Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • BERBEDA PENDAPAT DENGAN DOSEN ADALAH BAGIAN DARI BERPIKIR KRITIS

    27 Oct 2026 | Dilihat: 29 kali

    oleh Riri Satria

    Saya selalu menyampaikan kepada mahasiswa saya bahwa mereka tidak harus selalu sependapat dengan saya. Mereka memiliki kebebasan untuk mendebat pemikiran saya, mengajukan perspektif alternatif, bahkan membangun argumentasi yang berlawanan dengan apa yang saya sampaikan di ruang kelas.

    Bagi saya, perbedaan pendapat bukanlah sesuatu yang harus dihindari, apalagi dianggap sebagai bentuk ketidakpatuhan kepada dosen. Justru, saya ingin mahasiswa memiliki keberanian intelektual untuk mempertanyakan sesuatu, termasuk pemikiran yang datang dari seseorang yang secara struktural berada di posisi dosen mereka.

    Tentu saja, kebebasan itu harus disertai dengan argumentasi yang kuat, logika yang runtut, dan landasan scientific inquiry yang dapat dipertanggungjawabkan.

    Inilah yang saya maksud dengan critical thinking atau berpikir kritis.

    Berpikir kritis bukan sekadar kemampuan menemukan kelemahan dalam pemikiran orang lain, apalagi membantah sesuatu hanya demi menunjukkan bahwa kita berbeda. Berpikir kritis adalah kemampuan menguji asumsi, mempertanyakan premis, mengevaluasi bukti, menimbang berbagai perspektif, serta menarik kesimpulan melalui proses penalaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

    Seseorang boleh saja berbeda pendapat dengan saya, tetapi ia harus mampu menjelaskan mengapa ia berbeda, apa dasar pemikirannya, bukti apa yang mendukung pandangannya, dan bagaimana ia sampai pada kesimpulan tersebut.

    Saya tidak menuntut mahasiswa untuk mengikuti jalan berpikir saya. Saya justru menuntut mereka untuk membangun jalan berpikirnya sendiri, tanpa kehilangan disiplin intelektual dan tanggung jawab ilmiahnya.

    Bagi saya, ruang kelas seharusnya menjadi ruang dialektika, tempat berbagai gagasan bertemu, diuji, dipertanyakan, dan dikembangkan. Dosen bukanlah pemilik kebenaran mutlak yang pemikirannya harus diterima tanpa pemeriksaan. Dosen memang memiliki tanggung jawab akademik, pengalaman, dan pengetahuan yang perlu dibagikan, tetapi semua itu tidak membuat setiap pendapatnya kebal terhadap kritik.

    Bahkan, ketika seorang mahasiswa mampu menunjukkan kelemahan dalam argumentasi dosennya melalui penalaran dan bukti yang kuat, di situlah proses pembelajaran menemukan maknanya yang sesungguhnya. Dosen pun harus bersedia menguji kembali pemikirannya sendiri.

    Sebab, dalam tradisi ilmiah, kualitas sebuah gagasan tidak ditentukan oleh siapa yang mengemukakannya, melainkan oleh kekuatan argumentasi, ketepatan metode, dan bukti yang mendukungnya. Tentu, ini tidak berarti semua pendapat memiliki bobot yang sama, sebab setiap klaim tetap harus diuji berdasarkan kualitas bukti dan metode yang digunakan.

    Saya kira, inilah salah satu fondasi penting bagi peradaban yang sehat, yaitu kesediaan untuk hidup bersama dalam perbedaan pemikiran. Kita tidak boleh terjebak dalam struktur hierarki yang membuat seseorang merasa pendapatnya pasti benar hanya karena ia memiliki jabatan, gelar akademik, kekuasaan, atau posisi yang lebih tinggi. Hierarki mungkin diperlukan dalam organisasi untuk membagi tanggung jawab dan kewenangan, tetapi hierarki tidak boleh menjadi penentu kebenaran ilmiah. Dalam dunia ilmu pengetahuan, yang harus kita kedepankan adalah keterbukaan terhadap kritik, ketelitian dalam memeriksa bukti, dan keberanian untuk merevisi kesimpulan ketika ditemukan alasan yang lebih kuat.

    Peradaban tumbuh bukan karena semua orang berpikir seragam, melainkan karena manusia mampu mempertemukan perbedaan melalui dialog yang rasional dan bertanggung jawab.

    Karena itu, saya selalu ingin mahasiswa saya memahami satu hal: jangan pernah takut berbeda pendapat dengan dosen, tetapi jangan pula merasa cukup hanya dengan menjadi berbeda. Perbedaan harus memiliki dasar pemikiran yang jelas, argumentasi yang kuat, logika yang konsisten, serta landasan scientific inquiry yang dapat diuji.

    Saya tidak membutuhkan mahasiswa yang sekadar mengamini pemikiran saya. Saya membutuhkan mahasiswa yang berani berpikir, mampu menguji gagasan, bersedia mendengarkan pandangan yang berbeda, dan tidak malu mengoreksi dirinya sendiri ketika berhadapan dengan bukti yang lebih kuat.

    Pada akhirnya, keberhasilan seorang dosen bukan hanya terlihat dari seberapa banyak mahasiswa yang memahami apa yang diajarkannya, melainkan juga dari seberapa jauh mahasiswa mampu mengembangkan pemikirannya sendiri, bahkan melampaui pemikiran dosennya. Sebab, pendidikan bukanlah proses mencetak orang-orang yang seragam dalam berpikir.

    Pendidikan adalah proses membangun manusia yang merdeka secara intelektual, tetapi tetap disiplin dalam bernalar; berani berbeda, tetapi tidak sembarangan menyimpulkan; terbuka terhadap berbagai kemungkinan, tetapi tetap berpijak pada metode ilmiah.

    Di situlah berpikir kritis menemukan maknanya: bukan dalam keseragaman pendapat, melainkan dalam kebebasan berpikir yang disertai tanggung jawab ilmiah.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    Hari ini pas Hari Pelindo 1 Oktober, Paltform Digital Adhara resmi dipergunakan

    HAPPY 14 ANNIVERSARY Pelindo Solusi Digital - PSD

    Next Event: Cultural Resilience Conference 2026

    Recent Event: The 3rd Annual OSH Asia’s Summit 2026

    Riri Satria On Big Thinkers Podcast

    video
    play-sharp-fill

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture