Riri Satria
KATEGORI
  • Terkini
  • Dokumen
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • DIGITAL CULTURE

    12 Apr 2026 | Dilihat: 15 kali

    oleh: Riri Satria

    Jika tidak ada halangan dan perubahan, pada tahun 2026 ini saya ditunjuk menjadi Ketua Dewan Juri Indonesia Digital Culture for Excellence Award (IDCEA) oleh majalah First Indonesia. Sebelumnya sejak tahun 2023 saya bertindak sebagai anggota Dewan Juri.

    Penunjukan itu bukan hanya sebuah kehormatan, melainkan juga sebuah panggilan intelektual dan batin untuk kembali merenungkan satu pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya sangat luas maknanya, apakah yang dimaksud dengan digital culture?

    Pertanyaan itulah yang ingin saya jawab melalui tulisan ini, bukan semata sebagai definisi akademik, melainkan sebagai refleksi atas cara kita hidup di zaman yang terus berubah.

    Pagi hari kini sering tidak lagi dimulai dengan suara burung, desir angin, atau percakapan ringan dengan orang-orang di rumah. Banyak dari kita, mungkin hampir tanpa sadar, memulai hari dengan cahaya layar yang menyala di telapak tangan. Mata yang baru saja terbuka segera disambut notifikasi, pesan yang masuk semalam, kabar dari media sosial, berita yang berlari lebih cepat daripada pikiran kita sempat menata diri.

    Ada sesuatu yang diam-diam berubah dalam cara kita hidup. Dunia digital tidak lagi sekadar alat yang kita gunakan, melainkan ruang tempat kita menjalani sebagian besar pengalaman sebagai manusia.

    Digital culture atau budaya digital lahir dari perubahan yang pelan namun sangat dalam itu. Ia bukan semata soal teknologi, aplikasi, atau jaringan internet yang semakin cepat, melainkan tentang kebiasaan baru yang tumbuh dalam keseharian kita. Cara kita berbicara, bercanda, jatuh hati, bekerja, bahkan merasa kesepian, kini banyak berlangsung di ruang-ruang virtual yang tak kasatmata.

    Percakapan tidak selalu membutuhkan tatap muka. Kehadiran seseorang dapat terasa begitu dekat hanya melalui titik hijau yang menandakan “online”. Sebuah emoji sederhana kadang mampu menggantikan kalimat panjang, sementara sebuah tanda “seen” tanpa balasan justru dapat menimbulkan gelombang perasaan yang sulit dijelaskan.

    Ada momen-momen ketika saya sendiri merasakan betapa budaya digital telah menjadi bagian dari denyut emosi pribadi. Rasa senang bisa datang hanya karena sebuah pesan kecil yang muncul di layar pada waktu yang tidak terduga. Sebaliknya ada juga kegelisahan yang muncul saat dunia maya terasa terlalu ramai, terlalu cepat, terlalu penuh suara.

    Layar yang semestinya menjadi jendela justru kadang berubah menjadi cermin yang memantulkan kecemasan kita sendiri. Kita melihat kehidupan orang lain yang tampak begitu rapi, bahagia, dan sempurna, lalu diam-diam membandingkannya dengan kehidupan kita yang nyata, yang tentu jauh lebih berantakan dan manusiawi.

    Perubahan itu terasa sangat nyata ketika kita memasuki ruang perusahaan atau organisasi. Kantor hari ini tidak lagi hanya dibangun oleh meja, kursi, dan ruang rapat fisik, melainkan juga oleh platform digital yang menjadi jantung interaksi sehari-hari.

    Percakapan kerja bergerak melalui aplikasi pesan instan, koordinasi berlangsung lewat ruang rapat virtual, dan keputusan sering kali lahir dari dokumen bersama yang dikerjakan secara simultan dari tempat yang berbeda.

    Budaya digital di dalam organisasi bukan hanya penggunaan teknologi, tetapi cara berpikir baru tentang kerja, kolaborasi, dan kepemimpinan.

    Di banyak perusahaan, budaya digital tampak dalam ritme kerja yang lebih cepat, lebih cair, dan lebih terbuka. Informasi dapat mengalir lintas divisi tanpa harus menunggu birokrasi yang panjang. Seorang staf muda dapat menyampaikan ide langsung kepada pimpinan melalui kanal komunikasi internal.

    Tim yang berada di kota atau bahkan negara berbeda tetap dapat bekerja dalam satu proyek yang sama. Ada semacam demokratisasi ruang kerja yang dibentuk oleh teknologi, di mana jarak fisik tidak lagi menjadi penghalang utama bagi kolaborasi.

    Namun seperti kehidupan personal, ruang organisasi juga membawa sisi emosional yang tidak sederhana. Kecepatan komunikasi digital kadang menghadirkan tekanan yang nyaris tak terlihat. Pesan yang masuk di luar jam kerja, notifikasi rapat mendadak, atau tuntutan untuk selalu responsif bisa membuat batas antara kehidupan profesional dan personal menjadi kabur.

    Banyak orang merasakan bahwa pekerjaan seolah terus mengikuti hingga ke rumah, bahkan ke ruang paling privat dalam hidupnya. Laptop yang tertutup belum tentu menandakan pekerjaan selesai, karena ruang digital tetap terbuka dan selalu memanggil.

    Saya sering melihat bahwa budaya digital dalam organisasi juga mengubah cara seseorang memandang dirinya di tempat kerja. Kehadiran tidak lagi diukur hanya dari fisik yang duduk di kantor, tetapi dari jejak digital: seberapa aktif dalam diskusi, seberapa cepat merespons, seberapa terlihat kontribusinya di ruang virtual.

    Ada rasa bangga ketika ide yang ditulis dalam sebuah forum internal diapresiasi banyak orang. Tetapi ada pula kecemasan yang muncul ketika seseorang merasa “tidak terlihat” di tengah arus komunikasi yang begitu cepat.

    Pada sisi lain, budaya digital dapat menjadi energi transformasi organisasi. Perusahaan yang mampu membangun budaya digital dengan sehat biasanya tidak berhenti pada penggunaan perangkat, tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai baru seperti keterbukaan, kolaborasi, pembelajaran berkelanjutan, dan inovasi.

    Teknologi menjadi medium untuk memperkuat budaya organisasi, bukan sekadar alat administratif. Dalam ruang seperti itu, digital culture hadir sebagai nafas yang menghubungkan manusia, gagasan, dan tujuan bersama.

    Meski demikian, pertanyaan yang paling penting tetap sama, apakah teknologi mendekatkan manusia di dalam organisasi, atau justru menjauhkan mereka? Sebuah perusahaan bisa sangat modern secara digital, tetapi tetap kehilangan kehangatan relasi antar individu.

    Sebaliknya, organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu menjaga keseimbangan antara efisiensi teknologi dan sentuhan kemanusiaan. Budaya digital yang paling kuat bukanlah yang paling canggih, melainkan yang tetap memberi ruang bagi empati, penghargaan, dan rasa memiliki.

    Pada akhirnya, budaya digital adalah cermin zaman kita, baik dalam kehidupan personal maupun dalam dunia kerja. Ia mengubah cara kita berelasi, berkarya, dan memahami diri sendiri.

    Di tengah layar yang terus menyala, manusia tetap membutuhkan ruang untuk hadir secara utuh, sebagai individu, sebagai rekan kerja, dan sebagai bagian dari komunitas yang lebih besar.

    Teknologi boleh menjadi medium, tetapi jiwa dari setiap perusahaan dan organisasi tetaplah manusia yang bekerja, bermimpi, dan tumbuh bersama di dalamnya.

    -- Riri Satria -----

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    NEXT EVENT


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture