Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Akhir-akhir ini saya mencoba kembali membuka lembaran perjalanan yang pernah saya jalani. Ada begitu banyak tempat yang pernah saya datangi, tetapi sebagian hanya tersimpan dalam foto, potongan ingatan, atau percakapan singkat yang kemudian berlalu begitu saja. Karena itu, saya mulai mengumpulkan dan menyusun kembali berbagai catatan perjalanan tersebut.
Saya ingin mengingat bukan hanya tempatnya, tetapi juga suasana, pengalaman, dan cerita yang saya temukan di balik setiap perjalanan. Pantai Base-G di Jayapura adalah salah satu catatan yang kembali saya buka.
Beberapa waktu lalu saya pernah mengunjungi pantai ini. Namanya cukup unik, Base-G. Saya penasaran dengan namanya, Base-G. Nama itu terasa tidak lazim untuk sebuah pantai.
Biasanya sebuah pantai memiliki nama yang berkaitan dengan alam, letak geografis, legenda setempat, nama tokoh, atau istilah dalam bahasa daerah. Tetapi Base-G terdengar seperti nama sebuah tempat militer, sebuah kode, atau mungkin nama sebuah pangkalan.
Saya pun sempat bertanya-tanya dalam hati, mengapa sebuah pantai di Jayapura diberi nama Base-G? Ada cerita apa di balik nama yang terdengar seperti kode itu?
Rasa penasaran itulah yang kemudian membawa saya kepada sejarah tempat ini. Pantai yang juga dikenal sebagai Tanjung Ria ini berada sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Jayapura, Papua. Ketika pertama kali melihatnya, perhatian saya tentu tertuju pada bentang alamnya. Laut biru terbuka luas di hadapan mata, pepohonan kelapa tumbuh di sepanjang tepian, dan angin dari Samudra Pasifik berembus dengan bebas. Ada sesuatu yang terasa lapang di sana. Seolah-olah tidak ada batas antara laut, langit, dan cakrawala.
Sebagai seorang yang sedang melakukan perjalanan, saya tentu menikmati suasana itu. Saya memandang laut, menikmati angin, dan mengabadikan beberapa momen.
Nama Base-G berkaitan dengan kawasan pangkalan Sekutu di Hollandia, nama Jayapura pada masa itu. Pada 1944, wilayah ini menjadi salah satu titik strategis dalam perang di kawasan Pasifik. Pada 22 April 1944, pasukan Amerika Serikat melakukan pendaratan besar di Hollandia dalam sebuah operasi yang dikenal sebagai Operation Reckless. Operasi tersebut merupakan bagian dari strategi Sekutu di bawah komando Jenderal Douglas MacArthur untuk menguasai titik-titik strategis di New Guinea.
Membaca kembali sejarah itu membuat saya membayangkan Pantai Base-G dengan suasana yang sama sekali berbeda.
Di tempat yang sekarang dipenuhi suara ombak dan angin, dahulu berlangsung aktivitas militer yang sangat besar. Kapal-kapal datang dan pergi. Pesawat memenuhi udara. Tentara dan perlengkapan perang didatangkan dalam jumlah besar. Hollandia kemudian berkembang menjadi pangkalan maju Sekutu, lengkap dengan berbagai fasilitas udara, laut, logistik, komunikasi, dan komando.
Dari kawasan inilah kekuatan Sekutu kemudian bergerak semakin jauh ke arah barat. Markas MacArthur berada di kawasan sekitar Danau Sentani, sementara Hollandia menjadi salah satu basis penting dalam rangkaian operasi menuju Filipina. Pada Oktober 1944, pasukan MacArthur mendarat di Leyte, sebuah tahapan penting dalam upaya merebut kembali Filipina dari Jepang.
Tetapi semua itu sekarang terasa begitu jauh. Ketika berdiri di Pantai Base-G, sulit membayangkan bahwa tempat ini pernah menjadi bagian dari salah satu episode besar perang di kawasan Pasifik.
Justru yang tampak di hadapan saya hanyalah laut yang tenang. Pohon-pohon kelapa bergerak perlahan diterpa angin. Cahaya matahari jatuh di permukaan air. Orang-orang datang bukan dengan senjata, melainkan dengan keluarga, kamera, dan keinginan sederhana untuk menikmati pantai.
Waktu ternyata mempunyai cara sendiri untuk mengubah wajah sebuah tempat. Sebuah kawasan yang pernah menjadi bagian dari strategi perang kini menjadi tempat rekreasi. Laut yang dahulu mungkin dilalui kapal-kapal militer kini menjadi tempat orang memandang matahari dan menikmati deburan ombak. Tanah yang pernah menjadi bagian dari pangkalan perang kini diinjak oleh wisatawan yang datang untuk mencari ketenangan.
Saya menyukai paradoks semacam ini. Sejarah manusia sering kali meninggalkan luka, sementara alam terus berjalan dengan tenang. Perang berakhir, tentara pulang, pangkalan ditinggalkan, tetapi laut tetap mengirimkan ombaknya ke pantai. Pohon-pohon kembali tumbuh. Angin tetap berembus dari Pasifik. Generasi berganti, dan tempat yang dahulu memiliki fungsi militer akhirnya menemukan kehidupan baru sebagai ruang rekreasi.
Mungkin karena itulah saya semakin menikmati perjalanan ketika sebuah tempat memiliki cerita di belakangnya. Keindahan alam menjadi lebih dalam ketika kita mengetahui sejarah yang pernah berlangsung di sana. Kita tidak hanya melihat laut sebagai laut, tetapi juga melihatnya sebagai saksi perjalanan waktu.
Foto yang saya ambil di Base-G pun kemudian terasa memiliki makna berbeda. Dalam foto itu mungkin hanya terlihat pantai, laut, pepohonan, dan seseorang yang sedang menikmati suasana. Tidak ada tanda-tanda perang. Tidak ada gambaran tentang MacArthur atau pasukan Sekutu. Tetapi di balik lanskap yang tenang itu terdapat sebuah sejarah besar yang pernah berlangsung di tanah yang sama.
Itulah salah satu alasan saya sekarang kembali menyusun catatan-catatan perjalanan. Saya ingin mengingat tempat-tempat yang pernah saya datangi bukan sekadar melalui koordinat geografis atau foto yang tersimpan di komputer. Saya ingin mengingat suasana dan cerita yang menyertainya. Sebab sebuah perjalanan sesungguhnya tidak berhenti ketika kita meninggalkan tempat tersebut. Ia terus hidup dalam ingatan dan kadang-kadang baru menemukan maknanya bertahun-tahun kemudian.
Base-G mengajarkan hal sederhana kepada saya: sebuah tempat selalu memiliki lebih dari satu kehidupan. Ia pernah menjadi bagian dari perang. Ia pernah menjadi pangkalan militer. Dan kini ia menjadi pantai yang dikunjungi orang untuk menikmati keindahan Papua.
Dahulu manusia datang ke tempat itu dengan kepentingan perang. Hari ini kita datang dengan kamera. Dahulu orang memandang Pasifik sebagai bagian dari medan pertempuran. Kini kita memandangnya sebagai hamparan biru yang menenangkan.
Tanpa kita sadari, perubahan itu adalah salah satu kemenangan terbesar waktu: sebuah tempat yang pernah menjadi bagian dari peperangan akhirnya dapat kembali menjadi ruang bagi manusia untuk menikmati kedamaian.
Itulah yang saya ingat dari Pantai Base-G di Jayapura. Bukan hanya keindahan lautnya, tetapi juga kesadaran bahwa di balik pantai yang tenang selalu mungkin tersimpan cerita yang panjang.
Ketika sebuah perjalanan kita tuliskan kembali, tempat itu seperti memperoleh kehidupan keduanya, kali ini bukan sebagai medan perang, melainkan sebagai kenangan perjalanan yang layak diceritakan.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]