Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • PIKIRAN RANDOM DI SABTU PAGI INI

    04 Apr 2026 | Dilihat: 60 kali

    oleh: Riri Satria

    Sabtu pagi datang seperti biasa, pelan, nyaris tanpa suara, seolah dunia sedang mencoba bersikap baik kepada kita. Cahaya matahari jatuh tipis di sudut jendela, kopi mengepul di meja, dan dari kejauhan terdengar suara kendaraan yang belum terlalu ramai.

    Namun di balik ketenangan yang tampak sederhana itu, ada sesuatu yang bergerak diam-diam, pertanyaan dan kegelisahan yang tidak pernah benar-benar tidur pulas.

    Entah mengapa, pagi ini pikiran terasa melompat-lompat tanpa pola. Dari langit yang cerah, mendadak ingatan bergerak ke berita-berita tentang konflik di Teluk Persia, tentang Timur Tengah yang kembali memanas, tentang ledakan, tentang kapal tanker, tentang jalur energi dunia yang rapuh seperti urat nadi yang sewaktu-waktu bisa tersumbat.

    Perang yang letaknya jauh dari sini, ribuan kilometer dari dapur rumah kita, ternyata memiliki cara yang sangat nyata untuk masuk ke kehidupan sehari-hari. Mula-mula ia hadir sebagai angka di layar berita, harga minyak dunia naik.

    Lalu perlahan angka itu menjelma menjadi sesuatu yang lebih dekat, lebih akrab, dan lebih terasa. Ongkos transportasi naik. Harga bahan pokok merangkak. Distribusi menjadi lebih mahal. Pasar mulai berbisik tentang kemungkinan kelangkaan. Pedagang kecil mulai menghitung ulang margin keuntungan yang makin tipis. Rumah tangga kembali belajar menahan keinginan.

    Kita semakin sadar bahwa geopolitik bukan sekadar istilah yang mengawang-awang dan jauh. Ia bisa menjelma menjadi harga cabai di pasar, tarif angkutan, biaya listrik, bahkan jumlah uang yang tersisa di dompet pada akhir bulan. Kadang hidup memang seperti itu, bahwa sesuatu yang terjadi di langit politik global turun menjadi gempa kecil di meja makan keluarga di rumah.

    Di tengah semua kegelisahan itu, Indonesia justru diproyeksikan tumbuh cukup kuat pada 2026. Pemerintah optimistis ekonomi bisa berada di kisaran 5,4% hingga 5,6%, sementara proyeksi yang lebih hati-hati dari Bank Indonesia dan sejumlah lembaga berada di sekitar 5,33–5,4%.

    Angka-angka itu terdengar menenangkan, hampir seperti kalimat penghibur. Pertanyaan yang diam-diam muncul justru sangat manusiawi, benarkah optimisme itu akan terasa sampai ke kehidupan sehari-hari? Ataukah ia hanya tinggal sebagai statistik yang indah di podium konferensi pers?

    Kadang saya merasa pertumbuhan ekonomi adalah semacam puisi modern, indah dalam struktur, rapi dalam presentasi, tetapi maknanya sering kali terasa berbeda ketika bersentuhan dengan kenyataan. Sebab masyarakat tidak hidup dari persentase.

    Masyarakat hidup dari rasa cukup. Mereka hidup dari harga beras yang stabil, biaya sekolah yang masuk akal, BBM yang tidak melonjak, peluang kerja yang benar-benar terbuka, dan keyakinan bahwa besok masih bisa dijalani tanpa terlalu banyak rasa takut.

    Di sinilah agenda strategis negara itu menjadi menarik sekaligus mengundang renungan. Ketahanan pangan, misalnya, bukan hanya agenda kebijakan. Ia adalah soal piring makan di rumah-rumah rakyat. Ketika pemerintah berbicara tentang modernisasi pertanian dan cadangan pangan nasional, yang sesungguhnya dipertaruhkan adalah rasa aman paling dasar, apakah besok kita masih bisa makan dengan tenang.

    Ketahanan energi juga demikian. Konflik global mengingatkan kita betapa rentannya ketergantungan pada energi impor. Kenaikan harga minyak dunia selalu punya gema yang panjang. Maka strategi energi nasional bukan sekadar jargon, tetapi kebutuhan yang sangat nyata agar kita tidak terus-menerus menjadi penonton dari gejolak luar.

    Lalu program makan bergizi gratis, pendidikan bermutu, kesehatan yang inklusif, pembangunan desa, koperasi, UMKM, pertahanan, hingga investasi, semuanya seperti potongan puzzle besar yang sedang dirakit oleh negara.

    Masalahnya, masyarakat sering kali hidup di antara dua perasaan yang bertolak belakang, yaitu optimisme dan kebingungan. Kita ingin percaya, tetapi kita juga pernah terlalu sering berharap. Harapan itu indah, tetapi pengalaman mengajarkan kita untuk sedikit waspada.

    Mungkin itu sebabnya Sabtu pagi ini terasa random. Pikiran tidak berjalan lurus. Ia meloncat dari konflik Timur Tengah ke harga minyak, dari harga minyak ke pasar tradisional, dari pasar ke angka pertumbuhan ekonomi, lalu kembali lagi ke pertanyaan sederhana, apakah hidup benar-benar akan menjadi lebih baik?

    Saya kira jawaban yang paling jujur bukan optimistis sepenuhnya, dan bukan pula pesimistis, melainkan optimisme yang sadar realitas. Kita boleh berharap, bahkan harus berharap, sebab bangsa yang kehilangan harapan akan mudah jatuh pada kelelahan kolektif. Namun harapan itu perlu berdiri di atas nalar yang jernih. Kita tidak bisa hanya percaya pada angka makro tanpa melihat bagaimana dampaknya sampai ke tingkat mikro.

    Pada akhirnya, ekonomi bukan hanya soal APBN, defisit, investasi, dan pertumbuhan. Ekonomi adalah cerita tentang manusia, tentang ibu yang menghitung pengeluaran dapur, tentang petani yang cemas pada musim, tentang pedagang yang menunggu pembeli, tentang pekerja yang berharap upahnya cukup, tentang anak-anak yang menanti masa depan yang lebih lapang.

    Sabtu pagi ini, mungkin memang tidak ada pola yang jelas, seperti hidup itu sendiri. Namun justru di dalam ketidakteraturan itulah kita belajar satu hal, bangsa yang besar bukan bangsa yang bebas dari guncangan, melainkan bangsa yang mampu tetap berdiri di tengah ketidakpastian.

    Di antara kopi yang mulai dingin dan berita dunia yang terus bergerak, kita hanya perlu menyimpan satu sikap yang paling masuk akal, yaitu berharap, sambil tetap hemat, waspada, dan terus berpikir jernih.

    Random kali ya? Hehehe

    --- Riri Satria ---

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    NEXT EVENT


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture