Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Riri Satria
Hidup tidak lagi sekadar pelangi, ia adalah simulasi pelangi, pecahan cahaya yang mungkin hanya ada karena kita sepakat untuk mempercayainya. Hujan dan matahari bukan sebab, melainkan bahasa yang kita warisi agar warna punya alasan untuk muncul. Saya berdiri di bawah lengkungan itu, setengah percaya, setengah curiga, seolah-olah keindahan selalu mengandung jejak rekayasa.
Dunia ini, saya katakan adalah kanvas. Tetapi kalimat itu terasa seperti kutipan yang lupa sumbernya. Kanvas itu mungkin sudah penuh jauh sebelum saya tiba, lapisan warna yang saling menimpa, saling menghapus, lalu bersepakat untuk diam. Saya melukis di atasnya, tetapi setiap garis terasa seperti deja vu, setiap warna seperti memori yang bukan sepenuhnya milik saya.
Lalu hidup tiba-tiba berubah bentuk, bukan lagi gambar, melainkan puisi yang tidak pernah selesai ditulis. Kata-katanya tercecer, tanda baca menghilang pada saat yang paling dibutuhkan. Saya membaca diri saya seperti bait yang terus direvisi: kadang terlalu panjang, kadang terputus di tempat yang salah, kadang begitu sunyi hingga maknanya justru berlipat.
Hujan turun seperti larik-larik yang terlalu berat untuk diucapkan, sementara matahari menyelinap sebagai metafora yang terlalu terang untuk dijelaskan. Pelangi itu seperti puisi yang indah dari kejauhan, tetapi ketika didekati, maknanya terurai menjadi ambiguitas. Tidak bisa disentuh, hanya bisa ditafsirkan ulang, berulang kali, oleh pembaca yang berbeda, oleh saya yang terus berubah.
Saya pernah percaya bahwa alam menyediakan warna-warna penyemangat. Kini saya bertanya-tanya, apakah warna-warna itu hanya diksi yang kita pilih agar dunia terasa lebih bisa dibaca? Daun yang hijau, langit yang biru, senja yang jingga, semuanya seperti metafora yang diwariskan, bukan ditemukan. Namun justru di dalam ketidakpastian itu, saya menemukan ruang untuk menulis ulang.
Hidup sebagai karya seni? Ya, tetapi karya yang mengkhianati bentuknya sendiri. Ia adalah lukisan yang menolak selesai, sekaligus puisi yang menolak titik. Hitam dan putih hanyalah ilusi tata bahasa; yang ada hanyalah spektrum abu-abu yang terus bergeser, seperti makna yang menolak dikunci dalam satu tafsir.
Saya melukis, lalu menghapus. Saya menulis, lalu mencoret. Bekas goresan menjadi tekstur, bekas kata menjadi gema. Setiap pikiran adalah warna, tetapi juga kata, keduanya tidak pernah stabil, selalu bocor ke ruang lain. Setiap tujuan adalah lukisan, sekaligus bait yang belum rampung, menunggu pembacaan yang tidak pernah final.
Mungkin di situlah letak paradoksnya, kanvas kosong itu tidak pernah kosong, seperti halaman putih yang sudah penuh oleh kemungkinan. Kebebasan untuk mencipta selalu berdampingan dengan kesadaran bahwa kita hanya merangkai ulang warna yang pernah ada, kata yang pernah diucapkan, makna yang pernah disalahpahami.
Namun tetap, saya memilih untuk melukis. Saya memilih untuk menulis.Bukan karena saya percaya pada keutuhan gambar atau kepastian makna, tetapi karena saya percaya pada retakan—pada ruang di antara warna yang tidak menyatu, pada jeda di antara kata yang tidak terucap.
Kebaikan dan cinta mungkin juga hanya metafora, hanya diksi yang kita rawat agar dunia tidak sepenuhnya runtuh. Tetapi saya menggunakannya seperti pelukis memilih warna, seperti penyair memilih kata: bukan karena itu satu-satunya yang ada, melainkan karena itu yang ingin saya percayai.
Di antara hujan yang mungkin fiksi dan matahari yang mungkin alegori, saya terus menggambar sekaligus menulis pelangi, sebuah bentuk yang tak bisa dimiliki, hanya bisa diulang; sebuah puisi yang tak bisa diselesaikan, hanya bisa terus dihidupi, bait demi bait, warna demi warna, sampai ia terasa seperti kebenaran yang kita ciptakan sendiri.
(Jakarta, 28 April 2026)
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]