Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • JEJAK GAGASAN DI DUNIA SASTRA, KEBUDAYAAN, TEKNOLOGI DIGITAL, SERTA KECERDASAN BUATAN

    15 Apr 2026 | Dilihat: 17 kali

    oleh: Riri Satria

    Ada saat-saat tertentu dalam kehidupan seorang penulis ketika waktu seolah berhenti sejenak, memberi ruang untuk menoleh ke belakang sambil memandang jauh ke depan. Saya merasakan momen itu pada tahun 2026 ini, ketika beberapa buku yang lahir dari perjalanan panjang pemikiran, kegelisahan, dan perenungan saya perlahan memasuki tahap akhir menuju penerbitan.

    Jika segala sesuatunya berjalan sesuai rencana, insyaallah pada bulan Mei mendatang dua buku saya akan segera terbit, disusul oleh dua buku lain yang juga tengah mengalami penyempurnaan penting.

    Bagi saya, ini bukan sekadar kabar tentang buku baru, melainkan sebuah fase kehidupan yang sarat makna, seolah serpihan-serpihan pikiran dari beberapa tahun terakhir ini menemukan rumahnya.

    Salah satu buku tersebut berjudul "Teknologi Bukan Musuh", sebuah kumpulan esai yang menghimpun tulisan-tulisan saya tentang transformasi digital, kecerdasan buatan, serta berbagai persoalan sosial ekonomi yang menyertainya. Esai-esai ini tersebar di berbagai media sejak tahun 2022, lahir dari upaya memahami zaman yang sedang berubah dengan sangat cepat.

    Saya selalu percaya bahwa teknologi tidak pernah layak diposisikan sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Ia bukan musuh manusia. Tak kalah penting adalah bagaimana manusia memaknai, mengelola, dan menempatkan teknologi agar tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.

    Di tengah derasnya arus digitalisasi dan munculnya kecerdasan buatan yang kian memasuki hampir semua ruang kehidupan, saya merasa perlu terus mengajak pembaca untuk melihat teknologi bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai ruang dialog yang harus diisi dengan etika, kebijaksanaan, dan keberanian berpikir.

    Buku lain yang juga hadir dalam waktu yang berdekatan adalah "Masa Depan Sasta dan Kecerdasan Buatan", kumpulan esai tentang sastra dan kebudayaan, yang juga memuat tulisan-tulisan saya sejak beberapa tahun terakhir ini.

    Jika buku pertama berangkat dari kegelisahan terhadap perubahan teknologi dan sosial, maka buku ini tumbuh dari kedekatan batin saya dengan dunia kata, makna, dan kebudayaan. Di dalamnya, saya mencoba membaca kembali sastra bukan hanya sebagai teks, tetapi sebagai cermin zaman, sebagai ruang tempat manusia berbicara tentang dirinya sendiri, tentang cinta, kehilangan, perubahan, dan harapan.

    Dua buku lainnya juga tengah menempuh perjalanan menuju bentuk terbaiknya adalah "Bom Waktu: 100 Puisi tentang Perkembangan Peradaban dan Ketimpangan". Buku ini memiliki tempat yang sangat personal dalam diri saya. Seratus puisi di dalamnya lahir dari kegelisahan yang mendalam terhadap arah perkembangan peradaban dunia hari ini.

    Kita hidup di sebuah zaman yang bergerak begitu cepat, begitu maju, begitu memukau, namun pada saat yang sama menyisakan begitu banyak ketimpangan, kecemasan, dan paradoks kemanusiaan. Di balik kemajuan teknologi dan gemerlap modernitas, masih ada luka-luka sosial, jurang ekonomi, dan ketidakadilan yang terus membesar.

    Puisi-puisi dalam buku ini adalah cara saya berbicara dengan zaman, sekaligus cara saya bertanya kepada diri sendiri: ke mana sesungguhnya peradaban ini sedang menuju?

    Sementara itu, buku "Selesai Tak Usai" hadir dari ruang pemikiran yang berbeda, tetapi tetap berangkat dari hasrat yang sama, yaitu keinginan untuk berbagi proses berpikir dan pengalaman menulis. Buku ini sangat dekat dengan perjalanan intelektual saya sebagai penulis esai. Di dalamnya saya mengajak pembaca memahami bahwa esai bukanlah sekadar tulisan bebas yang mengalir tanpa arah. Esai adalah bentuk yang memiliki karakter, tujuan, dan kesadaran estetiknya sendiri.

    Saya membahas berbagai ragam esai, mulai dari yang deskriptif, naratif, reflektif, kontemplatif, argumentatif, hingga bentuk-bentuk yang lebih spesifik seperti advertorial dan sentuhan postmodernis. Ada semacam kegembiraan tersendiri ketika pengalaman menulis yang selama ini tersebar dalam praktik akhirnya dapat dirumuskan dan dibagikan kepada pembaca.

    Saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah mendampingi proses panjang ini, sejak pengumpulan naskah, evaluasi, penyuntingan, hingga akhirnya masuk ke tahap penerbitan.

    Terima kasih kepada JSM Press bersama Taresi, serta kepada editor akhir, Sofyan RH Zaid dan Tim Taresi, yang dengan ketelitian, kesabaran, dan kepekaan intelektual membantu naskah-naskah ini menemukan bentuk terbaiknya. Tidak ada buku yang benar-benar lahir sendirian, selalu ada tangan-tangan lain yang ikut menjaga, merawat, dan memolesnya hingga siap bertemu pembaca.

    Bagi saya pribadi, seluruh proses ini bukan sekadar perjalanan menerbitkan buku. Ini adalah perjalanan batin. Ada kegelisahan yang dituangkan menjadi puisi, ada pemikiran yang diolah menjadi esai, ada keraguan yang dipertemukan dengan keyakinan, dan ada harapan yang perlahan menemukan rumahnya dalam lembar-lembar buku.

    Setiap halaman menyimpan jejak waktu, setiap kalimat membawa serpihan pengalaman, dan setiap buku menjadi semacam fragmen diri yang saya serahkan kepada masa depan.

    Mungkin pada akhirnya, setiap buku memang adalah jejak paling jujur dari seorang penulis. Ia menyimpan kecemasan, cinta, luka, harapan, serta keyakinan yang tidak selalu bisa diucapkan dalam percakapan sehari-hari.

    Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan budi baik, gagasan, pemikiran, serta ilmu yang bermanfaat.

    Barangkali itulah yang sedang saya usahakan melalui buku-buku ini, meninggalkan jejak pemikiran yang semoga tetap hidup dan berguna, bahkan ketika waktu telah berlalu jauh.

    Semoga bermanfaat.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    NEXT EVENT


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture