Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • Menjaga Rahasia Lumora, Menjaga Api Imaginasi

    03 Jan 2026 | Dilihat: 22 kali

    Catatan untuk Buku Terbaru Karya Rissa Churria “Tiga Penjaga Rahasia Lumora”

    oleh: Riri Satria

    Selamat untuk Rissa Churria atas terbitnya buku terbarunya “Tiga Penjaga Rahasia Lumora”. Kali ini Rissa memang agak lain dengan melangkah sedikit keluar dari jalur yang selama ini akrab dengannya yaiu puisi dan esai. Kali ini ia memilih wilayah lain yaitu cerita anak bergenre fantasi, sebuah medan yang tampak ringan, tetapi sesungguhnya menuntut kesungguhan yang tidak kalah berat.

    Saya menangkap ada keberanian khusus dalam keputusan itu. Dalam teori kreativitas, Mihaly Csikszentmihalyi menyebut “creative risk-taking” sebagai momen ketika seorang kreator keluar dari zona keahliannya untuk menjelajahi bentuk baru, tanpa jaminan akan diterima dengan cara yang sama. Rissa melakukannya dengan tenang, tanpa gaduh. Ia tidak meninggalkan puisi, tetapi seolah meminjamkan napas puitiknya ke dalam dunia anak-anak, ke dalam Lumora, dunia fantasi yang ia bangun dengan kesabaran.

    Menurut Rissa, “Tiga Penjaga Rahasia Lumora” berangkat dari kisah petualangan tiga bersaudara yang gigih memperjuangkan kebenaran. Gagasan ini terasa lebih luas karena ini adalah upaya menciptakan sebuah semesta alternatif, tempat nilai-nilai lokal dan kearifan Indonesia tetap hidup dalam balutan cerita fantasi global.

    Dalam kajian sastra anak, Maria Nikolajeva menegaskan bahwa fantasi bukanlah pelarian dari realitas, melainkan cara anak-anak belajar memahami dunia melalui simbol, konflik, dan harapan. Lumora tampaknya dirancang sebagai ruang simbolik itu, tempat keberanian, kesetiaan, dan persahabatan tidak diajarkan secara menggurui, melainkan dialami.

    Saya harus jujur bahwa saya belum membaca buku ini secara utuh. Namun saya sempat mengikuti beberapa seri yang terbit rutin setiap Minggu di wartajabar.net dan cintapustaka.com. Dari sana saya merasakan denyut kesabaran dalam cara cerita ini tumbuh. Dua tahun adalah waktu yang panjang untuk “merawat imajinasi”.

    Ini mengingatkan saya pada konsep “slow writing” atau menulis sebagai proses perawatan batin, bukan sekadar produksi teks. Cerita anak, dalam pandangan Rissa, tampaknya bukan produk instan, melainkan doa yang dipanjangkan, keyakinan yang ditumbuhkan sedikit demi sedikit.

    Cerita anak sering dianggap ringan, padahal justru di sanalah pendidikan paling awal dan paling dalam bekerja. Sebelum anak mengenal rumus dan definisi, ia mengenal dunia lewat kisah atau cerita tentang keberanian, kehilangan, persahabatan, dan harapan. Cerita menjadi bahasa pertama yang menyentuh hati.

    Dalam psikologi perkembangan, Jean Piaget menjelaskan bahwa anak memahami realitas melalui simbol dan imajinasi. Cerita menyediakan ruang itu. Tokoh dan petualangan membantu anak belajar sebab–akibat, bahasa, dan logika sederhana. Namun yang lebih penting, cerita mengajarkan anak merasakan. Bruno Bettelheim menyebut cerita sebagai cermin aman bagi kegelisahan batin anak yang belum mampu diungkapkan dengan kata-kata.

    Cerita juga berperan sebagai laboratorium moral. Melalui konflik simbolik, anak belajar memilih tanpa dipaksa. Lawrence Kohlberg menegaskan bahwa perkembangan moral tumbuh dari pengalaman dilema, bukan dari nasihat langsung. Di sini, cerita bekerja secara halus namun membekas.

    Lebih dari itu, cerita anak menanamkan identitas dan harapan. Ketika memuat nilai budaya dan kemanusiaan, cerita menjadi jembatan antara anak dan dunianya. Seperti kata Paulo Freire, pendidikan adalah tindakan harapan, dan cerita anak adalah bentuk harapan yang paling awal.

    Pada akhirnya, cerita anak bukan sekadar bacaan, melainkan fondasi pendidikan dan ia menanam nilai sebelum dunia sempat mengeraskannya.

    Ini adalah buku ke-13 Rissa Churria. Sebelumnya kita mengenal Rissa lewat buku-bukunya, yaitu “Harum Haramain” (puisi, cetakan ke-1 2016, cetakan ke-2 2023), “Perempuan Wetan” (puisi. 2017), “Blakasuta Liku Luka Perang Saudara” (puisi. 2018), “Matahari Senja di Bumi Osing” (puisi, 2019), “Babad Tanah Blambangan” (puisi, 2020) “Bisikan Tanah Penari” (puisi, 2021), “isalah Nagari Natasangin” (puisi, 2021), “Kembul Bujana Cinta Kamajaya Kamaratih” (puisi, 2022), “Kecup Selalu untuk Rasulullah” (puisi, 2024) “Larung Murung” (puisi, 2024), “Meretas Pemikiran Riri Satria: Tentang Puisi dan Kecerdasan Buatan” (esai, 2025), sera “Sketsa Wajah Puisi” (puisi, 2025).

    Deretan karya itu menunjukkan konsistensi sekaligus keberanian untuk terus bergerak. Menulis lintas genre yaiu puisi, esai, cerpen, jurnalistik, hingga perenungan adalah tanda penulis sejati yang tidak terikat pada satu bentuk, tetapi setia pada satu hal yaitu kejujuran pengalaman.

    Sebagai pendidik, pengelola Rumah Baca Ceria di Bekasi, pengurus Jagat Sastra Milenia (JSM), dan aktivis kemanusiaan, Rissa tidak menulis dari menara gading. Dunia anak-anak yang ia bangun di Lumora tampaknya berkelindan dengan dunia nyata yang setiap hari ia rawat yaitu dunia literasi, dunia harapan, dunia yang percaya bahwa cerita dapat menumbuhkan keberanian sejak dini.

    Paulo Freire pernah mengatakan bahwa pendidikan sejati selalu berangkat dari harapan. Dalam konteks ini, cerita anak adalah pendidikan paling awal tentang bagaimana berharap dan bertahan.

    Bagi saya pribadi kagum melihat Rissa menapaki wilayah ini. Seolah ia sedang berkata bahwa setelah sekian banyak luka, sejarah, dan pergulatan yang ia tuliskan dalam puisi-puisi dewasa, kini ia memilih menanam benih untuk generasi masa depan. “Tiga Penjaga Rahasia Lumora” terasa seperti upaya menjaga api imajinasi agar tidak padam di generasi paling awal.

    Sekali lagi, selamat untuk Rissa Churria. Semoga Lumora menemukan para pembacanya, dan para pembaca itu kelak tumbuh menjadi penjaga-penjaga kecil bagi keberanian, persahabatan, dan harapan di dunia nyata maupun dunia yang mereka ciptakan sendiri.

    (Riri Satria – 2 Januari 2026)


    Riri Satria adalah seorang penyair, penulis esai, aktivis sastra dan kebudayaan, ketua Jagat Sastra Milenia (JSM); juga seorang pengamat ekonomi, bisnis, dan teknologi; dosen Fakultas Ilmu Kompuer Universitas Indonesia; serta Komisaris Utama BUMN ILCS Pelindo Solusi Digital.


    Sumber: Warta Jabar

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • DOWNLOAD DOKUMEN

      May 17, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    RECENT EVENT

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture