Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Oleh Riri Satria
Bagan yang ditampilkan di tulisa ini menjelaskan sebuah metode kreatif yang saya sebut sebagai memotret sahabat menjadi puisi, sebuah pendekatan interpretatif dan engineering berbasis AI dalam proses kreatif. Kata memotret dalam konteks merupaka upaya menangkap potret kehidupan seseorang melalui pengalaman, percakapan, dokumen, dan pengamatan, kemudian mengolahnya menjadi puisi yang reflektif dan personal.
Ini adalah proyek eksperimen saya sejak tahun 2025, sebuah metode kreatif menulis puisi dengan pendekatan interpretatif dan engineering berbasis AI. Metode ini mencoba mengubah berbagai bentuk data kehidupan, mulai dari pengalaman pergaulan, percakapan sehari-hari, hingga dokumen tertulis, menjadi bahan baku poetik yang kemudian ditransformasikan ke dalam bentuk puisi. Dalam proses tersebut, terlihat bagaimana kerja manusia (human work) dan bantuan teknologi AI dapat saling melengkapi dalam proses kreatif.
Prosesnya dimulai dari riset dokumen. Dokumen yang dimaksud dapat berupa karya tulis, artikel, ulasan karya, berita media, atau catatan lain yang berkaitan dengan tokoh yang akan ditulis dalam puisi. Semua bahan tersebut dianalisis untuk menemukan situasi, pengalaman, atau fenomena yang mencerminkan perjalanan hidup tokoh tersebut. Pada tahap ini, teknologi generaive AI membantu membaca teks dalam jumlah besar dan mengekstraksi gagasan penting yang terkandung di dalamnya.
Selain riset dokumen, proses ini juga melibatkan riset terhadap dialog. Percakapan yang terjadi, baik berupa wawancara serius maupun obrolan santai, menjadi sumber informasi yang kaya. Dari dialog tersebut dapat ditangkap cara berpikir, nilai hidup, sikap batin, serta pengalaman personal seseorang. Berbeda dengan proses analisis dokumen yang dapat dibantu oleh teknologi, penggalian dialog ini tetap dilakukan secara manual karena memerlukan kepekaan manusia dalam memahami nuansa percakapan.
Langkah berikutnya adalah observasi langsung terhadap kehidupan tokoh yang bersangkutan. Observasi dilakukan melalui interaksi sosial, pergaulan, serta pengamatan terhadap sikap, kebiasaan, dan perjalanan hidupnya. Dari proses observasi tersebut disusun point-point penting yang menggambarkan karakter, pengalaman, serta dinamika hidup tokoh tersebut.
Seluruh data yang telah dikumpulkan, baik dari dokumen, dialog, maupun observasi, kemudian diolah menjadi rekaman situasi atau fenomena kehidupan. Pada tahap ini teknologi generative AI kembali membantu dengan mengekstraksi kata-kata kunci atau diksi utama yang dapat menjadi bahan baku puisi. Hasilnya bukanlah puisi yang sudah jadi, melainkan sebuah bank diksi, kumpulan kata dan citraan yang merepresentasikan potret kehidupan seseorang.
Tahap terakhir adalah menulis puisi dari kumpulan diksi tersebut. Pada tahap ini proses sepenuhnya dilakukan oleh manusia. Penulis memilih, menyusun, dan merangkai kata-kata menjadi struktur puisi yang utuh. Intuisi estetika, pengalaman batin, serta gaya bahasa menjadi faktor utama yang menentukan bentuk akhir karya.
Saat ini, melalui metode eksperimen tersebut, telah lahir 10 puisi yang merupakan potret interpretatif terhadap sejumlah sahabat. Puisi-puisi tersebut telah saya tayangkan di website pribadi saya sebagai bagian dari eksplorasi kreatif dalam menggabungkan pengalaman personal, riset tekstual, dan bantuan teknologi.
Sebagai penutup, perlu saya tegaskan bahwa menulis puisi tetap merupakan kerja kreatif manusia sepenuhnya. Teknologi, dalam hal ini AI dapat membantu proses riset yang mendahului penulisan puisi dengan menyiapkan bahan bakunya. Namun proses penciptaan puisi itu sendiri tetap bergantung pada kepekaan, imajinasi, dan pengalaman batin manusia.
Bagi saya, menulis puisi tetap merupakan pekerjaan kreatif atau artistik manusia, walaupun dalam konteks tertentu dapat juga dipandang sebagai pekerjaan yang memiliki aspek engineering dengan bantuan teknologi. Akan tetapi, akan lebih bijak jika pendekatan engineering tersebut digunakan dalam tahap riset dan pengolahan bahan, bukan dalam proses menuliskan puisinya.
Dengan demikian, puisi tetap lahir dari ruang batin manusia, sementara teknologi berfungsi sebagai alat bantu yang memperkaya proses pencarian makna sebelum puisi itu ditulis.
(Maret 2026)
Riri Satria adalah seorang pengamat teknologi digital dan ekonomi; dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia; Komisaris Utama sebuah BUMN di bidang Teknologi Digital; serta seorang pencinta puisi, aktivis sastra dan kebudayaan.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]