Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • KETIKA KEHILANGAN MENJADI CARA UNTUK MENGINGAT

    21 Sep 2026 | Dilihat: 9 kali

    Oleh Riri Satria

    Beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah buku kumpulan cerpen karya Yon Bayu Wahyono berjudul “Aku Pulang saat Kamu Lupa Cara Mengingatku”. Saya baru sempat membacanya pada akhir pekan kemarin. Sejak pertama melihat judulnya, saya sudah merasa ada sesuatu yang menarik. Judul ini sangat puitis, meskipun buku ini merupakan kumpulan cerpen.

    Ada paradoks yang segera terasa, yaitu pulang justru ketika seseorang telah lupa bagaimana cara mengingat. Dari judul ini saja, kita seperti diajak masuk ke wilayah ingatan, kehilangan, jarak, dan hubungan manusia dengan waktu. Kumpulan cerpen ini kemudian dibagi ke dalam 4 bagian, yaitu Kehilangan, Mencari Diri, Perlawanan, dan Yang Tersisa. Semua kategori tersebut seperti 4 pintu yang membawa pembaca memasuki ruang batin manusia yang berbeda-beda, tetapi sesungguhnya saling berhubungan.

    Yon Bayu mengatakan bahwa ada hal-hal yang sering kita anggap hilang, tetapi sebenarnya tidak benar-benar pergi. Ia menetap dalam sebuah nama yang perlahan menjadi asing, tertinggal pada aroma hujan, atau bersembunyi di sudut-sudut kota yang setiap hari kita lewati. Kadang-kadang kita baru menyadari kehadirannya justru ketika ia sudah berjarak.

    Gagasan inilah yang menurut saya menjadi salah satu napas utama buku ini. Ingatan ternyata bukan sekadar kemampuan untuk mengingat masa lalu. Ingatan adalah cara manusia mempertahankan keberadaan sesuatu yang pernah bermakna.

    Namun, di hadapan waktu, keberadaan kita memang begitu fragile. Waktu bekerja dengan caranya sendiri, perlahan mengikis nama, wajah, tempat, percakapan, bahkan perasaan yang dahulu kita anggap akan abadi. Karena itu, kumpulan cerpen ini dapat dibaca sebagai semacam rekaman perjalanan Yon Bayu berhadapan dengan waktu dan ingatan. Yon Bayu sedang mengajak kita bersama untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan hidup melalui kumpulan cerpen ini.

    Saya melihat cerpen-cerpen dalam buku ini sebagai ruang tempat Ion Bayu memotret berbagai wajah kehidupan, kehilangan, kesepian, orang-orang yang tersisih oleh zaman, serta manusia-manusia yang telah lelah tetapi tetap berjalan mencari makna. Cerpen-cerpen ini terasa dekat dengan kehidupan kita. Tokoh-tokohnya tidak selalu hadir sebagai manusia yang heroik dan berhasil menaklukkan keadaan. Mereka justru sering hadir sebagai manusia biasa yang berhadapan dengan luka, keterasingan, perubahan, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu memiliki jawaban. Ada sesuatu yang manusiawi dalam situasi tersebut.

    Bukankah kita pun pada akhirnya menjalani kehidupan dengan membawa sesuatu yang hilang, sesuatu yang belum selesai, dan sesuatu yang masih kita cari? Maka 4 bagian dalam buku ini terasa bukan sekadar pembagian tematik, melainkan seperti tahapan perjalanan batin, kehilangan sesuatu, mencari kembali diri, melakukan perlawanan terhadap keadaan, lalu berhadapan dengan apa yang akhirnya masih tersisa.

    Bagi saya, buku ini tidak hadir untuk menawarkan solusi kehidupan. Ia bukan buku resep yang memberi tahu pembaca bagaimana seharusnya menjalani hidup. Justru di situlah kekuatannya. “Aku Pulang saat Kamu Lupa Cara Mengingatku” lebih tepat dibaca sebagai sebuah buku refleksi. Ia mengajak kita berhenti sejenak, menengok kembali apa yang pernah kita miliki, apa yang telah hilang, siapa yang pernah hadir, dan bagaimana waktu mengubah cara kita memandang semuanya.

    Cerpen-cerpen Yon Bayu tidak selalu perlu dijawab, cukup direnungkan. Sebab dalam kehidupan, tidak semua kehilangan membutuhkan penjelasan, tidak semua kesepian membutuhkan penghiburan, dan tidak semua perjalanan harus segera sampai pada kesimpulan, seperti yang tersirat dari judul buku ini, sesuatu justru pulang kepada kita ketika kita sudah hampir lupa bagaimana cara mengingatnya.

    Saya mengenal Yon Bayu dengan baik, bukan hanya sebagai seorang jurnalis atau wartawan, tetapi juga sebagai seorang sastrawan yang menulis puisi, cerpen, dan esai. Ia juga dikenal sebagai aktivis kesusastraan yang berkiprah di kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sebuah ruang yang memang telah menjadi salah satu ekosistem penting bagi kehidupan kesenian dan kesusastraan Jakarta.

    Saat ini, Yon Bayu dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi media Pojok TIM, yang secara konsisten meliput berbagai kegiatan seni, budaya, dan kesusastraan yang berlangsung di kawasan Taman Ismail Marzuki. Membaca “Aku Pulang saat Kamu Lupa Cara Mengingatku” bagi saya bukan sekadar membaca karya seorang penulis, tetapi juga seperti memasuki salah satu sisi lain dari perjalanan kreatif seorang sahabat yang selama ini saya kenal melalui dunia jurnalistik dan kehidupan sastra di TIM.


    Riri Satria adalah penyair yang telah menerbitkan sejumlah buku antologi tunggal. Karyanya tersebar di berbagai media. Riri juga dikenal sebagai pengamat teknologi digital dan ekonomi; dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia; Komisaris Utama sebuah BUMN di bidang Teknologi Digital; serta seorang aktivis sastra dan kebudayaan.

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    Next Event: Cultural Resilience Conference 2026

    Recent Event: Medan, 28 Agustus 2026

    Recent Event: The 3rd Annual OSH Asia’s Summit 2026

    Riri Satria On Big Thinkers Podcast

    video
    play-sharp-fill

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture