Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Dahulu, motivator memiliki tempat yang istimewa dalam dunia bisnis dan pengembangan manusia. Mereka hadir di panggung-panggung seminar, ruang-ruang perusahaan, kampus, dan berbagai pertemuan, membawa cerita perjuangan, pengalaman hidup, serta energi yang mampu menghidupkan suasana.
Mereka mengajak orang untuk bangkit, berani bermimpi, tidak menyerah, dan percaya bahwa masa depan masih mungkin dibentuk.
Pada zamannya, semua itu memang dibutuhkan. Namun, dunia telah berubah. Hari ini, manusia hidup dalam lingkungan digital yang memungkinkan siapa pun memperoleh inspirasi, pengetahuan, nasihat, bahkan pendampingan melalui internet dan kecerdasan buatan.
Ini bukan berarti motivator tidak lagi dibutuhkan, melainkan cara manusia membutuhkan motivasi telah berubah.
Di sinilah muncul kritik bahwa bisnis motivator terkadang dianggap sebagai bisnis yang “menjual harapan”. Kritik tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak adil jika digeneralisasi kepada semua motivator. Harapan pada dasarnya merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Persoalannya adalah ketika harapan dipisahkan dari kenyataan, proses, kompetensi, risiko, dan ketidakpastian.
Kalimat seperti “Anda pasti sukses” tentu berbeda dengan “Anda memiliki peluang untuk berhasil, tetapi ada kerja keras, risiko, kegagalan, dan proses yang harus dilalui.” Kalimat yang pertama menjual kepastian atas sesuatu yang belum tentu terjadi, sedangkan yang kedua menawarkan kemungkinan.
Karena itu, motivator yang baik bukanlah penjual mimpi, melainkan seseorang yang membantu orang lain melihat kemungkinan masa depan dengan keberanian sekaligus kewarasan.
Sesungguhnya, yang dijual oleh seorang motivator bukanlah motivasi itu sendiri. Motivasi berada di dalam diri manusia. Yang ditawarkan adalah pengalaman, pengetahuan, perspektif, inspirasi, dan kemampuan untuk membantu seseorang melihat kehidupannya dari sudut pandang yang berbeda.
Dalam konteks bisnis, inilah yang membuat profesi motivator masih mempunyai ruang. Bahkan industri pengembangan manusia justru tetap besar. Studi International Coaching Federation pada 2025 memperkirakan terdapat sekitar 122.974 coach profesional di dunia, dengan nilai pendapatan industri coaching sekitar US$5,34 miliar, meningkat 17 persen dari studi sebelumnya.
Namun, batas antara motivator, trainer, coach, mentor, konsultan, dan fasilitator kini semakin cair. Dunia bisnis tidak lagi hanya mencari orang yang mampu membuat karyawan bersemangat selama dua jam, tetapi orang yang mampu membantu mereka menghadapi perubahan, meningkatkan kompetensi, dan menghasilkan sesuatu yang nyata.
Kecerdasan buatan kemudian membuat perubahan itu semakin tajam. Hari ini AI dapat membuat kutipan inspiratif, cerita motivasi, presentasi, video, bahkan simulasi percakapan kepemimpinan dalam hitungan detik. Kemampuan menghasilkan kata-kata yang menggugah tidak lagi menjadi keunggulan eksklusif manusia.
Karena itu, motivator yang hanya mengandalkan retorika dan cerita lama tentu menghadapi tantangan baru. Tetapi motivator yang membawa pengalaman hidup, pengalaman memimpin, pengalaman menghadapi krisis, kegagalan, perubahan, dan persoalan manusia masih mempunyai nilai yang sulit digantikan mesin.
Nah, yang berubah adalah tuntutan terhadap profesinya, dari sekadar motivational speaker menjadi coach, mentor, thought leader, penasihat kepemimpinan, atau pendamping transformasi. Dengan demikian, dunia tidak sedang membunuh profesi motivator, dunia sedang memaksa profesi itu tumbuh menjadi sesuatu yang lebih relevan.
Pada akhirnya, mungkin kita memang sedang memasuki zaman ketika motivator terbesar adalah diri kita sendiri. Bukan berarti kita tidak membutuhkan guru, mentor, coach, pembicara, atau orang lain yang memberikan inspirasi. Kita tetap membutuhkannya. Tetapi keputusan untuk menjalani kehidupan, menghadapi perubahan, menerima kenyataan, memperbaiki diri, dan menentukan arah masa depan pada akhirnya berada di tangan kita sendiri.
Kita tidak bisa terus-menerus menunggu seseorang datang ke atas panggung untuk mengatakan bahwa hidup kita akan menjadi lebih baik. Kita harus mampu melihat kehidupan secara realistis, mengetahui kemampuan kita, memahami keterbatasan kita, membaca perubahan zaman, menghitung risiko, dan kemudian menentukan langkah yang masuk akal. Harapan tetap penting, tetapi harapan harus berjalan bersama realitas.
Mungkin itulah wajah baru motivasi di zaman digital. Kita tidak perlu berhenti bermimpi, tetapi kita juga tidak boleh menjadikan mimpi sebagai pengganti kenyataan. Kita boleh memiliki visi tentang masa depan, tetapi harus bersedia membangun jembatannya sedikit demi sedikit melalui pengetahuan, kerja, disiplin, pengalaman, dan keberanian mengambil keputusan.
Motivator masa depan, dengan demikian, bukan lagi orang yang menjanjikan bahwa hidup akan menjadi indah, melainkan orang yang membantu kita memahami bahwa hidup penuh ketidakpastian dan tetap layak diperjuangkan.
Pada akhirnya, setelah semua seminar selesai, semua buku dibaca, semua video ditonton, bahkan setelah AI memberikan seribu nasihat, orang yang paling menentukan masa depan kita tetaplah diri kita sendiri.
Dunia boleh berubah, teknologi boleh semakin cerdas, tetapi tanggung jawab untuk membangun kehidupan tetap berada di tangan manusia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]