih dan mempertanyakan apa yang terlihat.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]