Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Ada masa ketika membicarakan ekonomi digital Indonesia berarti kita membicarakan internet, telepon pintar, perdagangan elektronik, layanan transportasi daring, dan fintech. Kita menyaksikan bagaimana sebuah telepon genggam perlahan berubah menjadi pasar, bank, kendaraan, kantor, ruang belajar, bahkan tempat orang mencari hiburan dan membangun pertemanan. Dalam waktu yang relatif singkat, kehidupan ekonomi berpindah dari ruang-ruang fisik menuju layar yang ada di tangan kita. Indonesia pun tumbuh menjadi salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara.
Namun memasuki 2027, tampaknya kita sedang berada di ambang perubahan yang lebih besar. Ekonomi digital tidak lagi hanya tentang bagaimana manusia menggunakan teknologi, melainkan bagaimana teknologi, terutama AI mulai ikut bekerja, berpikir, menganalisis, memprediksi, dan mengambil keputusan dalam aktivitas ekonomi.
Berbagai lembaga memberikan gambaran yang cukup menarik tentang masa depan tersebut. Google, Temasek, dan Bain & Company dalam laporan e-Conomy SEA memperkirakan ekonomi digital Indonesia telah mendekati US$100 miliar GMV pada 2025, tetap menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Dalam jangka panjang, terdapat proyeksi bahwa ekonomi digital Indonesia dapat mencapai kisaran US$220–360 miliar pada 2030.
Jika trajectory tersebut digunakan sebagai gambaran kasar, maka pada 2027 ekonomi digital Indonesia secara nominal sangat mungkin telah berada di kisaran US$140–155 miliar, meskipun angka ini lebih tepat disebut sebagai estimasi daripada ramalan resmi. Angka tersebut tidak hanya menunjukkan besarnya aktivitas perdagangan digital, tetapi juga menggambarkan semakin dalamnya penetrasi teknologi ke dalam kehidupan ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, lembaga-lembaga internasional cenderung lebih berhati-hati ketika melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan. World Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,2% pada 2027, sementara OECD berada di sekitar 5% dan IMF memberikan kisaran yang juga berada di sekitar angka tersebut.
Pemerintah Indonesia sendiri memiliki target yang lebih ambisius, yakni pertumbuhan ekonomi sekitar 6% pada 2027. Perbedaan antara proyeksi dan target ini sebenarnya menarik. Target pemerintah menunjukkan arah yang ingin dicapai, sedangkan proyeksi lembaga internasional menggambarkan apa yang mungkin terjadi berdasarkan kondisi dan kebijakan yang ada. Di antara keduanya terdapat sebuah ruang yang sangat penting, yaitu produktivitas, dan di sinilah ekonomi digital mendapatkan peran strategis.
Ekonomi digital tidak seharusnya hanya dihitung dari berapa banyak barang yang dibeli melalui marketplace atau berapa besar transaksi yang berlangsung melalui aplikasi. Bank Indonesia, misalnya, memperlihatkan betapa cepatnya masyarakat Indonesia beradaptasi dengan sistem pembayaran digital. Volume transaksi pembayaran digital telah mencapai miliaran transaksi setiap bulan, sementara QRIS tumbuh dengan sangat cepat.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa digitalisasi telah bergerak jauh melampaui kelompok masyarakat perkotaan dan kelas menengah. Ia perlahan menjadi bagian dari infrastruktur kehidupan ekonomi sehari-hari. Warung, pedagang kecil, restoran, pelaku usaha rumahan, hingga pekerja informal semakin terhubung dengan sistem ekonomi digital.
Namun kita perlu berhenti sejenak dan bertanya, apakah besarnya transaksi digital otomatis berarti besarnya nilai ekonomi yang dinikmati Indonesia? Jawabannya belum tentu. GMV yang besar tidak identik dengan nilai tambah yang besar. Sebuah produk senilai satu juta rupiah yang terjual melalui platform digital memang tercatat sebagai aktivitas ekonomi, tetapi belum tentu seluruh nilai satu juta rupiah tersebut menjadi nilai tambah bagi Indonesia.
Ada komponen impor, biaya platform, layanan cloud, iklan digital, teknologi pembayaran, hingga keuntungan perusahaan yang mungkin mengalir ke luar negeri. Karena itu, tantangan Indonesia ke depan bukan lagi sekadar menjadi pasar digital terbesar, tetapi bagaimana menjadi pencipta dan pemilik nilai dalam ekonomi digital.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika AI mulai mengambil posisi sentral. Pemerintah sendiri melihat AI, data center, cloud, semikonduktor, dan infrastruktur digital sebagai bagian dari mesin pertumbuhan ekonomi baru. Kita sedang memasuki sebuah fase ketika AI tidak lagi hanya hadir sebagai chatbot yang menjawab pertanyaan atau mesin yang membantu membuat gambar dan tulisan.
