Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • Yayuk Ema: Perempuan di Jalan Sunyi Antara Spiritualitas, Kesadaran, Kekuasaan, serta Keberpihakan pada Kehidupan Nyata

    26 Jan 2026 | Dilihat: 211 kali

    Ditulis oleh Riri Satria sesuai dengan penuturan Yayuk Ema

    Tidak semua orang memilih hidup di garis depan sorotan. Sebagian justru bekerja dalam senyap, bergerak di ruang-ruang kecil yang jarang diperhatikan, tetapi di situlah denyut kehidupan paling nyata terasa. Sahabat saya yang satu ini, namanya Yayuk Ema yang biasa saya panggil Mbak Yayuk atau Yayuk saja, adalah salah satunya. Ia bukan tokoh besar dalam narasi resmi negara, tetapi kehadirannya memiliki makna bagi banyak orang di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, terutama mereka yang hidup di lapis paling bawah struktur sosial.

    Sebagai aktivis sosial kemasyarakatan, Yayuk tumbuh dan bergerak dari pengalaman langsung. Ia mengenal wajah kemiskinan bukan dari laporan statistik, melainkan dari percakapan sehari-hari, dari dapur-dapur sederhana, dari usaha kecil dan mikro yang hidupnya bergantung pada keuletan, bukan perlindungan sistem. Di sanalah ia memilih berpihak. Ia ikut membina, mendampingi, dan menguatkan ekonomi masyarakat kecil, bukan sebagai “penyelamat”, melainkan sebagai sesama manusia yang berjalan bersama.

    Bagi Yayuk, ekonomi bukan semata soal uang, tetapi soal martabat. Usaha kecil dan mikro adalah cara masyarakat mempertahankan harga diri di tengah keterbatasan. Maka, membina ekonomi warga berarti juga merawat rasa percaya diri, keberanian untuk bertahan, dan keyakinan bahwa hidup mereka layak diperjuangkan. Di titik ini, aktivisme Yayuk menjadi sangat personal di mana ia tidak sekadar bekerja untuk orang lain, tetapi bersama mereka.

    Ia pernah percaya bahwa perubahan bisa diperjuangkan lewat jalur politik praktis. Pernah aktif di partai politik dan bahkan mencalonkan diri sebagai anggota DPRD di wilayahnya, menyelami ruang kekuasaan, merasakan dinamika internal yang tidak selalu ideal. Namun perjalanan itu tidak berlangsung lama. Ada kegelisahan yang terus tumbuh, hingga akhirnya ia sampai pada kesimpulan jujur bahwa hatinya tidak berada di sana. Keputusan untuk keluar dari dunia politik bukanlah bentuk kekalahan, melainkan kesadaran. Ia memilih tidak mengkhianati suara batinnya sendiri.

    Pilihan itu menandai satu hal penting dalam diri Yayuk yaitui keberanian untuk berhenti ketika sesuatu tidak lagi sejalan dengan nilai-nilainya. Ia memahami bahwa tidak semua orang ditakdirkan berjuang dari dalam sistem. Ada yang lebih efektif bergerak di pinggir, menjaga jarak, dan tetap kritis. Dari luar struktur formal itulah Yayuk justru merasa lebih merdeka bersuara.

    Dalam kehidupan spiritualnya, Yayuk sering dianggap “tidak biasa”. Ia adalah penganut spiritualitas budaya Jawa, sekaligus seorang muslimah yang taat. Namun baginya, dua hal itu tidak saling bertentangan. Spiritualitas Jawa dengan laku batin, keheningan, dan keselarasan justru memperdalam pemahamannya sebagai seorang muslimah. Ia tidak melihat iman sebagai dogma kaku, tetapi sebagai jalan kesadaran yang menuntut kejujuran, kedisiplinan, dan kasih pada sesama.

    Spiritualitas inilah yang membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. Ia belajar menerima paradoks, memahami bahwa manusia hidup dalam lapisan-lapisan kompleks yang tidak selalu hitam-putih. Dari sanalah ia berani mengakui satu kenyataan yang sering disangkal banyak orang yaitu adanya dominasi manusia atas manusia lain. Yayuk tidak menutup mata terhadap relasi kuasa, baik antar manusia secara personal, maupun dalam keluarga, masyarakat, maupun negara.

    Menariknya, ia secara sadar menyatakan bahwa perempuan harus memiliki keberdaulatan diri. Ia menolak menjadi objek dari struktur yang membungkam perempuan. Ia memilih menjadi subjek yang berpikir, bersuara, dan menentukan arah hidupnya sendiri. Bagi Yayuk, itu adalah keberanian untuk bertanggung jawab atas pilihan. Terkesan menganut paham feminisme? Bisa jadi!

    Sebagai pengamat sosial, Yayuk memiliki kepekaan tajam terhadap tatanan kemanusiaan sehari-hari. Ia melihat bagaimana kebijakan pemerintah sering kali tidak menyentuh realitas masyarakat grassroot. Program-program yang tampak baik di atas kertas kerap kehilangan makna di lapangan. Kritiknya lahir bukan dari sikap oposisi semata, tetapi dari kepedulian. Ia marah karena peduli. Ia bersuara karena melihat ketimpangan terus dipelihara.

    Namun Yayuk juga memahami batas manusia. Ia tahu bahwa terus-menerus berada dalam pusaran masalah sosial dapat menggerus kesehatan batin. Di sinilah yoga hadir sebagai laku personalnya. Sebagai praktisi yoga, ia menemukan ruang untuk kembali ke diri sendiri dengan menata napas, merawat tubuh, dan menenangkan pikiran. Yoga baginya bukan tren gaya hidup, melainkan praktik kesadaran agar ia tidak kehilangan keseimbangan di tengah kerasnya realitas.

    Yayuk Ema adalah potret manusia yang hidup di persimpangan, antara spiritualitas dan kritik sosial, antara keberpihakan dan jarak reflektif, antara keteguhan dan kelembutan. Ia tidak sempurna, dan mungkin tidak ingin menjadi sempurna. Ia hanya ingin jujur pada dirinya sendiri dan setia pada kehidupan nyata yang ia saksikan setiap hari.

    Dalam dunia yang gemar menyederhanakan manusia ke dalam label-label sempit, Yayuk memilih menjadi utuh. Dan barangkali, justru di sanalah bentuk perlawanan paling sunyi namun paling kuat bahkan mungkin paradoks yaitu menjadi manusia sepenuhnya, tanpa harus meminta legitimasi dari siapa pun.

    Sekilas, Yayuk Ema tampak menyimpan banyak paradoks dalam dirinya. Ia perempuan yang sering mengakui kerentanan, tetapi pada saat yang sama hadir sebagai sosok yang kuat. Ia kerap merasa letih, pikirannya kusut oleh realitas sosial ekonomi masyarakat, namun justru menemukan kebahagiaan dalam aktivitas yang melelahkan itu. Ia meyakini kesetaraan manusia, tetapi secara jujur mengakui adanya relasi kuasa manusia atas manusia lain. Bagi sebagian orang, semua ini mungkin tampak bertentangan. Namun jika dilihat lebih dalam, justru di situlah keutuhan kesadarannya berada.

    Sebagai perempuan, Yayuk tidak menutup diri dari rasa rapuh. Ia mengakui ketakutan, kelelahan, bahkan kebingungan batin yang sesekali datang. Kerentanan itu tidak ia anggap sebagai kelemahan yang harus disembunyikan. Sebaliknya, ia menerimanya sebagai bagian dari kemanusiaan. Menariknya, justru dari pengakuan atas kerapuhan itulah lahir kekuatan. Yayuk menjadi kuat bukan karena meniadakan rasa rapuh, tetapi karena mampu hidup berdampingan dengannya. Dominasi yang ia tunjukkan bukan dominasi agresif, melainkan ketegasan yang lahir dari kesadaran diri.

    Kekuatan Yayuk tidak dibangun di atas penyangkalan emosi, melainkan di atas pengelolaan emosi. Ia tahu kapan harus lembut, dan kapan harus tegas. Ia memahami bahwa menjadi dominan sebagai perempuan bukan berarti meniru pola kuasa maskulin yang keras, tetapi menghadirkan kepemimpinan yang berakar pada empati, intuisi, dan keberanian mengambil tanggung jawab. Dalam diri Yayuk, rapuh dan kuat tidak saling meniadakan, justru keduanya saling menguatkan.

    Paradoks berikutnya hadir dalam relasinya dengan kerja-kerja sosial. Yayuk sering merasa letih, bahkan kehabisan energi, ketika berhadapan dengan kompleksitas persoalan sosial ekonomi masyarakat. Kemiskinan yang struktural, kebijakan yang tidak berpihak, dan siklus ketidakadilan yang berulang kerap membuat pikirannya kusut. Namun anehnya, di tengah keletihan itu, ia justru merasakan kebahagiaan. Bukan kebahagiaan yang riuh, melainkan kepuasan batin yang tenang.

    Kebahagiaan itu lahir karena ia merasa hidupnya bermakna. Aktivitas sosial yang melelahkan justru memberinya alasan untuk bangun setiap hari dengan kesadaran bahwa keberadaannya berguna. Di sini, letih dan bahagia bukan dua kutub yang saling bertentangan. Letih adalah harga yang harus dibayar, sementara bahagia adalah buah dari keberpihakan. Yayuk memahami bahwa tidak semua kebahagiaan datang dari kenyamanan; sebagian justru lahir dari keterlibatan yang penuh risiko dan pengorbanan.

    Paradoks paling mendalam mungkin terletak pada pandangannya tentang kesetaraan dan kuasa. Yayuk meyakini sepenuhnya bahwa semua manusia setara dalam martabat. Tidak ada manusia yang lebih manusia dari yang lain. Namun ia juga cukup jujur untuk mengakui realitas: dalam kehidupan sosial, relasi kuasa tidak terhindarkan. Ada manusia yang memiliki lebih banyak akses, pengaruh, dan kendali dibanding yang lain.

    Alih-alih menolak kenyataan ini secara naif, Yayuk memilih sikap yang lebih bijak yaitu relasi kuasa harus diatur dengan etika. Kuasa tidak boleh dibiarkan liar. Ia harus dibatasi oleh nilai, dikontrol oleh kesadaran, dan diarahkan untuk melindungi yang lemah. Bagi Yayuk, pengakuan atas adanya kuasa bukan pengkhianatan terhadap prinsip kesetaraan, melainkan syarat untuk mewujudkannya secara nyata.

    Dalam diri Yayuk Ema, paradoks bukanlah kebingungan, melainkan tanda kedalaman. Ia tidak hidup dalam ilusi hitam-putih. Ia menerima kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks, rapuh sekaligus kuat, letih sekaligus bahagia, setara namun hidup dalam struktur kuasa. Kesadaran inilah yang membuat langkahnya mantap, meski jalannya tidak selalu mudah.

    Barangkali, di situlah kita belajar satu hal penting dari Yayuk, yaitu menjadi manusia yang utuh bukan berarti bebas dari kontradiksi, melainkan mampu merangkulnya dengan jujur dan bertanggung jawab.

    Dalam diri Yayuk Ema, kehidupan tidak pernah dipahami sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Ia selalu melihat hidup sebagai jalinan antara Tuhan, alam semesta, manusia, dan relasi sosial yang saling mempengaruhi. Cara pandangnya mungkin terdengar sederhana, bahkan pasrah. Namun jika diselami lebih dalam, di sanalah justru letak keteguhan spiritual dan keberanian sosialnya.

    Bagi Yayuk, Semesta dan alam telah menentukan garis besar takdir dan jalannya sendiri. Manusia tidak berdiri sebagai penguasa mutlak, melainkan sebagai bagian kecil dari orkestrasi besar yang dikendalikan oleh Yang Maha Kuasa. Karena itu, ia percaya manusia tidak perlu membantah takdir, apalagi menghindarinya. Justru yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menjalani hidup apa adanya dengan penuh semangat, penuh doa, dan sikap pasrah serta legowo.

    Namun kepasrahan yang dimaksud Yayuk bukanlah sikap menyerah tanpa daya. Pasrah baginya adalah penerimaan aktif, kesadaran bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat oleh mata manusia, tetapi bisa dirasakan oleh batin yang jernih. Kekuatan itulah yang menggerakkan dunia, menata peristiwa, dan memberi makna pada setiap kejadian, termasuk penderitaan. Spiritualitas seperti ini, menurut Yayuk, penting agar manusia tidak terjebak pada ilusi kendali total yang justru melelahkan jiwa.

    Dari keyakinan tentang itu, Yayuk kemudian merumuskan pandangannya tentang ikhtiar. Ia percaya bahwa setiap usaha manusia selalu memiliki dua jalur yang tidak boleh dipisahkan. Jalur pertama adalah jalur Langit berupa doa, keyakinan, dan kepasrahan batin kepada Yang Maha Kuasa. Jalur kedua adalah jalur bumi yaitu kerja nyata, usaha konkret, dan tindakan yang bisa diukur dalam kehidupan sehari-hari.

    Banyak orang, menurut Yayuk, terlalu condong ke salah satu jalur. Ada yang rajin berdoa tetapi enggan bergerak. Ada pula yang sibuk bekerja, tetapi lupa melibatkan dimensi spiritual. Padahal, keduanya harus sejalan dan bersinergi. Doa tanpa usaha bisa menjelma angan kosong, sementara usaha tanpa doa sering kali membuat manusia sombong dan mudah rapuh ketika gagal. Dalam keseimbangan antara Langit dan bumi itulah manusia menemukan kekuatan sejatinya.

    Pandangan spiritual ini tidak berhenti di ranah batin. Ia menjelma menjadi sikap sosial yang sangat konkret, terutama dalam soal ekonomi. Yayuk meyakini bahwa setiap manusia harus mandiri secara ekonomi, apa pun latar belakangnya. Masyarakat kecil, lapisan bawah, perempuan single parent, bahkan lansia, semuanya berhak dan perlu memiliki kemandirian ekonomi, meski dalam bentuk yang sangat sederhana.

    Bagi Yayuk, usaha mikro rumah tangga atau usaha kecil bukan perkara remeh. Justru di situlah martabat manusia dipertaruhkan. Mandiri secara ekonomi adalah salah satu tolok ukur penting harga diri. Ia melihat bagaimana ketergantungan yang terlalu besar membuat manusia mudah ditundukkan, mudah kehilangan suara, dan mudah diperlakukan tidak adil. Karena itu, ia mendorong siapa pun untuk memiliki pegangan ekonomi, sekecil apa pun bentuknya.

    Ia memahami betul bahwa tidak semua orang bisa memiliki usaha besar atau penghasilan tinggi. Namun kemandirian bukan soal besar kecilnya angka, melainkan tentang kemampuan berdiri di atas kaki sendiri. Dalam konteks ini, keberpihakan Yayuk pada perempuan, terutama single parent, dan lansia menjadi sangat jelas. Mereka bukan objek belas kasihan, melainkan subjek yang layak diberdayakan dan dihormati.

    Di atas semua itu, Yayuk menempatkan satu nilai yang menurutnya paling mendasar yaitu kesetiakawanan sosial. Baginya, saling menolong dan saling mendukung bukanlah pilihan, melainkan kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Tidak ada manusia yang benar-benar bisa hidup sendiri. Setiap orang tumbuh karena ditopang oleh orang lain, sadar atau tidak.

    Yayuk sering mengibaratkan hidup seperti roda yang terus berputar. Ada masa seseorang berada di atas, menikmati kemudahan dan kelimpahan. Namun ada saatnya roda itu berputar, dan ia berada di bawah, lemah, rentan, dan membutuhkan uluran tangan. Kesadaran akan putaran hidup inilah yang membuat kesetiakawanan menjadi penting. Menolong hari ini bukan hanya soal kebaikan, tetapi juga investasi kemanusiaan.

    Dalam pandangan Yayuk Ema, spiritualitas, ikhtiar, kemandirian ekonomi, dan solidaritas sosial bukanlah konsep yang berdiri sendiri. Semuanya saling terhubung, membentuk satu kesatuan cara hidup. Dari Langit ke bumi, dari batin ke tindakan, dari diri sendiri ke sesama.

    Mungkin itulah kekuatan pemikirannya, ia tidak menawarkan teori besar atau ide rumit, tetapi jalan hidup yang membumi dan bisa dijalani siapa saja. Jalan yang menerima takdir tanpa kehilangan daya juang. Jalan yang bekerja keras tanpa melupakan doa. Jalan yang menjunjung martabat manusia tanpa menafikan kebutuhan untuk saling menopang.

    Dan di tengah dunia yang semakin bising oleh ambisi dan kompetisi, pemikiran seperti ini terasa seperti jeda, hening, tetapi menguatkan.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    RECENT EVENT

    REFLEKSI BUDAYA & TADARUS SASTRA


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture