Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • APA BEDANYA ANGKASA PURA DENGAN INJOURNEY?

    10 Jan 2026 | Dilihat: 622 kali

    Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney.

    Dalam perjalanan menuju ruang rapat melewati lobbi Terminal 3, mata saya menangkap sesuatu yang terasa baru. Di berbagai sudut bandara, tulisan InJourney Airports terpampang jelas. Di dinding, di papan petunjuk, di ruang-ruang yang dulu begitu lekat dengan satu nama yaitu Angkasa Pura.

    Nah mungkin muncul pertanyaan di benak banyak orang. Apakah InJourney ini nama baru Angkasa Pura? Apakah Angkasa Pura sudah berganti wajah? Atau sedang berganti peran?

    Selama iniĀ  Angkasa Pura adalah bandara itu sendiri atau setidaknya begitu yang kita pahami. Ia mengelola terminal, landasan pacu, arus penumpang, dan segala urusan teknis yang membuat pesawat bisa datang dan pergi dengan selamat. Angkasa Pura bekerja dalam diam dalam logika operasional, memastikan sistem berjalan tanpa drama. Kita jarang menyadari keberadaannya, kecuali ketika terjadi keterlambatan atau antrean panjang.

    Namun tulisan InJourney Airports seolah memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang sedang berubah. Bukan sekadar pergantian logo atau rebranding visual, melainkan perubahan cara pandang. InJourney bukan operator bandara. Ia bukan pengganti Angkasa Pura dalam pengertian teknis. Angkasa Pura tetap ada, tetap mengelola bandara, tetap memastikan roda penerbangan berputar.

    InJourney berada di lapisan yang berbeda. Ia adalah holding, induk strategis, semacam pengatur besar yang mencoba menyatukan potongan-potongan perjalanan yang selama ini terpisah. Bandara, maskapai, hotel, kawasan wisata, pusat perbelanjaan, hingga destinasi budaya, saat ini semuanya dikumpulkan dalam satu ekosistem. Jika Angkasa Pura bertugas memastikan bandara berfungsi, InJourney bertanya lebih jauh, apa arti bandara dalam keseluruhan pengalaman perjalanan?

    Bandara dalam kacamata InJourney, bukan lagi sekadar tempat transit. Ia adalah pintu cerita. Kesan pertama dan kesan terakhir. Ruang pertemuan antara negara dan dunia. Maka wajar jika nama InJourney kini hadir di ruang-ruang yang selama ini kita kenal sebagai wilayah Angkasa Pura. Bukan untuk menghapus, melainkan untuk menaungi.

    Di ruang tunggu bandara saya menyadari bahwa perubahan ini mencerminkan pergeseran yang lebih besar. Negara tidak lagi hanya mengelola aset, tetapi ingin mengelola pengalaman. Tidak cukup pesawat mendarat dengan aman; perjalanan harus terasa utuh, terhubung, dan bermakna. Dari pesawat Garuda yang mendarat, terminal yang dikelola Angkasa Pura, hotel dan kawasan wisata milik negara, hingga etalase Sarinah, semuanya ingin dirangkai sebagai satu narasi.

    Maka jawaban atas pertanyaan tadi menjadi lebih jernih. InJourney bukan nama baru Angkasa Pura. Ia bukan pengganti, melainkan payung. Angkasa Pura adalah pemain yang memastikan musik dimainkan dengan benar. InJourney adalah dirigen yang menentukan irama dan arah pertunjukan.

    Apakah orkestrasi ini akan berhasil? Itu pertanyaan lain, yang jawabannya tidak bisa lahir dari satu rapat atau satu tulisan. Ia akan diuji oleh waktu, oleh konsistensi kebijakan, dan oleh pengalaman nyata para penumpang, oleh kita semua.

    Namun di Bandara Soekarno-Hatta hari ini, di antara papan bertuliskan InJourney Airports, satu hal terasa jelas, bandara tidak lagi hanya soal keberangkatan dan kedatangan. Ia sedang diposisikan sebagai bagian dari cerita yang lebih panjang yaitu tentang bagaimana Indonesia ingin menyambut dunia, dan bagaimana perjalanan itu ingin dikenang.

    Dan mungkin, tanpa kita sadari, perubahan besar sering kali memang dimulai dari ruang tunggu seperti ini, tempat orang tidak sedang pergi ke mana-mana, tetapi justru mulai bertanya.

    Fungsi utama InJourney untuk menyusun strategi besar ekosistem aviasi dan pariwisata Indonesia dengan membangun sinergi dan sinkronisasi bandara, maskapai penerbangan, destinasi wisata, serta hotel dan retail. Injourney juga bertanggung jawab untuk meningkatkan nilai ekonomi pariwisata nasional, serta mengelola aset strategis negara agar terintegrasi Singkatnya InJourney adalah holding strategis dan orkestrator ekosistem.

    Berdasarkan sumber yang menggambarkan portofolio, InJourney memiliki beberapa sub-unit inti yang mengelola bagian berbeda dari ekosistem pariwisata dan aviasi yaitu:InJourney Airports mengelola bandara (hasil merger Angkasa Pura I dan II), InJourney Aviation Services (IAS) untuk layanan aviasi (ground, kargo, hospitality), InJourney Tourism Development Corp mengelola kawasan pariwisata besar (termasuk ITDC Nua Dua Bali serta kawasan Mandalika), InJourney Destination Management mengelola destinasi budaya dan wisata, InJourney Hospitality untuk layanan hotel dan hospitality (termasuk Hotel Indonesia group), sertaInJourney Retail untuk mengelola retail dan pusat belanja (termasuk Sarinah)

    Saya orang Pelindo. Dunia pelabuhan membentuk cara berpikir saya, yaitu keras, sistemik, dan presisi. Di pelabuhan, kompleksitas tampak jelas dan berisik, kapal, crane, kontainer, truk, jadwal sandar, cuaca, dan regulasi yang saling mengunci. Satu simpul terganggu, seluruh rantai logistik ikut tersendat. Di sini makna kompleksitas adalah soal barang, waktu, dan biaya.

    Ketika saya mencermati InJourney, saya menyadari bahwa kompleksitas tidak selalu berbunyi bising. InJourney mengelola bandara, pariwisata, hospitality, dan retail, ebuah ekosistem yang berurusan langsung dengan manusia. Jika Pelindo bekerja di wilayah efisiensi, InJourney bekerja di wilayah pengalaman. Bandara bukan sekadar simpul transportasi, melainkan wajah pertama dan terakhir sebuah negara. Pariwisata bukan hanya angka kunjungan, tetapi rasa, kesan, dan cerita yang dibawa pulang.

    Perbedaan ini semakin terasa di ranah digital. Tranformasi ddigital Pelindo berorientasi pada presisi, sistem harus stabil, terstandar, dan minim kesalahan agar barang bergerak lancar. Keberhasilannya diukur dari kecepatan dan efisiensi.

    Sementara itu transformasi digital InJourney berurusan dengan persepsi, kenyamanan penumpang, alur perjalanan, kemudahan layanan, dan citra. Gangguan kecil bisa berdampak besar karena berhadapan langsung dengan publik.

    Dari situ saya belajar bahwa mengelola pelabuhan menuntut ketangguhan sistem, sedangkan mengelola bandara dan pariwisata menuntut kepekaan rasa. Keduanya sama-sama kompleks, hanya berbeda wajah. Menggerakkan barang memang sulit, tetapi mengelola pengalaman manusia sering kali jauh lebih rumit.

    (Riri satria - Bandara Intrnasional Sokarno Hatta, 9 Januari 2026)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku ā€œApa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: ā€œJendelaā€ (2016), ā€œWinter in Parisā€ (2017), ā€œSiluet, Senja, dan Jinggaā€ (2019), ā€œMetaverseā€ (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul ā€œAlgoritma Kesunyianā€ (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: ā€œUntuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnisā€ (2003), trilogi ā€œProposisi Teman Ngopiā€ (2021) yang terdiri tiga buku ā€œEkonomi, Bisnis, dan Era Digitalā€, ā€œPendidikan dan Pengembangan Diriā€, dan ā€œSastra dan Masa Depan Puisiā€ (2021), serta ā€œJelajahā€ (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa AlaaĀ atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ā  Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Ā  oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ā  Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik šŸ˜šŸ„³šŸš€šŸ”„
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture