Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • JENDELA: MENGINTIP SEBUAH PERJALANAN YANG BELUM SELESAI

    27 Mar 2026 | Dilihat: 25 kali

    oleh: Selena F. Lie

    Kali ini saya menulis dalam bahasa Indonesia, walaupun pada umumnya saya menggunakan bahasa Inggris. Mohon dimaafkan apabila terdapat kekurangan dalam penggunaan bahasa Indonesia.

    Membaca buku puisi "Jendela" (2016) seperti membuka catatan harian yang tidak secara khusus dimaksudkan sebagai catatan harian. Buku ini bagaikan perjalanan seorang individu yang tidak semata-mata berupaya menjadi penyair, melainkan seseorang yang terus-menerus merefleksikan kehidupan, lalu menuangkannya ke dalam bentuk puisi.

    Dari sana dapat dipahami bahwa kejujuran menjadi napas utama dalam keseluruhan karya ini tidak tampil sempurna, untuk menyampaikan apa adanya, serta untuk tetap hadir sebagai manusia dengan segala keterbatasannya.

    Terdapat hal yang menarik ketika diketahui bahwa kumpulan ini merupakan buku kumpulan puisi pertama katya Riri Satria yang tbt tahun 2016, sekaligus sebuah kompilasi lintas waktu yang mencakup hampir satu dekade pengalaman. Waktu dalam buku ini tidak disajikan sebagai kronologi yang tersusun rapi, melainkan sebagai jejak-jejak pengalaman yang tersebar.

    Pembaca seakan dihadapkan pada potongan-potongan kehidupan, dinamika jalanan kota, percakapan sederhana dalam berbagai ruang, kegelisahan terhadap kondisi sosial, perenungan di waktu malam, hingga pengalaman rindu yang tidak selalu dapat dijelaskan secara tuntas.

    Seluruhnya tidak diolah menjadi sesuatu yang terlampau puitis dalam pengertian konvensional, melainkan dibiarkan hadir dalam bentuknya yang relatif apa adanya. Tampak bahwa keseharian tidak diposisikan sebagai sesuatu yang final atau suatu yang deterministik, melainkan sebagai sumber makna yang senantiasa terbuka untuk dimaknai lebih lanjut.

    Kedekatan dengan kehidupan sehari-hari menjadi salah satu ciri yang paling menonjol. Puisi-puisi dalam buku ini tidak lahir dari ruang yang terpisah dari realitas, melainkan dari dunia yang konkret, seperti dunia kerja, dunia pemikiran, serta dunia yang sarat dengan logika dan sistem.

    Terlihat adanya ketegangan yang halus antara kecenderungan berpikir rasional dengan kebutuhan untuk mengekspresikan pengalaman batin. Pada beberapa bagian, puisi tampak menyerupai laporan atau refleksi kritis terhadap realitas sosial, pada bagian lain, ia menjelma menjadi ungkapan yang lebih lirih dan personal.

    Dalam konteks ini, tampak bahwa rasio dan rasa tidak diposisikan secara dikotomis, melainkan sebagai dua aspek yang dapat saling melengkapi dalam upaya memahami kehidupan.

    Dalam sejumlah bagian, Riri Satria tergambar sebagai sosok pengamat yang berjalan di tengah kehidupan kota, memperhatikan berbagai peristiwa, kemudian berhenti untuk merefleksikannya secara lebih mendalam. Kemacetan tidak lagi sekadar peristiwa lalu lintas, melainkan menjadi pintu masuk bagi pertanyaan tentang keadilan.

    Percakapan sederhana berkembang menjadi refleksi mengenai praktik korupsi. Kehadiran anak jalanan tidak hanya dipandang sebagai fenomena sosial, tetapi sebagai cermin dari struktur kekerasan yang lebih luas.

    Realitas yang tampak biasa perlahan berubah menjadi ruang yang dipenuhi pertanyaan. Dalam kondisi tersebut, kegelisahan muncul sebagai respons yang tidak terelakkan. Namun, kegelisahan tersebut tidak berhenti sebagai beban, melainkan berkembang menjadi energi untuk berpikir, mempertanyakan, dan pada akhirnya mencipta.

    Di sisi lain, terdapat pula kecenderungan untuk menarik diri dari hiruk-pikuk kehidupan menuju ruang kontemplasi yang lebih hening. Ketika realitas terasa terlalu bising, puisi-puisi dalam buku ini bergerak ke arah refleksi yang lebih mendalam. Unsur-unsur seperti malam, cahaya, semesta, dan Tuhan hadir sebagai medium untuk meninjau kembali makna keberadaan.

    Terdapat dorongan untuk menemukan sesuatu yang melampaui realitas yang kasatmata. Namun demikian, pencarian tersebut tidak pernah mencapai titik akhir yang definitif. Ia senantiasa berada dalam kondisi “menjadi”, seolah-olah bergerak menuju sesuatu yang belum sepenuhnya terjangkau.

    Dari sini dapat dipahami bahwa kehidupan tidak selalu berkaitan dengan pencapaian jawaban final, melainkan dengan keberlanjutan proses pencarian itu sendiri.

    Kesan yang paling kuat mengendap adalah bahwa puisi-puisi dalam buku ini tidak berpretensi untuk menjadi karya yang besar dalam pengertian formal. Tidak terdapat upaya yang berlebihan untuk menghadirkan kesempurnaan estetik atau untuk memenuhi standar tertentu dalam dunia sastra. Sebaliknya, karya ini tampil sebagai ruang personal yang terbuka, dengan segala ketidaksempurnaan yang menyertainya.

    Dalam hal ini, terdapat pelajaran yang penting, yakni bahwa keberanian untuk menjadi diri sendiri dalam proses berkarya memiliki nilai yang lebih mendasar dibandingkan upaya untuk memenuhi ekspektasi eksternal.

    Buku ini pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai puisi sebagai bentuk karya, tetapi juga mengenai proses seorang individu dalam memahami dirinya sendiri.

    Berbagai fase emosional hadir secara bergantian seperti kemarahan, kegelisahan, ketidakpuasan terhadap realitas, kerinduan, pencarian spiritual, hingga upaya untuk menerima keadaan. Seluruh fase tersebut tidak selalu tersusun secara sistematis, namun justru di situlah letak vitalitasnya.

    Dalam kerangka ini, kesadaran sosial turut hadir sebagai dimensi yang tidak terpisahkan, mengingatkan bahwa pengalaman personal selalu berada dalam keterkaitan dengan realitas sosial yang lebih luas.

    Sebagai sebuah buku pertama, Jendela dapat dipahami sebagai titik awal, bukan sebagai kesimpulan akhir. Ia merupakan jejak awal dari cara pandang seorang Riri Satria terhadap dunia. Dalam hal ini, “jendela” dapat dimaknai sebagai metafora atas ruang pandang, baik ke arah luar maupun ke dalam diri.

    Pembaca tidak hanya diajak melihat dunia melalui perspektif penulis, tetapi juga menyaksikan bagaimana penulis itu sendiri berupaya memahami dunia yang dihadapinya.

    Pada akhirnya yang tertinggal bukan sekadar rangkaian kata dalam bentuk puisi, melainkan kesadaran bahwa kehidupan sehari-hari sesungguhnya sarat dengan pertanyaan yang belum terselesaikan.

    Kehidupan, dalam keseluruhannya, dapat dipahami sebagai suatu proses yang terus berlangsung tanpa kepastian akhir. Dalam kerangka tersebut, menulis menjadi salah satu cara untuk menghayati sekaligus menjalani proses tersebut.

    Terima kasih disampaikan kepada Riri Satria yang telah berkenan mengirimkan buku puisi "Jendela" yang diterbitan 10 tahun yang lalu atau tepatnya tahun 2016. Semoga tulisan dan analisis sederhana ini dapat diterima dengan baik.

    Sekali lagi, mohon maaf apabila penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan ini masih memiliki berbagai kekurangan.

    Salam hangat

    Selena F. Lie

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture