Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Oleh Riri Satria
Penyair dan dramawan Inggris, T. S. Eliot, pernah menulis sebuah gagasan yang menarik dalam naskah drama "The Cocktail Party". Melalui salah satu tokohnya, Eliot menyampaikan bahwa sebagian besar kerusakan atau kekacauan di dunia ini bukan selalu disebabkan oleh orang-orang jahat, melainkan oleh orang-orang yang sangat ingin dianggap penting.
Mereka tidak selalu memiliki niat buruk. Namun karena terlalu sibuk membangun citra dan mempertahankan perasaan penting dalam dirinya, mereka sering kali tidak menyadari dampak yang ditimbulkan terhadap orang lain maupun lingkungan sekitarnya.
Pandangan Eliot tersebut terasa sangat relevan hingga hari ini. Banyak orang merasa dirinya harus selalu dilibatkan, dihormati, diajak bicara, atau diberi tempat khusus. Ketika hal itu tidak terjadi, muncul rasa kecewa, marah, bahkan pemberontakan batin. Padahal sering kali tidak ada perlakuan buruk yang benar-benar ditujukan kepada mereka.
Mungkin yang terluka adalah perasaan mereka sendiri karena ekspektasi bahwa dirinya harus dianggap penting oleh orang lain. Fokus yang berlebihan pada diri sendiri membuat seseorang sulit menerima kenyataan bahwa dunia tidak selalu berputar di sekeliling dirinya.
Fenomena ini dapat pula ditemukan pada mereka yang mengalami post-power syndrome. Ketika masih memiliki jabatan, pengaruh, atau kedudukan tertentu, mereka terbiasa menjadi pusat perhatian. Namun ketika masa itu berakhir, tidak semua orang siap menerima perubahan.
Ada yang merasa kehilangan identitas karena tidak lagi menjadi sosok yang dianggap penting seperti dahulu. Padahal perubahan adalah bagian alami dari kehidupan. Tidak ada posisi, kekuasaan, atau pengaruh yang berlangsung selamanya.
Hidup selalu bergerak dalam irama pasang dan surut. Ada saatnya seseorang berada di puncak, ada pula saatnya ia memberi ruang kepada generasi berikutnya untuk melanjutkan estafet. Kita tidak mungkin terus-menerus berlari cepat, ada masa ketika kita harus berjalan perlahan, bahkan berhenti sejenak untuk merenung.
Nah, hal yang terpenting bukanlah mempertahankan status sebagai orang penting, melainkan bagaimana kita tetap memberikan manfaat ketika perhatian dan sorotan sudah tidak lagi tertuju kepada kita.
Dalam konteks ini, kata-kata penyair Indonesia, Chairil Anwar, terasa sangat mengena. Kalimat “Sekali berarti, sesudah itu mati” merupakan salah satu bait paling ikonik dalam puisi "Diponegoro" yang ditulis pada tahun 1943. Bait tersebut telah lama menjadi bagian penting dari khazanah sastra Indonesia dan sering dikutip untuk menggambarkan keberanian, pengabdian, dan makna hidup yang tidak diukur dari lamanya seseorang berada di panggung sejarah, melainkan dari arti yang pernah ia berikan.
Menariknya, puisi itu lahir hanya beberapa tahun sebelum The Cocktail Party karya T. S. Eliot terbit pada tahun 1949. Meski lahir dari latar budaya yang berbeda, keduanya sama-sama mengajak manusia untuk melihat kehidupan secara lebih jernih dan tidak terjebak pada obsesi terhadap pengakuan diri.
Pertanyaan yang perlu diajukan kepada diri sendiri bukanlah apakah kita masih dianggap penting oleh orang lain, melainkan apakah kita sudah berdamai dengan perjalanan hidup kita sendiri. Apakah kita masih sibuk mengejar validasi dan pengakuan, atau justru telah mampu menjalani hidup dengan rasa syukur dan keikhlasan.
Pada akhirnya yang paling penting bukanlah menjadi orang yang terus-menerus dianggap penting, melainkan menjadi orang yang pernah memberi arti bagi sesama, lalu mampu menerima dengan lapang dada bahwa setiap zaman akan melahirkan pelaku-pelaku baru yang melanjutkan perjalanan kehidupan.
Mungkin pada suatu masa, khalayak ramai bertepuk tangan untuk kita. Mungkin nama kita pernah disebut-sebut, dipuji, dihormati, atau bahkan dielu-elukan. Namun waktu tidak pernah berhenti berjalan. Zaman terus berubah, dan sejarah selalu melahirkan pelaku-pelaku baru.
Mungkin pada suatu masa kita adalah pejabat tinggi negara, pimpinan sebuah korporasi raksasa atau BUMN besar, guru besar dan akademisi senior di kampus, komandan militer atau kepolisian, tokoh masyarakat, pemimpin organisasi, atau figur yang sangat diperhitungkan di lingkungan tertentu. Ketika itu terjadi, orang datang memberi hormat, meminta pendapat, mengundang kita ke berbagai forum, dan menempatkan kita pada posisi yang dianggap penting.
Namun tidak satu pun dari semua itu yang bersifat abadi. Cepat atau lambat, jabatan berakhir, masa tugas selesai, estafet kepemimpinan berpindah tangan, dan sejarah bergerak ke babak berikutnya.
Pada saat itulah seseorang diuji bukan oleh kekuasaan yang dimilikinya, melainkan oleh kemampuannya melepaskan kekuasaan tersebut. Ada orang yang mampu menerima perubahan itu dengan lapang dada, tetapi ada pula yang terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Mereka merasa kehilangan karena tidak lagi menjadi pusat perhatian, tidak lagi didengar seperti dahulu, atau tidak lagi memiliki pengaruh yang sama.
Ada saatnya seseorang yang dahulu berada di garis depan harus bersedia menepi dengan lapang dada, memberi ruang kepada generasi yang lebih muda untuk tumbuh, berkembang, berkarya, dan melanjutkan perjalanan sejarah. Itu bukan tanda kekalahan, melainkan bagian alami dari siklus kehidupan dan peradaban.
Dalam situasi seperti itu, peran yang paling bijaksana bagi generasi yang lebih tua adalah menjadi pendorong, pembimbing, dan pemberi jalan. Pengalaman yang dimiliki seharusnya menjadi bekal untuk membantu mereka yang datang kemudian, bukan untuk menghalangi langkah mereka.
Buat saya, tidak ada kemuliaan dalam meremehkan, melecehkan, atau bahkan berusaha menghancurkan potensi generasi yang lebih muda hanya karena mereka mulai mendapatkan perhatian yang dahulu mungkin kita terima. Sikap seperti itu justru menunjukkan ketidakmampuan seseorang berdamai dengan perubahan zaman.
Peradaban manusia bertahan dan berkembang karena adanya estafet antar generasi. Generasi yang lebih tua mewariskan pengetahuan, pengalaman, nilai-nilai, dan kebijaksanaan kepada generasi yang lebih muda. Sebaliknya, generasi yang lebih muda membawa energi, gagasan baru, dan semangat untuk menghadapi tantangan zamannya sendiri.
Ketika hubungan ini berjalan dengan sehat, lahirlah kemajuan. Namun ketika generasi yang lebih tua justru sibuk mematikan potensi, menghujat, atau menghalangi mereka yang sedang bertumbuh, maka yang dirugikan bukan hanya individu tertentu, melainkan masa depan bersama.
Karena itu kelegawaan dan keikhlasan menjadi kualitas yang sangat penting dalam perjalanan hidup manusia. Kita tidak perlu mencak-mencak ke sana kemari hanya karena sudah tidak dianggap seperti dulu. Tidak perlu marah karena tidak lagi dilibatkan dalam setiap urusan. Tidak perlu merasa dunia berlaku tidak adil hanya karena sorotan telah berpindah kepada orang lain.
Waktu terus berjalan, zaman terus berubah, dan sejarah tidak pernah berhenti untuk menunggu siapa pun. Sikap yang lebih bijaksana adalah menerima kenyataan tersebut dengan tenang, mensyukuri apa yang pernah dicapai, lalu menggunakan pengalaman yang dimiliki untuk membantu mereka yang sedang melanjutkan perjalanan.
Pada akhirnya, kebesaran seseorang tidak hanya terlihat ketika ia berada di puncak kekuasaan atau pengaruh, tetapi juga ketika ia mampu turun dari panggung dengan penuh martabat. Sebab orang yang benar-benar besar tidak membutuhkan tepuk tangan sepanjang hayat untuk membuktikan nilainya.
Ia memahami bahwa setiap generasi memiliki masanya sendiri, dan tugas terbaik yang dapat ia lakukan adalah meninggalkan warisan pengalaman, kebijaksanaan, dan keteladanan bagi mereka yang akan melanjutkan langkah setelah dirinya.
Kebijaksanaan sejati bukanlah mempertahankan posisi sebagai orang yang selalu dianggap penting, melainkan memastikan bahwa setelah kita selesai menjalankan peran, akan ada generasi berikutnya yang mampu melanjutkan perjalanan dengan lebih baik daripada kita.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]