Riri Satria
KATEGORI
  • Terkini
  • Dokumen
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • DARI LUKA KE KATA: PUISI SEBAGAI RUANG PULANG

    31 Dec 2025 | Dilihat: 14 kali

    Sebuah Catatan untuk Buku Kumpulan Puisi Terbaru karya Emi Suy, "Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri"

    oleh: Riri Satria

    Selamat untuk sahabat saya, penyair  Emi Suy atas terbitnya buku kumpulan puisi terbaru berjudul "Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri". Buku ini merangkum puisi-puisi karya Emi Suy dalam kurun waktu tahun 2022- 2025 yang pernah dimuat di berbagai media.

    Berangkat dari sebuah kalimat yang sederhana namun menggetarkan, “Perempuan mesti bisa menjahit, setidaknya menjahit lukanya sendiri”, kita seakan diajak berhenti sejenak, menarik napas, lalu menoleh ke dalam diri. Kalimat itu bukan slogan, bukan pula metafora yang dibuat untuk sekadar indah didengar. Ia adalah kesaksian hidup. Ia lahir dari tubuh yang pernah sobek oleh diam, retak oleh pengabaian, dan nyaris runtuh oleh ketidakadilan yang lama disenyapkan. Dari sanalah buku kumpulan puisi terbaru Emi Suy menemukan napasnya.

    Buku ini, yang merangkum puisi-puisi Emi dalam rentang waktu 2022–2025, bukanlah sekadar arsip karya yang pernah dimuat di berbagai media nasional dan digital. Menurut Emi, buku ini adalah rumah. Sebuah tempat pulang bagi puisi-puisi yang sebelumnya bertebaran di koran pagi dan linimasa media sosial, dibaca, disentuh sebentar, lalu sering kali dilupakan.

    Baginya, puisi-puisi tertentu tidak boleh lenyap begitu saja. Mereka telah melewati dua kurasi yaitu kurasi redaktur yang ketat, dan kurasi yang jauh lebih sunyi berupa pengakuan dari banyak hati manussia yang pernah hampir kehilangan arah.

    Dalam teori sastra, kita mengenal gagasan "writing as healing" atau menulis sebagai praktik penyembuhan. Puisi, dalam konteks ini, bukan sekadar ekspresi estetis, melainkan kerja eksistensial. Ia mendekati apa yang oleh Paul Ricoeur (filsuf asal Prancis, 1913-2005) disebut sebagai testimony atau kesaksian personal yang sekaligus memiliki daya etis.

    Menurut saya, puisi Emi Suy bekerja di wilayah itu. Ia tidak menawarkan solusi, tidak memberi khotbah tentang ketegaran, apalagi memaksa perempuan untuk selalu tampak kuat. Justru sebaliknya, buku ini menyediakan ruang di mana perempuan boleh rapuh, boleh hancur, dan perlahan dengan tangannya sendiri menjahit serpihan yang tersisa.

    Saya teringat ketika pertama kali menyimak proses kreatif buku ini dibicarakan secara terbuka. Saat itu, dalam Diskusi Kosakata: Komunitas Sastra Jakarta Barat bertajuk “Proses Kreatif Emi Suy, Perempuan Penjahit Luka”, yang didukung oleh Komisi Simpul Seni Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan berlangsung di Gedung PPSB Jakarta Barat pada 8 September 2025, saya menjadi salah seorang narasumber. Buku ini masih dalam tahap persiapan.

    Saat ini perbincangan bukan hanya tentang teknik, tetapi tentang keberanian untuk jujur pada luka. Saya ikut memberi masukan, namun yang lebih kuat saya rasakan justru keheningan yang menyertai setiap cerita di balik puisi-puisi itu.

    Saya mengamati bahwa keheningan itulah yang terasa sangat dominan dalam buku ini. Sebagaimana pengantar penyairnya, Emi menulis tentang luka-luka yang tak dapat diserahkan kepada dunia untuk diobati. Ada nyeri yang tidak bisa dititipkan di punggung siapa pun. Maka "menjahit" dari dalam diri sendiri menjadi satu-satunya jalan.

    Dalam psikologi trauma, ini mirip dengan konsep "self-agency" yang dikembangkan oleh Dorothea E. Orem, seorang ahli kesehatan asal AS dalam pemikirannya "Self-Care Deficit Nursing Theory" (1914-2007),  yaitu kemampuan individu untuk mengambil alih kembali narasi hidupnya setelah pengalaman traumatik. Puisi-puisi Emi adalah benang-benang kecil yang memungkinkan proses itu terjadi, pelan, tidak selalu rapi, tetapi jujur.

    Daya puisi seperti yang disadari Emi, kadang bekerja secara nyaris tak terduga. Ia pernah menyaksikan bagaimana satu larik menjelma tali hidup seseorang. Seseorang yang nyaris mengakhiri hidupnya, lalu memilih bertahan karena membaca sebuah puisi.  Mungkin puisi itu bukan penawar. Tetapi ia menjadi benih kecil cukup untuk menggugah niat bertahan. Di titik inilah sastra menunjukkan kekuatannya yang paling sunyi dan paling radikal, yaitu menyelamatkan tanpa mengklaim apa pun.

    Saya melihat sendiri bagaimana sebuah puisi pada Emi tidak pernah benar-benar lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari keseharian, dari percakapan yang terputus, dari keheningan yang terlalu lama dibiarkan, dari pengalaman sebagai perempuan yang berulang kali harus merawat luka tanpa banyak saksi. Proses kreatif Emi bukan proses yang tergesa. Ia lebih menyerupai endapan. Kata-kata mengendap lama di dalam diri, lalu suatu saat muncul dengan tenang, nyaris tanpa teriak, tetapi tepat di tempat yang paling nyeri.

    Sebagai perempuan penyair, Emi memiliki suara yang khas. Bukan karena ia berteriak tentang identitas, melainkan karena ia setia pada pengalaman perempuan yang sering kali dipaksa diam. Dalam puisinya luka tidak dipertontonkan, tetapi dihadirkan apa adanya. Tidak dilebihkan, tidak pula disembunyikan. Ini mengingatkan saya pada gagasan Audre Lorde, seorang perempuan penyair, akademisi, serta filsuf (asal AS, 1934-1992), tentang "the transformation of silence into language and action" atau bagaimana pengalaman sunyi, ketika diberi bahasa, dapat menjadi kekuatan yang membebaskan. Puisi Emi bergerak di jalur itu yaitu mengubah diam menjadi kata, tanpa kehilangan kerendahan hatinya.

    Kedekatan saya dengan Emi tidak berhenti pada percakapan atau diskusi membahas karya. Kami beberapa kali tampil membaca puisi duet dalam berbagai kesempatan, dan dari situlah saya semakin memahami bagaimana puisinya hidup di luar halaman buku. Kami pernah membaca puisi duet bersama di "Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2023" di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, juga di "Temu Penyair Asia Tenggara ke-2" tahun 2023 di Padangpanjang, Sumatera Barat. Kami juga beberapa kali berbagi panggung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. sebuah ruang yang selalu menyimpan gema sejarah sastra Indonesia.

    Namun, ada satu momen yang paling membekas bagi saya yaitu ketika membaca puisi duet bersama Emi di pelataran Jam Gadang, Bukittinggi, di kampung halaman saya sendiri. Saat itu, puisi terasa menemukan konteksnya yang paling jujur. Kata-kata Emi bertemu dengan ruang yang sarat ingatan personal bagi saya, yaitu angin dingin malam di Bukittinggi, suara langkah orang-orang, dan bayangan masa kecil seolah ikut menjadi bagian dari pembacaan. Di sana saya merasakan bahwa puisi bukan lagi teks, melainkan peristiwa. Ia hidup, bernapas, dan beresonansi dengan tempat serta kenangan.

    Buku Algoritma Kesunyian (2023) menjadi semacam simpul yang mempertemukan dua dunia kami yang pada awalnya, tampak berjauhan. Saya dan Emi Suy menuliskannya bersama bukan sekadar sebagai proyek duet, melainkan sebagai dialog yang jujur antara dua cara memandang hidup dan puisi. Jika Emi kerap disebut sebagai “penyair sunyi”, maka saya datang dari wilayah yang nyaris berlawanan yaitu dunia teknologi digital, algoritma, dan ilmu komputer, sebuah dunia yang bekerja dengan logika, struktur, dan presisi. Kontradiktif yang saling melngkapi. Begitulah.

    Buku Emi yang terbaru ini "Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri" dievaluasi oleh kurator Sofyan RH Zaid dan rencananya akan diluncurkan pada Januari atau Februari 2026 mendatang oleh Komunitas Sastra Jakarta Barat (Kosakata). Emi meminta saya sebagai salah satu narasumber pembahas nantinya, di samping Sofyan tentunya.

    Dalam buku ini pula, ada dua puisi yang secara personal sangat berarti bagi saya karena memang secara eksplisit ditujukan buat saya, yaitu “Doa” (hal. 125) dan “Jendela Jakarta” (hal. 127). Terima kasih Emi untuk kedua puisi itu.

    Menempatkan buku ini dalam lanskap perjalanan kepenyairan Emi Suy, kita melihat kesinambungan yang kuat. Sejak "Tirakat Padam Api" (2011), "Alarm Sunyi" (2017), "Ayat Sunyi" (2019), hingga "Api Sunyi"  (2020) serta "Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami" (2022), Emi konsisten menulis dari wilayah sunyi, dari celah antara doa dan luka. Sebagian dari tulisan dia dalam buku kumpulan esainya "Interval" (2023) pun juga demikian.

    Buku ini mempertegas posisi itu. Ia juga berdialog dengan aktivitas Emi di luar sastra seperti kerja sosial kemanusiaan, keterlibatan komunitas, fotografi, seni rupa, serta pentas seni tradisional seperti Lenong Betawi. Semua itu membentuk satu tubuh kreatif yang utuh yaitu tubuh yang paham bahwa seni bukan pelarian, melainkan cara bertahan.

    Pada akhirnya, menurut saya buku "Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri" bukanlah buku tentang kemenangan. Ia adalah buku tentang keberanian untuk tidak menyerah. Ini tentang menjahit hidup dari dalam, ketika dunia terlalu bising atau terlalu abai. Ia adalah ruang kecil bukan klinik, bukan kuil, melainkan tempat benang-benang makna, sabar, air mata, dan keteguhan dirajut menjadi kemungkinan baru.

    Sekali lagi, selamat Emi Suy 👍🥰😎

    (31 Desember 2025)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • DOWNLOAD DOKUMEN

      May 17, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    RECENT EVENT

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture