Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Kelihatannya buku pertama saya yang rampung tahun 2026 ini adalah buku kumpulan puisi berjudul "Bom Waktu: Kumpulan Puisi tentang Perkembangan Peradaban dan Ketimpangannya"
Insya Allah akan menyusul setelahnya (sekarang masih dalam pesiapan), dua buku yang rada mumet, tentang analisis reflektif industri 5.0, ekonomi, bisnis, serta buku analisis reflektif tentang perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan.
Pada buku ini, ada hampir 100 puisi yang memotret perkembangan ekonomi, sosial, budaya, teknologi, lingkungan hidup, serta berbagai isu kemanusiaan, dengan segala ketimpangannya, yang dikhawatikan akan jadi bom waktu dan meledakkan peradaban itu sendiri.
Buku ini adalah refleksi saya mengamati kemajuan zaman sebagai orang yang dekat dengan dunia teknologi, ekonomi, birokrasi, serta mengamati persoalan sosial budaya, dan kemanusiaan.
Beberapa pemikiran juga menjadi referensi saya untuk puisi pada buku ini, antara lain: Jared Diamond, Yuval Noah Harari, Joseph Eugene Stiglitz, Bill Gates, David Korten, Ziauddin Sardar, serta Nelson Mandela.
Yuk memahami dan membahas isu global dan perkembangan peradaban serta ketimpangan, dengan cara yang puitis.
Insya Allah akan terbit bulan Mei 2026 ini. Mohon dukungan dan restu sahabat pencinta puisi 🙏🏻😎🥰📚![]()
------------------
BOM WAKTU
Di bawah langit yang semakin penuh antena
dan kabel-kabel yang meniru akar pohon
manusia membangun kota-kota dari cahaya
menyusun algoritma seperti doa-doa baru
dan memahat masa depan
dari layar-layar yang tidak pernah tidur.
Peradaban berjalan cepat
terlalu cepat barangkali
seperti kereta yang melaju
melewati stasiun-stasiun kesunyian.
Ekonomi tumbuh seperti hutan beton
teknologi beranak pinak seperti bintang digital
sosial berubah wajah setiap detik
budaya berlari mengejar bayangannya sendiri
sementara bumi
planet tua yang sabar itu
terus menahan napas panjang.
Kita merayakan kemajuan
seperti pesta tanpa akhir
grafik yang menanjak
data yang berkilau
mesin yang semakin cerdas dari hari ke hari
Namun di sela-sela tepuk tangan itu
ada sesuatu yang berdetak.
Sebuah bom waktu
yang kita simpan diam-diam
di ruang bawah tanah peradaban.
Namanya ketimpangan.
Ia hidup di antara gedung-gedung tinggi
dan gang-gang yang gelap
di antara jaringan internet tercepat
dan desa-desa yang masih mencari sinyal
di antara perut yang berlimpah
dan perut yang menunggu roti.
Ia juga bernafas
dalam sungai yang semakin keruh
dalam hutan yang pelan-pelan hilang dari peta
dalam udara yang semakin berat
di paru-paru generasi yang belum lahir.
Peradaban kita seperti kota besar
yang dibangun di atas ruang mesin
yang tak pernah kita periksa.
Di sana
bom itu terus berdetak.
Kita tahu ia ada
tetapi sering pura-pura tidak mendengarnya
karena musik kemajuan
terlalu keras untuk dihentikan.
Padahal jurang mulai menganga
antara kaya dan miskin
antara pusat dan pinggiran
antara manusia dan alam
yang semakin kehilangan bahasa bersama.
Dan suatu hari
jika kita terus menunda pertanyaan-pertanyaan paling dasar
ledakan itu mungkin bukan suara bom
melainkan runtuhnya makna.
Runtuhnya keadilan!
Runtuhnya kemanusiaan!
Maka kita harus berhenti sejenak
di tengah jalan yang terlalu cepat
menunduk
mendengarkan detak itu dengan jujur.
Apa arti kemajuan
jika manusia saling meninggalkan?
Apa arti teknologi
jika bumi kehilangan napasnya?
Apa arti peradaban
jika keadilan hanya menjadi legenda?
Bom waktu itu masih berdetak.
Di tangan kita.
Dan mungkin
masa depan bukan ditentukan
oleh seberapa cepat kita maju
melainkan
seberapa berani kita membongkar
bom yang kita buat sendiri.
---------
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]