Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • KRITIK SASTRA DI ERA DIGITAL HUMANITIES

    21 May 2026 | Dilihat: 16 kali

    oleh Riri Satria

    Kritik sastra pada dasarnya adalah usaha manusia untuk memahami, menafsirkan, menjelaskan, dan menilai karya sastra secara lebih mendalam. Kritik sastra bukan sekadar mengatakan sebuah puisi, cerpen, atau novel itu bagus atau buruk, melainkan mencoba membaca lapisan-lapisan makna yang tersembunyi di balik teks.

    Karena itu kritik sastra selalu menjadi ruang dialog antara penulis, pembaca, masyarakat, sejarah, dan kebudayaan. Seorang kritikus sastra tidak hanya membaca teks di permukaan, tetapi juga memperhatikan simbol, metafora, struktur bahasa, psikologi tokoh, ideologi, dan sebagainya hingga konteks sosial-politik yang melahirkan sebuah karya.

    Dalam tradisi lama, kritik sastra umumnya dilakukan melalui pendekatan kualitatif dan interpretatif. Seorang kritikus membaca karya secara mendalam, lalu menyusun tafsir berdasarkan pengalaman estetik, teori sastra, filsafat, maupun konteks budaya tertentu.

    Ketika membaca puisi Chairil Anwar, kritik sastra tidak hanya melihat teks yang tersusun di dalam puisi itu, tetapi juga membaca semangat zaman, kegelisahan eksistensial, dan energi pemberontakan yang hidup di dalam bahasa. Kritik sastra pada tahap ini menjadi semacam seni membaca manusia melalui teks.

    Namun perkembangan teknologi digital kemudian memperkaya lanskap kajian sastra secara besar-besaran. Lalu muncullah apa yang kini dikenal sebagai digital humanities, yaitu sebuah bidang yang mempertemukan sastra, linguistik, ilmu data, statistik, kecerdasan buatan, dan komputasi. Dalam pendekatan ini, teks karya sastra mulai diperlakukan bukan hanya sebagai objek estetik, tetapi juga sebagai data yang dapat dianalisis secara sistematis.

    Frekuensi kata dapat dihitung, pola metafora dapat dipetakan, hubungan antar tokoh dapat dimodelkan menggunakan teori jaringan atau network thory, bahkan perubahan tema atau topik besar sastra dalam ribuan karya lintas zaman dapat dianalisis menggunakan kecerdasan buatan (AI).

    Di dalam perkembangan itu, pendekatan data science yang saat ini dianggap sebagai salah satu terobosan penting dalam dunia digital modern juga mulai memasuki wilayah kritik sastra. Analisis data memungkinkan peneliti membaca kecenderungan sastra secara jauh lebih luas dibanding sebelumnya. Ribuan novel, puisi, cerpen, artikel, arsip koran, dan manuskrip digital dapat dipetakan untuk menemukan pola-pola tertentu yang sebelumnya sulit terlihat oleh pembacaan konvensional.

    Teknik seperti text mining, sentiment analysis, topic modeling, hingga analisis jejaring sosial sastra memungkinkan kritik sastra bergerak menjadi lebih tajam, lebih luas, dan lebih sistematis. Kritik sastra tidak lagi hanya membaca satu teks secara individual, tetapi juga membaca hubungan antar teks, antar pengarang, antar zaman, bahkan antar peradaban.

    Pendekatan kuantitatif semacam ini menghadirkan kemungkinan baru yang sebelumnya hampir mustahil dilakukan. Seorang kritikus kini dapat memetakan perkembangan tema dalam novel Indonesia selama satu abad, melihat perubahan dari masa kolonial hingga era digital, atau membaca hubungan antar sastrawan melalui jaringan sosial dan historiografi digital.

    Tokoh seperti Franco Moretti, seorang literary historian and theorist asal Italia, memperkenalkan konsep distant reading, yaitu membaca sastra melalui pola-pola besar menggunakan grafik, statistik, dan pemodelan data. Sastra tidak hanya sekadar dibaca secara dekat melalui satu teks, tetapi juga dianalisis sebagai bagian dari arus besar sejarah kebudayaan manusia.

    Meski demikian, perkembangan metode kuantitatif tidak berarti menghapus kritik sastra tradisional. Sastra tetaplah wilayah hidup manusia yang penuh ambiguitas, emosi, simbol, dan makna-makna yang tidak selalu dapat direduksi menjadi angka. Kritik sastra tetap bergerak menuju tujuan yang sama sejak dahulu, yaitu mencari makna atau menemukan makna. Metode kuantitatif, pemodelan, analisis historiografi, data science, maupun AI sesungguhnya hanyalah jalan baru untuk membantu manusia membaca sastra dengan lebih luas, lebih sistematis, dan mungkin lebih mendalam dibanding pendekatan konvensional sebelumnya.

    Semua pendekatan itu pada akhirnya tetap bermuara pada usaha memahami kehidupan manusia melalui sastra, menemukan lesson learned, menangkap nilai-nilai kemanusiaan, dan membaca denyut peradaban yang hidup di dalam teks-teks sastra itu sendiri.

    Seorang sahabat saya yang kebetulan juga seorang kritikus sastra mengatakan kepada saya bahwa masih banyak para kritikus sastra kita, terutama yang old fashioned, masih alergi dan gamang (anxiety) jika harus bersentuhan dengan dunia teknologi modern tanpa menyadari bahwa justru teknologi modern tersebut dapat membuat analisis mereka menjadi lebih dahsyat.

    Sebagai penutup tulisan ini, saya mempercayai bahwa menulis teks karya sastra adalah proses kreatif, namun membuat kritik sastra adalah proses yang dominan analitis. Jadi mari lakukan analisis lebih baik dan lebih tajam

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    NEXT EVENT: 2 JUNI 2026


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture