Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • DELTA MODEL: Refleksi Dua Dekade Mengajar dan Bertemu Delta Model

    21 Feb 2026 | Dilihat: 13 kali

    oleh: Riri Satria

    Selama hampir dua puluh tahun saya mengasuh mata kuliah Strategic Management dan Strategic Thinking, dan ruang kelas yang saya masuki pun beragam, dari Magister Manajemen, Magister Teknologi Informasi, hingga Magister Ilmu Komunikasi.

    Setiap program membawa perspektifnya sendiri, bahasa bisnis, logika teknologi, hingga kepekaan komunikasi, namun semuanya bertemu pada satu pertanyaan yang sama, yaitu bagaimana organisasi bertahan dan unggul dalam dunia yang terus berubah?

    Dalam perjalanan panjang itu, saya telah berkali-kali membahas konsep-konsep strategi yang nyaris menjadi “pakem”. Mahasiswa umumnya sangat akrab dengan Porter’s Generic Strategy, Ansoff’s Product–Market Matrix, dan Blue Ocean Strategy karya W. Chan Kim dan Renée Mauborgne. Kerangka-kerangka tersebut sudah seperti kosakata dasar dalam diskusi strategi, jelas, sistematis, dan relatif mudah dipetakan ke studi kasus.

    Namun justru di titik itulah saya menemukan satu ironi kecil di kelas, yaitu Delta Model. Sebuah konsep strategis yang kuat, relevan, dan dikembangkan di lingkungan akademik kelas dunia, tetapi justru paling jarang didengar sebelumnya oleh mahasiswa. Hampir selalu, ketika saya menampilkan segitiga Delta Model di layar, respons pertama yang muncul adalah tatapan penasaran, bukan pengenalan, berbeda dengan tiga hal yang saya sebutkan tadi, mereka akrab dengan hal itu.

    Karena itulah setiap kali Delta Model masuk dalam silabus, pembahasannya hampir selalu lebih mendalam dan memakan waktu lebih panjang dibandingkan topik strategi lainnya. Bukan karena konsepnya rumit secara teknis, melainkan karena ia menggeser cara berpikir.

    Berbeda dengan banyak pendekatan strategi yang menempatkan kompetitor sebagai pusat perhatian, Delta Model mengajak kita berhenti sejenak dari logika “mengalahkan pesaing”. Ia menawarkan sudut pandang yang terasa sederhana, bahkan nyaris intuitif, tetapi implikasinya sangat radikal, yaitu strategi adalah tentang membangun ikatan dengan pelanggan.

    Delta Model adalah pendekatan manajemen strategis yang berpusat pada pelanggan atau customer-centric, dikembangkan oleh Arnoldo Hax dan Dean Wilde dari MIT. Berbeda dengan strategi konvensional yang fokus pada produk, model ini bertujuan membangun ikatan kuat dengan pelanggan melalui tiga jalur yaitu Best Product, Customer Solutions, atau System Lock-in.

    Dalam Delta Model, Best Product yang selama ini menjadi kebanggaan banyak perusahaan, justru diposisikan sebagai pilihan yang paling rentan. Produk terbaik, harga termurah, atau fitur tercanggih ternyata tidak cukup untuk menciptakan keunggulan jangka panjang. Mahasiswa sering terdiam ketika menyadari bahwa inovasi produk yang mereka banggakan hari ini bisa dengan cepat ditiru besok pagi.

    Diskusi menjadi lebih hidup ketika kami beralih ke Total Customer Solutions. Di sini strategi tidak lagi berhenti pada apa yang kita jual, tetapi pada masalah apa yang benar-benar kita selesaikan. Bagi mahasiswa Magister Teknologi Informasi, ini langsung beresonansi dengan isu integrasi sistem dan pengalaman pengguna.

    Bagi mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, konsep ini berbicara tentang relasi, kepercayaan, dan makna. Sementara bagi mahasiswa Magister Manajemen, ini adalah pengingat bahwa nilai ekonomi sering kali lahir dari hubungan jangka panjang, bukan transaksi sesaat.

    Namun puncak refleksi biasanya terjadi saat membahas System Lock-In. Pada titik ini, Delta Model menunjukkan wajah strateginya yang paling dewasa. Keunggulan tidak lagi berdiri pada satu perusahaan, melainkan pada ekosistem jaringan pelanggan, mitra, pemasok, dan standar yang saling menguatkan.

    Banyak mahasiswa kemudian menyadari bahwa perusahaan-perusahaan digital yang mereka gunakan setiap hari tidak sekadar menjual produk, tetapi membangun dunia kecil tempat semua pihak saling bergantung.

    Sebagai pengajar, Delta Model memberi saya kepuasan intelektual yang berbeda. Ia tidak hanya memperkaya daftar teori dalam kepala mahasiswa, tetapi memaksa mereka bertanya lebih dalam, apakah strategi kita selama ini terlalu sibuk berperang, sampai lupa membangun hubungan? Teori Perang Tun Zu mungkin terlalu mendalam merasuk kepada kita.

    Setelah dua dekade mengajar strategi, saya justru merasa Delta Model relevansinya semakin kuat. Di tengah disrupsi teknologi, banjir informasi, dan pelanggan yang semakin kritis, keunggulan kompetitif terasa makin rapuh jika hanya bertumpu pada produk atau harga. Justru yang bertahan adalah organisasi yang dipilih, dipercaya, dan “dicintai” oleh pelanggannya.

    Mungkin itulah sebabnya Delta Model tidak langsung populer. Ia menuntut kedewasaan berpikir, baik dari mahasiswa maupun praktisi. Tetapi justru karena itulah, setiap kali saya membahasnya di kelas, saya merasa sedang tidak sekadar mengajarkan strategi, melainkan mengajak mahasiswa memikirkan ulang makna keberadaan sebuah organisasi.

    Dan bagi saya pribadi, di antara sekian banyak kerangka strategi yang pernah saya ajarkan, Delta Model selalu terasa seperti pengingat sunyi: bahwa pada akhirnya, strategi terbaik bukan hanya tentang menang, tetapi tentang membangun hubungan yang bermakna dan berkelanjutan.

    --- Riri Satria ---

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture