Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Engkau berjalan tanpa banyak suara
namun jejakmu terasa di lorong-lorong kecil
tempat ibu-ibu menata dagangan
tempat warung sederhana bertahan
dengan sisa harapan dan utang yang belum lunasEngkau memilih menjadi aktivis ekonomi kerakyatan
bukan karena ingin dikenal
tetapi karena engkau tahu
martabat manusia sering tersembunyi
di balik etalase kecil dan tangan yang kapalanBagimu, hidup adalah perjuangan
bukan slogan yang diteriakkan di podium
melainkan napas yang diatur perlahan
saat tubuh letih
saat pikiran kusut oleh kebijakan
yang tak pernah benar-benar singgah
di dapur rakyatEngkau pernah menyentuh ruang kuasa
mendengar janji-janji bergema di dinding rapat
namun hatinya lebih betah
di antara suara pasar pagi
dan percakapan lirih tentang cicilan
tentang anak yang harus tetap sekolah
tentang harga diri yang tak boleh runtuhEngkau tahu dunia tidak setara
Ia tahu dominasi ada di mana-mana
yang kuat sering menekan yang lemah
yang kaya mudah mengatur yang miskin
tetapi ia tidak menutup mata
tidak pula pura-pura buta
engkau memilih mengatur diri sendiri
sebelum mencoba mengatur duniaDi sela-sela kerja sosial
engkau menepi
yoga menjadi ruang sunyi
di mana tubuh dan jiwa berdamai
gerak yang perlahan
napas yang ditarik dalam-dalam
seperti menyulam kembali serpihan tenaga
yang tercerai oleh riuh duniaSemedi menjadi jembatan tak terlihat
antara langit dan bumi
Dalam diam, ia berbicara tanpa kata
mendengar tanpa suara
spiritualitas bukan pelarian
melainkan sumber daya
agar ia tak kehilangan arah
di tengah tuntutan yang tak pernah selesaiManusia menyimpan kekuatan
namun kekuatan itu hanya tumbuh
bila dikenali
bila dirawat dalam keheningan
bila ego dilembutkan
dan amarah disaring oleh kesadaranKadang lelah
kadang rapuh
tetapi dari kerapuhan itu justru lahir ketegasan
tidak menyangkal air mata,
namun juga tidak membiarkannya
menghentikan langkahEngkau berkata dalam hati
hidup adalah perjuangan
dan perjuangan bukan selalu tentang menang
kadang ia tentang bertahan
tentang tetap berdiri
meski tidak ada tepuk tanganEngkau melihat usaha kecil
sebagai doa yang menjelma tindakan
melihat perempuan-perempuan tangguh
yang berdagang dengan bayi di gendongan
sebagai guru ketabahan.
Melihat lansia yang masih berjualan
sebagai pelajaran tentang harga diriSpiritualitas tidak menjauhkan dari realitas
justru membuatnya semakin membumi
langit memberinya ketenangan
bumi memberinya tugas.Engkau tidak ingin menjadi sempurna
hanya ingin jujur pada jalan yang dipilih
jalan sunyi yang kadang sepi pengakuan
tetapi penuh maknaDan ketika malam turun perlahan
setelah tubuh selesai bekerja
dan pikiran berhenti berdebat
eengkau kembali duduk dalam hening
menyatukan napas
menyerahkan lelah pada Yang Maha KuasaEsok hari akan kembali berjalan
menyapa warung kecil
mendengarkan keluh-kesah
menata strategi sederhana
agar roda ekonomi tetap berputar
perjuangan tidak selalu besar
tidak selalu heroik
tetapi harus terus ada
dan selama napas masih mengalir
semua akan tetap berdiri
di antara langit dan pasar rakyat
menjaga martabat manusia
dengan cara yang engkau tahu:
hening, tegas, dan setia(Riri Satria, Maret 2026)
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]