Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh Riri Satria
Banyak orang sempat bertanya-tanya ketika gerai-gerai BreadTalk yang selama bertahun-tahun hadir di berbagai pusat perbelanjaan Indonesia perlahan menghilang dan berganti nama menjadi Mako Cake & Bakery. Perubahan tersebut menimbulkan berbagai spekulasi, mulai dari dugaan kebangkrutan hingga anggapan bahwa bisnis roti asal Singapura itu tidak lagi mampu bersaing.
Kenyataannya perubahan tersebut bukanlah akibat kegagalan usaha, melainkan bagian dari proses bisnis yang lazim terjadi dalam dunia waralaba. Masyarakat yang sebelumnya akrab dengan nama BreadTalk mendadak harus berkenalan dengan merek baru yang tampil di lokasi yang sama, dengan konsep toko yang juga tidak jauh berbeda.
Kehadiran BreadTalk di Indonesia selama hampir 20 tahun sebenarnya dijalankan oleh kelompok usaha Johnny Andrean melalui perjanjian waralaba dengan pemilik merek di Singapura. Hubungan tersebut memungkinkan pengusaha Indonesia mengoperasikan jaringan toko dengan standar, resep, dan identitas merek yang telah dikenal luas.
Berakhirnya masa lisensi penggunaan merek BreadTalk pada tahun 2022 menjadi titik penting yang mengubah arah bisnis tersebut. Kesepakatan antara kedua belah pihak tidak diperpanjang sehingga pengelola di Indonesia tidak lagi memiliki hak untuk menggunakan nama BreadTalk.
Situasi tersebut kemudian melahirkan Mako Cake & Bakery sebagai pengganti BreadTalk di Indonesia. Sebagian besar gerai tidak benar-benar ditutup, melainkan hanya berganti identitas. Lokasi toko, tenaga kerja, sistem operasional, hingga pengalaman berbelanja tetap dipertahankan dalam kadar tertentu sehingga pelanggan masih merasakan suasana yang akrab.
Kehadiran Mako menunjukkan bahwa yang berubah terutama adalah mereknya, sedangkan infrastruktur bisnis yang telah dibangun selama bertahun-tahun tetap dimanfaatkan untuk melanjutkan usaha.
Hubungan Mako dengan J.CO Donuts & Coffee menjadi salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan. Kedua merek tersebut berada dalam lingkungan usaha yang sama, yaitu kelompok bisnis yang dibangun oleh Johnny Andrean. J.CO merupakan merek yang sejak awal dikembangkan sendiri oleh pengusaha Indonesia dan berhasil berkembang ke berbagai negara.
Mako mengikuti jejak yang serupa, yakni menjadi merek yang sepenuhnya dimiliki dan dikendalikan oleh perusahaan lokal. Kebebasan dalam menentukan strategi pemasaran, inovasi produk, serta arah pengembangan bisnis menjadi lebih besar ketika perusahaan tidak lagi bergantung pada lisensi merek asing.
Muncul pertanyaan yang cukup menarik, apakah Mako dan J.CO pada akhirnya akan saling memakan pasar karena sama-sama menjual produk berbasis tepung, roti, dan makanan ringan. Pandangan sekilas mungkin mengarah pada kesimpulan tersebut.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa keduanya justru memiliki posisi pasar yang berbeda. J.CO sejak awal dikenal sebagai merek yang berfokus pada donat, kopi, dan suasana kafe modern yang menjadi tempat berkumpul. Mako menempatkan dirinya sebagai toko roti dan bakery dengan pilihan roti, pastry, cake, dan produk pangan yang lebih dekat dengan kebutuhan konsumsi harian keluarga.
Segmentasi tersebut membuat keduanya tidak sepenuhnya berhadapan secara langsung dalam memperebutkan pelanggan yang sama.
Strategi semacam ini sebenarnya banyak digunakan oleh kelompok usaha besar di dunia. Sebuah perusahaan induk dapat memiliki beberapa merek yang bergerak dalam sektor yang mirip, tetapi masing-masing diarahkan untuk melayani kebutuhan konsumen yang berbeda.
Sebagian pelanggan datang ke J.CO untuk menikmati kopi dan donat sambil bersantai atau bekerja. Sebagian lainnya datang ke Mako untuk membeli roti, kue, atau oleh-oleh untuk dibawa pulang.
Kehadiran dua merek tersebut justru memungkinkan kelompok usaha yang sama menjangkau pasar yang lebih luas dibandingkan apabila hanya mengandalkan satu merek saja.
Perubahan dari BreadTalk menjadi Mako juga memperlihatkan bagaimana sebuah perusahaan dapat melakukan transformasi tanpa kehilangan pelanggan secara drastis. Kepercayaan konsumen ternyata tidak hanya dibangun oleh nama merek, melainkan juga oleh kualitas produk, pelayanan, kenyamanan toko, dan pengalaman yang diberikan kepada pelanggan.
Masyarakat yang semula datang karena mengenal BreadTalk pada akhirnya dapat menerima Mako karena tetap menemukan nilai dan kualitas yang mereka harapkan. Keberhasilan mempertahankan pelanggan di tengah perubahan identitas merupakan tantangan yang tidak mudah dalam dunia bisnis.
Pelajaran penting yang dapat dipetik dari peristiwa ini adalah bahwa merek memang bernilai besar, tetapi kemampuan mengelola usaha memiliki nilai yang tidak kalah penting. Pengalaman panjang dalam menjalankan bisnis memungkinkan sebuah perusahaan membangun kompetensi yang pada akhirnya dapat berdiri sendiri tanpa harus selalu bergantung pada merek luar negeri.
Kasus BreadTalk, Mako, dan J.CO juga menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis tidak selalu ditentukan oleh banyaknya merek yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan menempatkan setiap merek pada segmen pasar yang tepat. Perubahan tidak selalu identik dengan kemunduran.
Perubahan sering kali merupakan strategi untuk memperkuat posisi, memperluas jangkauan pasar, meningkatkan kemandirian, serta menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar dan lebih berkelanjutan pada masa depan.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]