Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Padanginfo.com - Saya menulis catatan singkat ini ketika berada di Bandara Internasional Minangkabau, menunggu proses boarding pesawat menuju Jakarta. Selama berada di Padang, praktis sebagian besar waktu saya habiskan untuk membahas perkembangan Deepfake AI, terutama dampaknya terhadap kehidupan sosial, kemanusiaan, dan kebudayaan.
Pada beberapa kesempatan, saya juga membicarakan pengaruh teknologi ini terhadap dunia kepenulisan, kepenyairan, dan sastra pada umumnya.
Satu hal yang menarik perhatian saya adalah kenyataan bahwa tidak semua orang memahami apa itu deepfake AI. Masih banyak yang belum mengetahui, apalagi menyadari, betapa cepat teknologi ini berkembang dan bagaimana dampaknya dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari. Di berbagai forum diskusi, saya melihat bahwa literasi masyarakat mengenai AI, khususnya deepfake, masih perlu terus ditingkatkan.
Menariknya, tidak sedikit pula peserta diskusi yang tampak terkejut ketika mengetahui kemampuan teknologi deepfake AI saat ini. Sebagian bahkan langsung menganggap deepfake AI sebagai sesuatu yang sangat berbahaya. Saya memahami kekhawatiran tersebut, tetapi saya juga berpandangan bahwa deepfake, sebagaimana teknologi pada umumnya, pada dasarnya bersifat netral.
Teknologi selalu memiliki dua sisi, seperti pisau bermata dua. Pisau dapur dapat digunakan untuk memotong bahan makanan dan membantu pekerjaan sehari-hari, tetapi dapat pula disalahgunakan untuk melukai orang lain. Persoalannya bukan semata-mata pada teknologinya, melainkan pada bagaimana manusia menggunakannya.
Karena itu yang perlu terus ditekankan adalah pentingnya literasi digital yang memadai dalam menghadapi perkembangan deepfake dan kecerdasan buatan secara umum. Selain kemampuan memahami teknologi, masyarakat juga perlu memiliki landasan etika dan moral yang kuat dalam menggunakan berbagai perangkat digital, termasuk media sosial yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Kemajuan teknologi tanpa disertai tanggung jawab berpotensi melahirkan berbagai persoalan sosial yang tidak sederhana.
Saya juga menyampaikan pandangan bahwa fenomena deepfake AI di Indonesia kemungkinan akan mencapai titik yang semakin mengkhawatirkan menjelang Pemilu dan Pilkada serentak tahun 2028–2029.
Pada masa-masa politik seperti itu, teknologi manipulasi suara, gambar, dan video berpotensi digunakan untuk memengaruhi opini publik, menciptakan disinformasi, bahkan menimbulkan kegaduhan sosial.
Karena itu, kita perlu lebih berhati-hati, lebih kritis, dan lebih mawas diri dalam menerima maupun menyebarkan informasi.
Pendidikan literasi digital sejak dini juga menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Anak-anak dan generasi muda perlu dibekali kemampuan untuk membedakan antara fakta dan manipulasi digital, sekaligus memahami konsekuensi etis dari setiap aktivitas mereka di ruang siber.
Hal ini penting agar mereka tidak mudah menjadi korban maupun pelaku penyebaran konten palsu, termasuk berbagai bentuk perundungan atau bullying yang dapat diperparah oleh penggunaan teknologi kecerdasan buatan.
Tidak semua yang kita lihat, dengar, atau baca di ruang digital merupakan realitas yang sesungguhnya. Di era kecerdasan buatan, kemampuan untuk memverifikasi informasi menjadi semakin penting.
Jangan sampai kita terjebak menjadi bagian dari rantai penyebaran deepfake, hoaks, kepalsuan, dan kebohongan yang pada akhirnya dapat merugikan banyak orang.
Literasi digital, nalar kritis, etika, dan tanggung jawab sosial merupakan bekal yang semakin diperlukan untuk menghadapi masa depan yang sedang datang dengan sangat cepat.
(Bandara Internasional Minangkabau, 6 Juni 2026)
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]