AI mulai masuk ke dunia produksi. Ia membantu perusahaan memprediksi permintaan, mendeteksi fraud, mengoptimalkan rantai pasok, meningkatkan layanan pelanggan, menjaga keamanan siber, melakukan analisis keuangan, mengembangkan perangkat lunak, hingga membantu pengambilan keputusan manajemen.
Dengan demikian, terjadi sebuah perubahan paradigma yang menarik. Pada tahap awal, digitalisasi membuat manusia bekerja dengan bantuan teknologi. Pada tahap berikutnya, otomatisasi membuat sebagian pekerjaan manusia dilakukan oleh mesin. Kini, dengan AI generatif dan AI agentic, kita mulai memasuki fase ketika manusia bekerja bersama kecerdasan artifisial. Perbedaannya cukup fundamental.
Teknologi bukan lagi sekadar alat yang menunggu perintah, tetapi mulai menjadi semacam mitra kerja yang mampu mengolah informasi, menemukan pola, dan memberikan rekomendasi.
Karena itu, 2027 barangkali akan menjadi salah satu tahun penting dalam perjalanan Indonesia dari digital economy menuju AI economy.
Perubahan itu juga akan terlihat pada infrastruktur. Selama ini kita sering membayangkan ekonomi digital sebagai sesuatu yang ringan, virtual, dan tidak berwujud. Padahal semakin canggih teknologi digital, semakin besar kebutuhan terhadap sesuatu yang justru sangat fisik, data center, jaringan fiber optic, kabel bawah laut, listrik, sistem pendingin, GPU, cloud infrastructure, dan keamanan siber.
AI membutuhkan komputasi. Komputasi membutuhkan data center. Data center membutuhkan energi. Semuanya membutuhkan jaringan dan keamanan. Dengan kata lain, ekonomi digital yang semakin maju justru semakin membutuhkan fondasi fisik yang kuat.
Di titik ini, Indonesia mempunyai peluang sekaligus persoalan. Pasarnya besar, jumlah penduduknya besar, aktivitas digitalnya tinggi, dan adopsi pembayaran digital berlangsung cepat. Tetapi ukuran pasar saja tidak cukup. Indonesia harus memastikan bahwa pertumbuhan tersebut menghasilkan perusahaan teknologi domestik yang kuat, tenaga kerja dengan kemampuan digital dan AI yang memadai, infrastruktur komputasi yang kompetitif, serta ekosistem riset dan inovasi yang mampu menghasilkan teknologi sendiri.
Jika tidak, Indonesia berisiko menjadi negara dengan pasar AI yang sangat besar tetapi sebagian besar teknologi, platform, data infrastructure, dan nilai ekonominya dimiliki oleh pihak lain.
Barangkali inilah paradoks terbesar ekonomi digital Indonesia. Kita bisa menjadi negara yang sangat maju dalam adopsi teknologi, tetapi belum tentu maju dalam produksi teknologi. Kita bisa menjadi pengguna AI terbesar, tetapi belum tentu menjadi pencipta AI yang penting. Kita bisa mempunyai jutaan pengguna platform digital, tetapi belum tentu mempunyai cukup banyak perusahaan yang memiliki platform tersebut.
Maka, pertanyaan tentang ekonomi digital Indonesia pada 2027 sesungguhnya bukan hanya pertanyaan tentang angka. Apakah GMV kita US$140 miliar, US$150 miliar, atau lebih tinggi? Angka-angka itu memang penting. Tetapi pertanyaan yang lebih mendasar adalah: berapa besar nilai tambah yang tinggal di Indonesia?
Berapa banyak produktivitas yang berhasil kita ciptakan? Berapa banyak perusahaan nasional yang tumbuh menjadi pemain global? Dan berapa banyak pekerjaan manusia yang menjadi lebih produktif karena teknologi?
Di sinilah saya melihat makna strategis ekonomi digital Indonesia pada 2027. Kita sedang bergerak dari ekonomi yang menggunakan internet menuju ekonomi yang dibentuk oleh data, algoritma, AI, dan infrastruktur digital. Jika transformasi itu dikelola dengan baik, digitalisasi tidak lagi sekadar menjadi sektor ekonomi baru, tetapi menjadi lapisan yang memperkuat hampir seluruh sektor ekonomi, industri, perdagangan, pertanian, kesehatan, pendidikan, keuangan, logistik, energi, bahkan pemerintahan.
Pada akhirnya, masa depan ekonomi digital Indonesia bukan terutama ditentukan oleh seberapa cepat masyarakat membeli sesuatu melalui aplikasi. Ia akan ditentukan oleh kemampuan kita mengubah data menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi inovasi, inovasi menjadi produktivitas, dan produktivitas menjadi kesejahteraan.
Dan mungkin itulah tantangan terbesar Indonesia memasuki 2027, jangan hanya menjadi bangsa yang pandai menggunakan teknologi, tetapi jadilah bangsa yang mampu menciptakan nilai melalui teknologi. Sebab dalam ekonomi digital generasi berikutnya, menjadi pasar memang penting. Tetapi menjadi pemilik pengetahuan, teknologi, talenta, dan nilai tambah jauh lebih penting.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]