Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • DI BAWAH BAYANG-BAYANG OPINI, ALGORITMA, DAN ILUSI PIKIRAN ORISINAL

    06 Apr 2026 | Dilihat: 13 kali

    oleh: Riri Satria

    --- "Most people don’t have original opinions. They just repeat what they heard from someone louder, richer, or more popular.” (Kebanyakan orang tidak memiliki opini yang orisinal. Mereka hanya mengulang apa yang mereka dengar dari seseorang yang lebih lantang, lebih kaya, atau lebih populer.) ----

    Ada satu kalimat yang belakangan sering beredar di ruang digital serta cepat memantik renungan, di mana kebanyakan orang tidak memiliki opini orisinal, mereka hanya mengulang apa yang didengar dari seseorang yang lebih lantang, lebih kaya, atau lebih populer.

    Kalimat ini terasa tajam, bahkan sedikit sinis, tetapi justru di situlah daya pukulnya. Ia hadir seperti cermin bagi masyarakat modern, yaitu masyarakat yang setiap hari dibanjiri suara, pendapat, slogan, serta narasi dari berbagai arah. Saat kita menatapnya lebih lama, pertanyaan pentingnya bukan lagi apakah kalimat itu terlalu keras, melainkan sejauh mana ia memantulkan kenyataan hidup kita.

    Pada satu sisi, ada kebenaran sosial yang sulit disangkal. Manusia adalah makhluk sosial yang hidup di dalam jaringan pengaruh. Sejak kecil cara kita memandang dunia dibentuk oleh keluarga, sekolah, lingkungan, budaya, lalu media. Pendapat yang kita anggap milik sendiri kerap sesungguhnya merupakan endapan dari banyak suara yang lebih dulu memasuki kesadaran kita.

    Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menyaksikan bagaimana sebuah opini memperoleh legitimasi bukan karena argumennya paling kuat, melainkan karena diucapkan oleh figur dengan otoritas simbolik.

    Orang kaya dianggap lebih tahu tentang kesuksesan, figur terkenal dianggap lebih pantas didengar, sementara suara paling keras sering diasumsikan membawa kebenaran paling meyakinkan. Opini publik sering bergerak mengikuti kekuatan citra, bukan kekuatan nalar.

    Namun demikian, untuk mengatakan bahwa kebanyakan orang tidak memiliki opini orisinal juga perlu disikapi dengan hati-hati. Hampir tidak ada opini yang lahir sepenuhnya dari ruang hampa. Pikiran manusia selalu dibentuk oleh pengalaman, bacaan, percakapan, serta konteks sosial tempat ia hidup. Bahkan gagasan besar dalam sejarah lahir dari dialog panjang dengan pemikiran sebelumnya.

    Oleh karena itu persoalannya bukan pada apakah sebuah opini sepenuhnya baru, melainkan bagaimana opini itu terbentuk. Ada perbedaan jelas antara seseorang yang sampai pada kesimpulan tertentu melalui perenungan jujur dengan seseorang yang sekadar mengulang apa yang sedang populer tanpa pernah bertanya mengapa ia mempercayainya.

    Di era digital hari ini, persoalan tersebut menjadi jauh lebih kompleks. Jika dahulu opini dibentuk melalui keluarga, sekolah, kampus, surat kabar, atau forum diskusi, kini sebagian besar persepsi dibangun oleh layar di genggaman tangan kita. Media sosial telah menjadi ruang publik baru, tetapi ruang ini tidak netral. Apa yang tampil setiap hari pada beranda bukan sekadar kumpulan informasi acak. Semuanya telah dipilih, diurutkan, serta diprioritaskan oleh algoritma kecerdasan buatan atau AI yang bekerja nyaris tak terlihat.

    Algoritma mempelajari perilaku kita secara sangat teliti. Ia mencatat apa yang kita klik, video mana yang ditonton sampai selesai, unggahan mana yang disukai, komentar apa yang dibaca, bahkan berapa lama mata berhenti pada satu konten tertentu.

    Dari data itu, sistem membentuk pola preferensi lalu menyodorkan lebih banyak konten yang dianggap sesuai dengan kecenderungan psikologis kita. Pendapat mulai diarahkan secara halus. Bukan dengan memerintah kita untuk percaya, melainkan dengan menentukan apa yang paling sering hadir di hadapan kesadaran.

    Sesuatu yang terus-menerus hadir perlahan terasa akrab, sementara sesuatu yang akrab sering tampak benar. Inilah ilusi yang dibangun oleh ruang digital. Kita merasa sedang memilih apa yang dikonsumsi, padahal sesungguhnya pilihan itu telah lebih dahulu dipersempit oleh mesin.

    Realitas yang tampil di layar bukan dunia yang utuh, melainkan dunia hasil seleksi berdasarkan logika keterlibatan, apa yang paling mungkin membuat kita bertahan lebih lama, terus menggulir, serta terus bereaksi.

    Dalam situasi semacam ini, opini publik mudah berubah menjadi ruang gema. Seseorang dengan kecenderungan pandangan tertentu akan terus diberi konten sejenis. Pandangan berbeda semakin jarang muncul. Akibatnya, dunia tampak seolah sepakat dengan apa yang kita yakini. Padahal, sesungguhnya algoritma hanya sedang memperkuat pantulan keyakinan kita sendiri.

    Di atas kerja algoritma itu, hadir pula buzzer, endorser, serta figur populer yang memainkan pengaruh secara lebih terencana. Para buzzer bekerja dengan menciptakan ilusi keramaian. Satu narasi diulang oleh banyak akun dalam waktu hampir bersamaan sehingga publik menangkap kesan bahwa pandangan tersebut merupakan suara mayoritas.

    Padahal bisa jadi itu hanyalah hasil orkestrasi untuk membentuk persepsi. Sementara itu, para endorser serta influencer memainkan modal simbolik berupa popularitas. Orang sering menerima suatu pendapat bukan karena telah memeriksa dasar argumennya, melainkan karena pendapat itu diucapkan oleh figur yang mereka kagumi.

    Lebih problematisnya, algoritma justru cenderung mengangkat konten paling emosional, paling kontroversial, serta paling memicu reaksi. Konten yang marah, menakutkan, memecah belah, atau memancing euforia sering lebih cepat naik ke permukaan dibandingkan analisis yang tenang serta mendalam.

    Oleh karena itulah suara paling keras sering tampak paling benar. Bukan karena paling rasional, melainkan karena paling efektif memikat perhatian.

    Pada akhirnya kita hidup dalam zaman ketika opini tidak hanya dibentuk oleh manusia lain, tetapi juga oleh mesin, pola data, ekonomi perhatian, serta strategi komunikasi yang dirancang untuk memengaruhi kesadaran massa.

    Pikiran manusia menjadi arena perebutan antara nalar, emosi, popularitas, serta algoritma. Di tengah arus itu, pertanyaan terpenting bukan lagi apakah opini kita sepenuhnya orisinal, melainkan apakah kita sungguh telah memikirkannya.

    Barangkali keaslian yang sesungguhnya bukan terletak pada kebaruan mutlak sebuah pendapat, sebab hampir semua gagasan lahir dari perjumpaan dengan gagasan lain.

    Keaslian justru terletak pada keberanian untuk merefleksikan apa yang diyakini, memeriksa sumbernya, menguji logikanya, serta mempertanyakan siapa yang sedang berbicara di balik layar, apakah suara nurani kita sendiri, suara massa, suara figur populer, atau suara algoritma yang diam-diam mengatur arah kesadaran kita.

    Di zaman ketika suara paling keras sering dianggap sebagai kebenaran, berpikir kritis menjadi bentuk keberanian paling sunyi, namun juga paling mendesak sebagai manusia.

    --- Riri Satria ----

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture