Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • MENJELANG TERBIT, MENJELANG TUNTAS

    14 Apr 2026 | Dilihat: 24 kali

    oleh: Riri Satria

    Ada rasa syukur yang sulit saya sembunyikan ketika 2 dari 4 buku yang saya rencanakan terbit pada tahun 2026 ini akhirnya telah sampai pada fase layout dan persiapan pencetakan. Alhamdulillah, sebuah kata yang terasa paling tepat untuk membuka kabar ini.

    Setelah melalui perjalanan panjang yang penuh dengan perenungan, revisi, dan diskusi, dua naskah itu kini mulai menemukan bentuk akhirnya di tangan penerbit Taresi atas nama JSM Press.

    Bagi saya, ini bukan sekadar kabar teknis tentang proses penerbitan, melainkan sebuah penanda bahwa kegelisahan, pemikiran, dan jejak batin yang selama ini saya rawat dalam kata-kata perlahan sedang menuju perjumpaan dengan para pembaca.

    Dua buku tersebut masing-masing berjudul "Bom Waktu: 100 Puisi tentang Perkembangan Peradaban dan Ketimpangan" serta "Selesai Tak Usai". Keduanya mengalami perubahan, baik pada isi maupun judul, sebagai hasil dari berbagai masukan berharga dari para sahabat dan editor di penerbit.

    Saya justru memandang perubahan itu sebagai bagian penting dari proses kreatif. Sebuah buku, sebagaimana kehidupan, sering kali menemukan bentuk terbaiknya bukan dalam kesempurnaan gagasan pertama, tetapi melalui dialog, kritik, dan keberanian untuk meninjau ulang apa yang semula kita yakini sudah selesai.

    "Bom Waktu" adalah kumpulan 100 puisi pilihan yang lahir dari kegelisahan saya terhadap arah perkembangan peradaban dunia hari ini. Kita hidup di sebuah zaman yang tampak bergerak begitu cepat, begitu maju, dan begitu memukau.

    Namun di balik kemajuan itu, saya melihat lapisan-lapisan persoalan yang berjalan nyaris tanpa suara. Ketimpangan antara yang kaya dan yang miskin semakin terasa, kerusakan lingkungan hidup terus terjadi, keadilan sosial masih menjadi cita-cita yang kerap tertunda, dan kemanusiaan acap kali terdesak oleh logika pertumbuhan yang tak mengenal jeda.

    Semua itu menghadirkan sebuah perasaan yang dalam, seolah-olah kita sedang hidup di atas sesuatu yang sewaktu-waktu dapat meledak, sebuah bom waktu yang kita simpan bersama, sering tanpa kita sadari.

    Puisi-puisi dalam buku ini adalah cara saya berbicara dengan kegelisahan itu, cara saya merawat kekhawatiran agar tidak membeku menjadi diam.

    Sementara itu "Selesai Tak Usai" hadir dari ruang pemikiran yang berbeda, tetapi tetap berangkat dari hasrat yang sama, yaitu keinginan untuk berbagi proses berpikir dan pengalaman menulis. Dalam buku ini saya mencoba mengajak pembaca memahami bahwa esai bukan sekadar tulisan bebas yang mengalir begitu saja, melainkan sebuah bentuk yang memiliki karakter, tujuan, dan arah.

    Saya membahas berbagai ragam esai, mulai dari deskriptif, naratif, reflektif, kontemplatif, argumentatif, hingga bentuk-bentuk yang lebih spesifik seperti advertorial dan bahkan sentuhan postmodernis.

    Saya ingin menunjukkan bahwa menulis bukan hanya soal menuangkan ide, tetapi juga soal memilih bentuk yang paling jujur dan paling tepat bagi maksud yang ingin disampaikan. Dengan memahami bentuk dan tujuan, tulisan menjadi lebih fokus, lebih bernas, dan lebih setia pada ruh gagasannya.

    Dua buku lainnya yang masih dalam proses evaluasi akhir juga menyimpan harapan besar di hati saya. Satu buku merupakan kumpulan esai tentang perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan industri 5.0, sebuah tema yang terasa begitu dekat dengan denyut zaman kita saat ini.

    Satu lagi adalah kumpulan esai tentang kebudayaan, peradaban, dan kemanusiaan, wilayah pemikiran yang sejak lama menjadi kegelisahan sekaligus kecintaan saya.

    Mudah-mudahan dalam waktu dekat keduanya juga segera memasuki fase layout dan penerbitan, sehingga keempat buku ini dapat hadir sebagai satu rangkaian perjalanan intelektual dan emosional yang utuh.

    Kelak ketika semuanya telah selesai dicetak dan berada di tangan pembaca, saya percaya buku-buku ini bukan hanya menjadi milik saya semata. Ia adalah hasil dari banyak tangan, banyak pikiran, banyak hati yang ikut menyentuh dan membentuknya. Oleh karena itu, rasa terima kasih saya terasa begitu mendalam kepada para sahabat yang telah memberikan masukan, kritik, dan saran untuk perbaikan naskah ini antara lain Mbak Nunung Noor El Niel, Rissa Churria, Emi Suy, Khairani Piliang, Shantined, serta Romy Sastra. Setiap komentar dan masukan sekecil apa pun, telah membantu saya melihat naskah ini dari sudut yang lebih jernih.

    Saya juga ingin menyampaikan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah mendukung proses panjang ini, sejak pengumpulan naskah, evaluasi, editing, hingga akhirnya masuk ke tahap penerbitan. Terima kasih kepada JSM Press bersama Taresi, dan kepada editor akhir, Sofyan RH Zaid serta Tim Taresi yang dengan ketelitian dan kesabaran membantu naskah-naskah ini menemukan bentuk terbaiknya.

    Bagi saya pribadi, proses ini bukan sekadar perjalanan menerbitkan buku. Ini adalah perjalanan batin. Ada kegelisahan yang dituangkan menjadi puisi, ada pemikiran yang diolah menjadi esai, ada keraguan yang dipertemukan dengan keyakinan, dan ada harapan yang perlahan menemukan rumahnya dalam lembar-lembar buku.

    Mungkin pada akhirnya, setiap buku memang adalah fragmen dari diri penulisnya, sebuah jejak waktu, kecemasan, cinta, dan keyakinan yang diserahkan kepada masa depan.

    Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan budi baik, gagasan dan pemikiran, serta ilmu yang bermanfaat.

    Semoga bermanfaat ...

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    NEXT EVENT


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture