Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • SIAPA MENCIPTAKAN NILAI? REFLEKSI HARI BURUH 1 MEI 2026

    01 May 2026 | Dilihat: 40 kali

    Oleh Riri Satria

    Pertanyaan tentang siapa yang paling berkontribusi terhadap penciptaan nilai tambah, apakah pemilik modal atau buruh, sebenarnya sudah menjadi perdebatan panjang dalam sejarah pemikiran ekonomi dan filsafat. Tidak ada satu jawaban tunggal yang disepakati, karena setiap mazhab pemikiran melihat “nilai” dari sudut yang berbeda, ada yang menekankan kerja, ada yang menekankan modal, ada pula yang melihatnya sebagai hasil interaksi kompleks di antara banyak faktor.

    Adam Smith dalam bukunya "The Wealth of Nations" (1776) menempatkan kerja sebagai sumber utama nilai. Ia menulis bahwa “labour was the first price, the original purchase-money that was paid for all things.” Namun Smith tidak menafikan peran modal dan pembagian kerja. Bagi Smith, produktivitas meningkat justru karena adanya organisasi produksi dan investasi modal.

    Kemudian David Ricardo (1817) memperkuat gagasan bahwa nilai suatu barang sangat ditentukan oleh jumlah kerja yang terkandung di dalamnya, meskipun ia juga mengakui kompleksitas distribusi antara upah, laba, dan sewa.

    Pandangan ini mencapai bentuk paling radikal pada Karl Marx dalam "Das Kapital" (1867). Marx berargumen bahwa buruhlah yang menciptakan nilai, sementara pemilik modal memperoleh “nilai lebih” (surplus value) dari selisih antara nilai yang dihasilkan buruh dan upah yang dibayarkan.

    Ia menulis bahwa “surplus value is… the unpaid labour of the working class.” Dalam kerangka ini, kontribusi buruh dianggap fundamental, sementara pemilik modal berperan sebagai pengorganisasi yang sekaligus mengekstraksi nilai.

    Namun mazhab neoklasik yang berkembang di akhir abad ke-19 menantang pandangan tersebut. Alfred Marshall dalam "Principles of Economics" (1890) memperkenalkan gagasan bahwa nilai ditentukan oleh interaksi antara permintaan dan penawaran, bukan semata-mata oleh kerja. Dalam perspektif ini, baik modal maupun tenaga kerja dihargai berdasarkan “marginal productivity”-nya.

    Kemudian John Bates Clark (1899) menyatakan bahwa setiap faktor produksi yaitu tenaga kerja dan modal dibayar sesuai kontribusi marginalnya, “each factor of production gets what it produces.” Ini adalah upaya untuk menunjukkan bahwa sistem pasar, secara teoritis, adil dalam mendistribusikan nilai tambah.

    Masuk ke abad ke-20, pendekatan menjadi semakin kompleks. Joseph Schumpeter dalam "The Theory of Economic Development" (1911) menekankan peran wirausahawan sebagai pencipta nilai melalui inovasi. Dalam pandangannya, bukan hanya buruh atau modal, tetapi kemampuan menggabungkan keduanya secara kreatiflah yang menciptakan nilai tambah baru.

    Ia terkenal dengan konsep “creative destruction,” di mana nilai diciptakan melalui pembaruan yang terus-menerus menggantikan yang lama.

    Sementara itu, Peter Drucker (1993) melihat bahwa dalam ekonomi modern, knowledge workers menjadi sumber utama nilai. Ia menulis bahwa “the most valuable asset of a 21st-century institution… will be its knowledge workers and their productivity.” Ini menggeser fokus dari sekadar tenaga kerja fisik atau modal finansial ke kapasitas intelektual dan organisasi.

    Pendekatan kontemporer juga semakin melihat perusahaan sebagai ekosistem. Michael Porter (1985) melalui konsep "value chain" menunjukkan bahwa nilai tambah dihasilkan dari serangkaian aktivitas mulai dari logistik, operasi, pemasaran, hingga layanan, yang melibatkan banyak aktor. Tidak ada satu pihak yang secara tunggal menciptakan nilai; nilai adalah hasil orkestrasi.

    Jika ditarik ke refleksi yang lebih luas, perdebatan ini sebenarnya bukan sekadar soal “siapa paling berkontribusi,” melainkan bagaimana kita mendefinisikan nilai itu sendiri. Bila nilai dipahami sebagai hasil kerja langsung, maka buruh menjadi pusat. Bila nilai dilihat sebagai hasil koordinasi, risiko, dan investasi, maka pemilik modal dan wirausahawan memperoleh tempat utama. Bila nilai dipahami sebagai hasil inovasi dan pengetahuan, maka aktor-aktor kreatif dan intelektual menjadi kunci.

    Dengan demikian, jawabannya mungkin bukan memilih salah satu, melainkan mengakui bahwa nilai tambah lahir dari interaksi: buruh yang bekerja, modal yang memungkinkan, manajemen yang mengorganisasi, dan inovasi yang memperbarui.

    Ketegangan di antara perspektif-perspektif ini justru mencerminkan dinamika nyata dunia ekonomi, bahwa nilai tidak pernah sederhana, dan selalu merupakan hasil dari relasi yang kompleks.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    NEXT EVENT: 2 JUNI 2026


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture