Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang dikenal luas dengan istilah AI itu adalah buatan, bukan kecerdasan hakiki yang dimiliki manusia. Dengan demikian, tetap manusia yang memegang kendali, manusia yang menjadi subyek dengan memaksimalkan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau high order thinking skills yang dikenal dengan istilah HOTS.
“Manusia itu adalah subyek, bukan obyek. Namun, masalah akan mendatangi manusia yang hanya memiliki kapasitas kemampuan berpikir tingkat rendah atau low order thinking skills yang dikenal dengan istilah LOTS. AI itu butuh referensi untuk membuat struktur atau pola, maka dia mereferensi kepada manusia, bukan sebaliknya. Manusia seperti apa? Yaitu yang mampu memaksimalkan HOTS, bukan hanya sekadar LOTS,” ujar Pakar Transformasi Digital, Penyair, sekaligus Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia, Riri Satria, saat menyampaikan Orasi Budaya pada acara Kolong Art Fies 2023 yang diselenggarakan Komunitas Koloni Seniman Ngopi Semeja Depok, menjelang Tahun Baru 2024, Minggu (31/12/2023), di mini stage bawah flyover Jalan Arief Rahman Hakim, Depok.
Riri Satria mengutip perkataan John Naisbitt, penulis buku High Tech High Touch, di mana perkembangan teknologi yang tinggi (high tech) tidak akan bisa dibendung karena ini adalah bagian dari perkembangan peradaban itu sendiri. Namun, semua itu harus diiringi dengan sentuhan manusiawi yang semakin tinggi (high touch) supaya semua membawa kemaslahatan untuk kehidupan umat manusia.
“Banyak yang mengatakan bahwa dengan perkembangan teknologi digital termasuk kecerdasan buatan saat ini, aspek-aspek kemanusiaan mulai memudar. Nah, saya tidak sependapat!” tegas Riri Satria.

Lebih lanjut Riri Satria mengatakan bahwa nilai-nilai dasar seperti cinta kasih, kebersamaan, dan sebagainya, tidak akan hilang. Namun, wujud teknisnya sehari-hari itulah yang mengalami perubahan, misalnya kebersamaan atau gotong royong dalam meringankan beban sesama. Dulu dilakukan dengan mengumpulkan donasi atau barang-barang bantuan di balai desa, sedangkan saat ini dilakukan melalui crowdfunding dengan memanfaatkan media sosial.
“Prinsip dasarnya sama, hanya teknis operasionalnya yang berubah akibat perkembangan teknologi,” paparnya.
Membuka Ruang Kreativitas Baru
Menyikapi AI itu, menurut Riri Satria, manusia harus membuka ruang-ruang kreativitas baru yang merupakan keunggulan dan tak pernah bisa tergantikan oleh mesin.
“Inilah peluang kita untuk mempertegas mana porsi mesin dan mana porsi manusia,” katanya.
Riri percaya dengan prinsip human intelligence is above artificial intelligence. Dengan demikian masih dibutuhkan sentuhan manusia dengan HOTS untuk hal ini. Namun, AI dan teknologi lainnya memang akan menjadi persoalan bagi manusia yang tidak mampu mengembangkan kapasitas dirinya, sehingga kemampuan-kemampuan yang dia miliki sudah kalah dengan mesin.
“Kemampuan tertinggi manusia itu adalah kreativitas dan berinovasi, ini yang sulit untuk ditiru oleh teknologi apa pun. Jadi, teknologi kecerdasan buatan kita perlakukan sebagai tools atau alat bantu saja, bukan sebagai end-result. Ini berarti campur tangan manusia tetap diperlukan. Prinsipnya mesin yang harus belajar kepada manusia, bukan manusia yang diatur oleh dalam proses kreativitas,” jelas Riri.
Riri juga menyebut teori Taksonomi Bloom bahwa manusia dikarunai Tuhan sebanyak enam tingkatan kemampuan berpikir, yaitu remembering (mengingat atau menghafal), understanding (memahami), applying (menggunakan dengan tepat), analysing (menganalisis) evaluation (mengevaluasi), serta creating (mencipta). Tiga yang pertama disebut dengan istilah LOTS atau low order thinking skills, sedangkan tiga yang kedua disebut dengan HOTS atau high order thinking skills. Sejatinya manusia tentu harus memaksimalkan karunia Tuhan ini, namun perjalanan hidup orang per orang membuat ada yang bisa memaksimalkan, ada yang setengah maksimal, serta ada yang tidak maksimal.
“Munculnya AI akan menjadi masalah buat mereka yang hanya berhenti pada LOTS dan tidak mampu memaksimalkan HOTS. Namun, bagi mereka yang sanggup memaksimalkan HOTS, harusnya tidak menjadi masalah, bahkan bisa menjadi alat bantu bekerja untuk produktivitas dan kinerja yang lebih tinggi lagi. Dengan demikian saatnya mengasah kemampuan HOTS kita sejak dari anak-anak. Jangan lagi jejali anak-anak kita dengan hanya sekadar menghafal, melainkan sampai dengan mengembangkan kemampuan HOTS yan tentu saja disesuaikan dengan perkembangan mereka. Kita membutuhkan perubahan dalam prosess belajar-mengajar dengan menekankan kepada mengasah kemampuan HOTS kepada murid, pelajar, dan mahasiswa,” katanya.
Penyair, pegiat literasi, yang juga Ketua Panitia Kolong Art Fies 2023, Jimmy S. Johansyah mengatakan, Komunitas Koloni Seniman Ngopi Semeja Depok tidak hanya sekadar mengadakan acara pentas baca puisi, teater, musik, dan kesenian, melainkan juga lomba melukis dan baca puisi untuk anak-anak serta lagu untuk para remaja atau pelajar di wilayah Depok. Kemudian untuk menambah wawasan dan pengetahuan, maka panitia meminta kesediaan Riri Satria yang pakar teknologi digital sekaligus penyair untuk memberikan orasi budaya tentang kecerdasan buatan dalam perspetif kemanusiaan.
“Komunitas Koloni Seniman Ngopi Semeja Depok ingin menjadi penggiat kesenian di Kota Depok serta memberikan manfaat nyata dalam berkesenian kepada masyarakat sekitar,” kata Jimmy S. Johansyah.
Sementara penyair Muhammad Ibrahim Ilyas yang juga Panitia Kolong Art Fies 2023 mengatakan, “Inilah uniknya Riri Satria, dia bisa masuk ke strata sosial dan lingkungan sosial mana pun. Kami pun tidak ragu untuk mengundangnya ke acara ini.”
Hal senada juga disampaikan penyair dan penulis Rissa Churria yang bertugas sebagai pembawa acara malam itu.
“Bang Riri Satria itu bisa tampil sebagai narasumber di depan para eksekutif puncak korporat di sebuah resort bintang lima di Bali sampai dengan pengelola UMKM di berbagai kabupaten di pelosok Indonesia, memberi kuliah di depan para mahasiswa pascasarjana di universitas top di Indonesia sampai dengan perguruan tinggi di kota-kota kecil, jadi pembicara di depan para ilmuwan pada sebuah konferensi internasional sampai dengan seminar yang diselenggarakan mahasiswa di kampus, serta di depan para pejabat di berbagai instansi pemerintahan sampai dengan para seniman yang berkumpul di kolong flyover ini. Itulah sosok Bang Riri Satria yang saya kenal. Dia tak akan menolak jika memang waktunya pas, dan persiapannya sama seriusnya. Lihat saja untuk malam ini, Bang Riri menyiapkan makalahnya dengan serius, baik isi maupun kemasannya,” ungkap Rissa.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970 adalah Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) Pimpinan Umum Jurnal Sastra Daring Sastramedia, serta Penasihat Majalah Digital elipsis. Puisinya sudah diterbitkan dalam empat buku kumpulan puisi tunggal: Jendela (2016), Winter in Paris (2017), Siluet, Senja, dan Jingga (2019), Metaverse (2022), serta buku puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul Algoritma Kesunyian (2023).
Di samping itu, puisinya juga dipublikasikan pada lebih dari 70 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya. Riri Satria menulis esai di berbagai media dan sudah diterbitkan dalam lima buku kumpulan esai dengan topik beragam: sains dan matematika, teknologi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, sosial budaya, serta sastra terutama puisi.
Sehari-hari Riri Satria adalah Dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Komisaris pada sebuah BUMN, Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI), di samping sebagai penasihat ahli di berbagai perusahaan dan instansi pemerintahan di Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]