Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • KOPI LUWAK: ANTARA SECANGKIR KOPI, BUDAYA, DAN SEBUAH CERITA

    07 Sep 2026 | Dilihat: 12 kali

    oleh: Riri Satria

    Ada sesuatu yang unik dari kopi luwak. Ia mungkin salah satu jenis kopi yang paling banyak mengundang rasa ingin tahu sekaligus rasa ragu. Harganya bisa jauh lebih mahal daripada kopi pada umumnya, terutama jika berasal dari sumber yang terpercaya dan diproduksi dengan proses yang baik.

    Di pasaran, kopi luwak dalam bentuk biji atau bubuk dapat mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah per kilogram, sementara secangkirnya di tempat tertentu juga dapat dihargai puluhan hingga ratusan ribu rupiah.

    Nah, yang kita bayar sesungguhnya bukan hanya kopi di dalam cangkir, tetapi juga kelangkaan, proses produksi, cerita, reputasi, dan pengalaman. Buah kopi yang matang dimakan oleh luwak, kemudian bijinya keluar bersama kotoran, dikumpulkan, dibersihkan, dikeringkan, disortir, lalu disangrai dan diolah menjadi kopi.

    Sebuah proses yang, jika dipikir-pikir, memang agak tidak biasa untuk menghasilkan sesuatu yang justru dianggap mewah.

    Saya jadi teringat beberapa waktu lalu ketika berbincang dengan seorang kolega dari Kanada. Kami sama-sama menjadi pembicara dalam sebuah konferensi di Bali. Ia ternyata sangat curious, penuh pertanyaan tentang kopi luwak. Saya pun menjelaskan bagaimana kopi itu diproduksi, dari buah kopi yang dimakan luwak hingga bijinya keluar, dibersihkan, dan akhirnya menjadi minuman.

    Setelah mengetahui proses tersebut, ia langsung bergidik. Saya kemudian bertanya, “Masih mau minum kopi luwak?” Ia hanya mengangkat bahu. Saya tersenyum. Memang ada sesuatu yang menarik dalam hubungan manusia dengan makanan dan minuman. Kita sering menikmati sesuatu ketika hanya mengetahui hasil akhirnya.

    Tetapi ketika prosesnya dijelaskan secara lengkap, persepsi kita bisa berubah. Sesuatu yang semula terasa nikmat tiba-tiba menjadi sedikit kurang menggugah selera. Mungkin kadang-kadang kita memang lebih nyaman tidak terlalu mengetahui proses di balik sesuatu yang kita nikmati.

    Tetapi pengalaman saya justru berbeda ketika mengunjungi sentra kopi luwak di Alas Harum, Kintamani, Bali, bersama Mbak Nunung Noor El Niel, Shantined, dan Rissa Churria. Kami dijelaskan proses pembuatan kopi luwak dari A sampai Z. Mulai dari buah kopi, bagaimana luwak memakannya, bagaimana bijinya kemudian dikumpulkan, dibersihkan, dikeringkan, diproses, disangrai, hingga akhirnya menjadi secangkir kopi yang siap dinikmati.

    “Oh, memang begitulah prosesnya.” Ada sesuatu yang natural ketika kita melihatnya secara langsung dan memahami konteksnya. Kita melihatnya sebagai “kopi sebagai sebuah proses pertanian” dan pengolahan yang memiliki sejarah, pengetahuan, keterampilan, serta kebudayaan di belakangnya.

    Di situlah saya melihat bahwa kopi luwak di Bali bukan semata-mata persoalan minuman. Di Alas Harum, misalnya, proses produksi kopi telah menjadi bagian dari pengalaman agrowisata. Orang datang bukan hanya untuk membeli atau meminum kopi, tetapi untuk melihat kebun, mengenal tanaman kopi, memahami proses pengolahan, melihat luwak, mencicipi berbagai jenis kopi, dan tentu saja menikmati suasana Bali.

    Sebuah proses produksi yang sesungguhnya sangat sederhana kemudian berubah menjadi pengalaman budaya dan ekonomi. Inilah salah satu kemampuan Bali yang menurut saya luar biasa, mengubah sesuatu yang sehari-hari menjadi pengalaman yang memiliki nilai. Kopi bukan lagi sekadar komoditas, melainkan cerita tentang alam, manusia, tradisi, dan kehidupan.

    Pada akhirnya, saya kira tidak selalu benar bahwa kita harus memilih antara mengetahui proses atau menikmati hasilnya. Justru dengan mengetahui prosesnya, kita bisa semakin menghargai apa yang ada di dalam cangkir. Memang, bagi sebagian orang, cerita tentang bagaimana kopi luwak diproduksi mungkin membuat mereka bergidik, seperti kolega saya dari Kanada tadi.

    Tetapi bagi sebagian yang lain, seperti pengalaman saya di Alas Harum bersama Mbak Nunung, Shanti, dan Rissa, pengetahuan itu justru melahirkan rasa ingin tahu dan penghargaan. Tentu, proses produksi juga harus memperhatikan kesejahteraan luwak dan tidak menjadikan satwa sebagai korban demi sebuah komoditas premium.

    Pada akhirnya, kopi luwak bukan hanya tentang rasa. Ia adalah pertemuan antara alam, manusia, hewan, sejarah, budaya, ekonomi, dan pariwisata. Mungkin itulah yang membuat secangkir kopi luwak menjadi menarik, kadang-kadang sesuatu yang kita kira hanya minuman ternyata menyimpan sebuah cerita panjang di belakangnya.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    Recent Event: Medan, 28 Agustus 2026

    Recent Event: The 3rd Annual OSH Asia’s Summit 2026

    Riri Satria On Big Thinkers Podcast

    video
    play-sharp-fill

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture