Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • DARI SYNTHPOP KE ERA DIGITAL: KENANGAN DUA LAGU IKONIK

    15 Apr 2026 | Dilihat: 12 kali

    oleh: Riri Satria

    Ada kenangan tertentu yang tidak pernah benar-benar selesai di dalam ingatan. Ia kembali hadir bukan sebagai nostalgia kosong, melainkan sebagai gema intelektual yang terus menemukan relevansinya dari waktu ke waktu. Salah satu kenangan itu bagi saya adalah saat menjadi salah satu pembicara pada Compu-Art 93 di Jakarta.

    Pada waktu itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Indonesia tahap akhir, sebuah fase kehidupan yang bagi saya sangat menentukan cara memandang hubungan antara teknologi dan kebudayaan.

    Diselenggarakan oleh mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Indonesia, forum tersebut terasa begitu maju, bahkan nyaris visioner untuk ukuran zamannya, karena mempertemukan dua dunia yang sebelumnya sering dianggap berjalan di rel yang berbeda yaitu teknologi dan seni.

    Justru pada masa sebagai mahasiswa itulah saya telah memiliki keyakinan yang sangat kuat bahwa suatu hari akan terjadi semacam “perkawinan besar” atau konvergensi masif antara dunia teknologi digital dengan dunia seni dalam bentuk apa pun.

    Saya melihat perkembangan komputer, perangkat digital, dan teknologi informasi bukan hanya sebagai alat bantu teknis, melainkan sebagai medium yang pada akhirnya akan menyatu dengan praktik artistik, mulai dari musik, seni rupa, sastra, hingga bentuk-bentuk ekspresi budaya lain yang mungkin pada masa itu belum sepenuhnya dapat kita bayangkan.

    Apa yang saat itu masih tampak sebagai intuisi intelektual, hari ini justru telah menjadi kenyataan sehari-hari.

    Dalam berbagai kesempatan, saya kerap menggunakan dua karya musik dari masa lalu sebagai contoh penting dalam presentasi saya soal pergeseran tersebut, yakni "Don't You Want Me" dari The Human League dan "Zoolook" karya Jean-Michel Jarre. Keduanya bukan sekadar lagu yang populer pada zamannya, melainkan penanda sejarah dari sebuah transformasi estetika yang sangat besar, peralihan dari dunia analog menuju era digital dalam musik.

    "Don't You Want Me" yang dirilis pada 1981, adalah salah satu ikon utama gelombang synthpop. Lagu ini lahir ketika musik pop mulai menemukan bahasa baru melalui synthesizer, sequencer, dan drum machine. Di balik kesederhanaan melodinya yang sangat kuat dan mudah diingat, tersimpan sebuah revolusi teknologi yang halus namun menentukan.

    Struktur ritmis lagu ini sangat presisi, memanfaatkan teknologi drum machine digital yang pada masa itu menjadi simbol modernitas bunyi. Ritmenya terasa mekanis, dan sangat terukur, tetapi justru di atas lanskap bunyi yang nyaris industrial itulah tumbuh drama emosional tentang relasi, hasrat, penolakan, dan ego manusia.

    Di sinilah letak kekuatan artistik lagu tersebut, ia mempertemukan yang manusiawi dan yang mekanistik dalam satu ruang estetika yang harmonis. Vokal yang tegas dan nyaris robotik milik Philip Oakey berpadu dengan dialog vokal Susan Ann Sulley yang lebih terang, membangun sebuah dramatika yang terasa sangat urban dan modern.

    Dunia seni menyambut karya ini dengan antusiasme besar. Ia menjadi salah satu lagu yang mendefinisikan era new wave dan synthpop, serta memperlihatkan bahwa teknologi digital tidak membunuh emosi dalam musik, melainkan justru memperkuatnya melalui bentuk ekspresi yang baru.

    Jika lagu pertama menunjukkan bagaimana teknologi digital memasuki wilayah musik populer, maka "Zoolook" karya Jean-Michel Jarre memperlihatkan sisi lain yang jauh lebih eksperimental dan konseptual. Dirilis pada 1984, karya ini merupakan salah satu eksperimen paling visioner dalam sejarah musik elektronik.

    Jarre menggunakan teknologi sampling digital secara sangat maju untuk zamannya, terutama melalui perangkat Fairlight CMI, sebuah workstation digital yang kala itu termasuk salah satu instrumen paling revolusioner di dunia musik.

    Satu hal yang membuat Zoolook begitu istimewa adalah cara Jarre memperlakukan suara manusia. Ia merekam berbagai bahasa, potongan kata, fonem, aksen, dan napas, lalu mengolahnya secara digital hingga menjadi elemen musikal.

    Dalam karya ini, bahasa tidak lagi semata berfungsi sebagai medium makna verbal, tetapi berubah menjadi tekstur bunyi, ritme, dan atmosfer. Kata-kata diperlakukan layaknya nada. Suara manusia tidak hanya berbicara, tetapi juga bernyanyi dalam pengertian yang lebih luas yatu sebagai material seni itu sendiri.

    Bagi saya, kedua karya ini selalu relevan untuk menjelaskan bagaimana teknologi digital mulai terintegrasi ke dalam dunia seni. "Don’t You Want Me" menunjukkan bagaimana teknologi dapat menciptakan musik yang massal, populer, dan dekat dengan publik luas, sementara "Zoolook" memperlihatkan bagaimana teknologi membuka kemungkinan baru bagi eksplorasi estetika yang lebih radikal.

    Singkatnya, yang satu merangkul pasar, yang lain merangkul eksperimen; namun keduanya sama-sama menandai kelahiran imajinasi digital dalam musik.

    Ketika saya mengingat kembali Compu-Art 93, saya merasa bahwa keyakinan yang tumbuh dalam diri saya saat masih menjadi mahasiswa itu ternyata tidak meleset. Apa yang dahulu saya bayangkan sebagai konvergensi besar-besaran antara teknologi digital dan seni kini telah hadir di depan mata.

    Musik dibuat dengan perangkat lunak, suara direkayasa secara virtual, sastra berinteraksi dengan platform digital, seni visual memanfaatkan kecerdasan buatan, bahkan bentuk-bentuk ekspresi baru lahir dari algoritma dan komputasi.

    Namun, akar dari semua itu dapat ditelusuri kembali pada karya-karya seperti dua lagu ini. Mereka adalah dokumen sejarah dari saat ketika mesin mulai ikut “berbicara” dalam bahasa seni. Bukan sebagai lawan dari kreativitas manusia, melainkan sebagai mitra yang memperluas kemungkinan ekspresi.

    Itulah sebabnya perhatian saya terhadap kedua karya ini tidak pernah surut: karena di dalamnya tersimpan jejak masa lalu yang sekaligus memantulkan masa depan.

    (Riri Satria, April 2026)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    NEXT EVENT


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture